Pertemuan Jeddah: Saudi-Iran dan Imajinasi Rekonsiliasi Dunia Islam
Pertemuan diplomatik bersejarah antara Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman (MBS), dan Presiden Iran di Jeddah, Juli 2025, menjadi sorotan dunia. Digelar hanya dua minggu setelah gencatan senjata Israel-Iran, momen ini menandai pergeseran besar dalam dinamika kawasan. Dua kutub utama dunia Islam yang selama puluhan tahun terlibat dalam perang proksi dan retorika sektarian akhirnya duduk bersama membicarakan perdamaian.
Dari Jeddah, imajinasi publik segera melambung ke Muscat, ibu kota Oman. Kota simbol netralitas dan dialog kawasan. Oman dikenal menjaga hubungan baik dengan semua pihak, dan Muscat telah beberapa kali menjadi lokasi diplomasi senyap, termasuk awal perundingan nuklir Iran-AS pada 2013. Dalam konteks ini, Deklarasi Muscat menjadi bayangan harapan akan hadirnya tatanan baru perdamaian Intra-Islam berbasis kesetaraan dan saling percaya.
Dalam skenario imajiner itu, pertemuan
lanjutan antara Saudi dan Iran di Muscat menghasilkan inisiatif pembentukan Dewan
Keamanan Regional Islam, semacam forum permanen yang berfungsi
sebagai penengah konflik dan penjaga stabilitas kawasan. Bukan aliansi militer
seperti NATO, tapi semacam ASEAN untuk dunia Muslim. Forum ini membuka ruang
dialog lintas mazhab, menghindari adu kekuasaan, dan meminimalkan intervensi
asing.
Kedua negara juga sepakat bahwa energi umat
Islam telah terlalu lama tersedot dalam konflik horizontal. Saudi mengusulkan
perlindungan minoritas Sunni di kawasan mayoritas Syiah, sementara Iran
menuntut penghormatan terhadap komunitas Syiah di kawasan Sunni. Dalam atmosfer
yang belum pernah terjadi sebelumnya, pembicaraan bergeser dari sekat ideologis
menuju pencarian kepentingan bersama; perdamaian, stabilitas, dan pembangunan
ekonomi kawasan.
Yaman: Titik Awal yang Konkret
Yaman dijadikan uji coba konkret dari semangat
rekonsiliasi ini. Iran menyatakan kesediaan menarik dukungan militer kepada
kelompok Houthi, dan Saudi berkomitmen mencabut blokade serta memfasilitasi
transisi politik damai. Jika tercapai, ini akan menjadi preseden penting untuk
konflik serupa seperti Suriah dan Lebanon yang selama ini menjadi ladang
pertarungan pengaruh antara Riyadh dan Teheran.
Lebih dari itu, stabilitas di Yaman membuka
peluang integrasi ekonomi regional, dari pelabuhan Chabahar di Iran hingga
Jeddah dan Djibouti. Jalur logistik dan energi yang selama ini tersumbat oleh
konflik kini terbuka kembali. Inilah arah baru geopolitik Islam, menanggalkan perbedaan menuju pembangunan dan
keadilan yang dinikmati bersama seluruh dunia Islam.
Indonesia Sebagai Jembatan
Dalam skenario ini, Indonesia punya peluang
besar untuk mengambil peran strategis, sebagai negara Muslim terbesar di dunia
dan pemegang prinsip non-blok, Indonesia bisa menjadi fasilitator dialog antar-mazhab
dan antar-negara. Bahkan, jika inisiatif Deklarasi Muscat benar-benar
diadopsi, Indonesia layak menjadi tuan rumah “Konferensi Rekonsiliasi Islam
Global”. Dengan hubungan baik ke semua pihak Saudi, Iran, bahkan Israel dan
Palestina, Indonesia memiliki modal diplomatik yang langka. Dukungan dari
negara-negara seperti Turki, Qatar, dan Mesir akan memperkuat legitimasi
inisiatif ini.
Imajinasi sebagai Awal Solusi
Apakah ini terlalu utopis? Mungkin. Tapi
sejarah perubahan besar selalu dimulai dari imajinasi, tentang dunia yang bisa
bekerja sama meski berbeda. Seperti Eropa yang membangun Uni Eropa setelah dua kali
perang dunia, dunia Islam pun bisa menempuh jalan serupa jika ada keberanian
politik untuk melampaui luka sejarah.
Dunia mungkin belum menyaksikan pertemuan
seperti ini dalam waktu dekat, namun membayangkannya saja sudah merupakan
langkah strategis. Imajinasi diplomasi adalah awal dari keberanian untuk
mewujudkannya.
Posting Komentar