Melawan WHO: Perjuangan Siti Fadilah Supari dari Indonesia untuk Dunia
Red: Pandemi akan datang lagi
Di tengah ketimpangan sistem kesehatan global, Dr. Siti Fadilah Supari muncul sebagai salah satu suara paling vokal dari negara berkembang. Mantan Menteri Kesehatan RI era SBY ini dikenal luas karena keberaniannya menantang otoritas kesehatan dunia WHO, khususnya dalam konteks penanganan virus flu burung (H5N1) dan perjuangannya untuk kedaulatan data biologis Indonesia.
Menantang WHO: Ketika Indonesia Bicara Keadilan Global
Nama Siti Fadilah mulai dikenal dunia internasional ketika secara terbuka menolak sistem pembagian virus flu burung yang diterapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam sistem tersebut, negara-negara terdampak diwajibkan mengirimkan sampel virus H5N1 ke laboratorium rujukan WHO yang mayoritas berada di negara-negara maju.
Siti menilai sistem itu sarat ketimpangan. Ia menuduh data virus dari negara berkembang dimanfaatkan oleh negara-negara kaya, khususnya Amerika Serikat, untuk mengembangkan vaksin yang hasilnya kemudian dijual mahal dan tidak bisa diakses oleh negara asal virus. Menurutnya praktik ini adalah bentuk biopiracy (pembajakan sumber daya hayati) tanpa kompensasi yang adil.
Buku yang Menggetarkan WHO dan Dunia Barat
Pada 2008, Siti menerbitkan buku berjudul It’s Time for the World to Change: In the Spirit of Dignity, Equity and Transparency – A Developing Country’s Contribution to the Reform of Global Health. Buku ini menjadi kontroversial karena secara gamblang mengkritik WHO dan menuduh adanya kerja sama tersembunyi antara lembaga-lembaga kesehatan dunia dengan militer serta industri farmasi negara-negara Barat.
Buku ini bahkan sempat dilarang beredar di beberapa negara. Namun di dunia selatan, terutama negara-negara berkembang, banyak yang menyambutnya sebagai suara kebenaran dari dunia yang kerap dimarginalkan.
"Kami bukan kelinci percobaan. Kami bukan koloni kesehatan dari negara-negara maju," tulisnya tegas dalam buku tersebut.
Menutup Laboratorium Militer Asing di Jakarta
Siti juga dikenal karena tindakannya menutup operasional NAMRU-2 (Naval Medical Research Unit 2), laboratorium biologi milik Angkatan Laut Amerika Serikat yang telah lama beroperasi di Jakarta sejak era Orde Baru.
Ia menilai keberadaan laboratorium itu rawan menimbulkan risiko terhadap kedaulatan nasional, terutama dalam hal penguasaan data penyakit menular dan potensi eksploitasi virus lokal oleh pihak asing. Penutupan NAMRU-2 menjadi simbol ketegasannya dalam melindungi kedaulatan data biologis Indonesia.
Tuduhan, Penjara, dan Keteguhan Hati
Tak ada perjuangan tanpa resiko, Pada 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Fadila sebagai tersangka dalam kasus pengadaan alat kesehatan dan dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Masih dalam rumah tahanan, dengan penuh senyum menjawab Dedy Corbuzer 2020, resiko perjuangan tanpa mengatakan kriminalisasi oleh siapapun.
Hingga kini, banyak kalangan dari berbagai belahan dunia tetap memandangnya sebagai pelopor keberanian dari dunia ketiga. Selama pandemi COVID-19, ia kembali bersuara di berbagai media, mengkritisi narasi resmi dan menekankan pentingnya kedaulatan medis dalam menghadapi pandemi global.
"Saya menghentikan pandemi flu burung bukan dengan vaksin, tetapi dengan keputusan politik global," ujarnya.
Warisan yang Tak Padam
Warisan Siti Fadilah Supari bukan hanya tentang konflik dengan WHO atau penutupan laboratorium asing. Warisannya adalah keberanian untuk berbicara dari posisi yang sering dianggap inferior dalam diplomasi global. Ia memperjuangkan prinsip bahwa negara-negara berkembang memiliki hak penuh atas data biologis mereka sendiri, dan bahwa kedaulatan bukan urusan teritorial semata, tetapi juga menyangkut mikroba, virus, dan informasi genetik.
Di era ketika data penduduk menjadi kekuatan baru dan vaksin menjadi komoditas geopolitik, keberanian Siti mengingatkan kita bahwa suara dari dunia selatan tetap penting dan bahwa seorang perempuan dari Indonesia pernah berdiri di tengah forum PBB, menantang sistem global, tidak gentar sedikit pun dan dunia memenangkannya.

Posting Komentar