Yusya’ bin Nun (Josua) : Murid Nabi Musa a.s Penakluk Tanah Suci Kanaan

Table of Contents

Ketika nabi Musa as wafat di Padang Gurun Tih, setelah empat puluh tahun membimbing umat yang keras kepala (bani Israel), selanjutnya tongkat estafet kenabian jatuh ke tangan seorang pemuda bernama “Yusya’ bin Nun”. Ia  meneruskan risalah perjuangan nabi Musa as secara spiritual dan kepemimpin militer yang kemudian berhasil menuntaskan misi besarnya, yakni menaklukkan dan menduduki “Tanah Suci Kanaan”, yang gagal diwujudkan oleh generasi Bani Israel sebelumnya.

Murid Setia Nabi Musa

"Yusya’ bin Nun as", berasal dari keturunan Nabi Yusuf as, tepatnya dari suku Efraim. Dalam Al-Qur’an, namanya tidak disebutkan secara eksplisit, namun banyak ulama tafsir menyepakati bahwa dialah "pemuda" yang menemani Nabi Musa dalam pencarian Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi/18:60–65).

Dalam hadis nabi Muhammad saw, ia disebut secara jelas oleh Rasulullah sebagai pemimpin yang diberikan keistimewaan luar biasa.

"Matahari tidak pernah tertahan bagi seorang manusia kecuali bagi Yusya’ bin Nun as, ketika ia ingin menyerang suatu negeri pada hari Jumat menjelang malam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menembus Kebuntuan Generasi Tersesat

Setelah Allah menghukum Bani Israil karena enggan memasuki Tanah Suci (QS. Al-Ma’idah: 20–26), mereka terombang-ambing di padang pasir selama empat dekade. Musa wafat tanpa sempat melihat negeri yang dijanjikan (kanaan). Maka generasi baru pun tumbuh, generasi yang tidak hidup sebagai budak di Mesir (masa Firaun berkuasa), tapi sebagai mereka umat yang dibentuk langsung di tengah ujian gurun.

"Yusya’ Bin nun" as bersama "Kalib bin Yufanna", adalah dua orang yang tetap beriman dan percaya kepada janji Allah saat generasi lama memilih ketakutan.

“Serbulah mereka melalui pintu gerbang (kota), dan apabila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang”. (QS. Al-Ma’idah/5:23)

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

23. Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang keduanya telah diberi nikmat oleh Allah, “Masukilah pintu gerbang negeri itu untuk (menyerang) mereka (penduduk Kanaan). Jika kamu memasukinya, kamu pasti akan menang. Bertawakallah hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang mukmin.”

Pemimpin yang Menyelesaikan Misi Sejarah

Setelah wafatnya nabi Musa as dan Harun as "Yusya' bin Nun" diangkat sebagai pemimpin untuk menuntun "Bani Israil" menyeberangi Sungai Yordan kemudian memulai serangkaian pertempuran untuk menaklukkan kota-kota Kanaan. Salah satu kisah paling terkenal adalah penaklukan "Yerikho", kota yang dipagari dengan berbenteng yang sangat kuat. Namun benteng tembok itu runtuh secara ajaib.

Dalam literatur Yahudi dan Kristen (Kitab Yosua), kota itu dikepung dan dikelilingi selama tujuh hari, dan pada hari ketujuh, dengan tiupan sangkakala dan teriakan keras, tembok kota runtuh.

Meski Al-Qur’an tidak merinci pertempuran ini, Islam mengakui “Yusya’ bin Nun” sebagai nabi dan pemimpin yang menang berkat pertolongan langsung dari Allah swt. Bahkan, dalam salah satu perang, matahari ditahan agar tidak terbenam hingga kemenangan diraih, agar tidak melanggar larangan berperang di hari Sabat.

Dari Belakang Layar ke Garda Depan

Yusya’ bin Nun menggambarkan bahwa pemimpin besar tidak harus muncul dari figur yang dominan secara publik, tapi bisa tumbuh dari murid yang setia, tekun, dan beriman. Ia tidak pernah menonjol saat Musa as masih hidup. Tetapi ketika dibutuhkan, ia muncul dengan keberanian, ilmu dan strategi, serta kepemimpinan spiritual yang matang.

Ia juga membuktikan bahwa misi besar terkadang tidak selesai dalam satu generasi. Nabi Musa as yang menanamkan pondasi dan Yusya’ menyempurnakannya. Ada pelajaran penting di sini, bahwa transisi kepemimpinan ideal memerlukan regenerasi yang sehat, dan kesabaran menghadapi fase kegagalan.

Penutup

Kisah “Yusya’ bin Nun” patut direnungkan pada hari-hari ini, di tengah krisis kepemimpinan global dan kegamangan generasi muda, sejarah ini mengajarkan bahwa iman, keberanian, dan kesetiaan pada kebenaran adalah pilar yang mampu menggerakkan perubahan sejarah.

Jika hari ini kita merasa hidup dalam “padang Tih” yang tandus dan peradaban dunia yang kacau, mungkin kita sedang menunggu sosok seperti “Yusya’bin Nun” pemuda yang tidak hanya menghafal dan menghayati kebenaran, tapi juga siap melaksanakannya di medan nyata.

Kronologi singkat:

Siapa Yusya’ bin Nun?

  • Nasab: Yusya’ bin Nun bin Afrayim bin Yusuf. Ia adalah keturunan langsung dari Nabi Yusuf alaihis salam (as).
  • Kedudukan: Murid setia dan pembantu pribadi Nabi Musa. Ia disebutkan dalam riwayat sebagai pemuda yang menemani Musa saat mencari Nabi Khidir (QS. Al-Kahfi: 60-65).
  • Kenabian: Menurut banyak mufassir dan ulama, Yusya’ diangkat menjadi nabi setelah wafatnya Musa dan Harun.

Konteks Sejarah: Misi ke Tanah Suci

1. Perintah Musa untuk Memasuki Tanah Kanaan

Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 20-26, disebutkan bahwa Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Tanah Suci (Al-Ardh al-Muqaddasah/Kanaan), tapi mereka menolak karena takut terhadap penduduknya yang kuat dan bertubuh besar (diduga bangsa Kana’an atau Amalek).

"Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa. Kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya." (QS. Al-Ma’idah: 22)

2. Dua Orang yang Setia (Termasuk Yusya’)

Hanya dua orang dari Bani Israil yang menyatakan kesetiaan dan mendorong masuk ke negeri itu. Menurut tafsir Ibn Katsir dan beberapa hadis, mereka adalah:

  • Yusya’ bin Nun
  • Kalib bin Yufanna’

"Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut kepada Allah, yang telah dianugerahi Allah kepada keduanya (dari) mereka: 'Serbulah mereka melalui pintu gerbang...'” (QS. Al-Ma’idah: 23)

3. Akibat Penolakan Bani Israil

Karena penolakan mereka, Allah menghukum Bani Israil dengan tersesat di padang pasir selama 40 tahun (Tih). Selama masa ini, Musa dan Harun wafat sebelum Tanah Suci berhasil dimasuki.

Penaklukan Tanah Kanaan oleh Yusya’

1. Pemimpin Baru Bani Israil

Setelah wafatnya Musa dan Harun, Yusya’ memimpin generasi baru Bani Israil. Mereka lebih berani dan tidak penakut seperti generasi sebelumnya.

2. Peristiwa Penaklukan

Menurut berbagai riwayat dan sumber sejarah:

  • Yusya’ memimpin serangan ke kota-kota Kanaan, termasuk Yerikho.
  • Dalam sebuah hadis shahih dari Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda bahwa matahari pernah ditahan (tidak terbenam) untuk Yusya’, agar ia bisa menyelesaikan perangnya sebelum hari Sabtu (karena larangan berperang di hari Sabat).

"Sesungguhnya matahari tidak pernah tertahan bagi seorang manusia kecuali bagi Yusya’ bin Nun ketika ia ingin menyerang suatu negeri pada hari Jumat menjelang malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Pembagian Wilayah

Setelah menaklukkan Kanaan, Yusya’ membagi tanah tersebut kepada 12 suku Bani Israil, sesuai nasab mereka dari anak-anak Ya’qub.

Dalam Literatur dan Sumber Tambahan

  • Dalam Alkitab (Kitab Yosua): Ia disebut sebagai Joshua, dan digambarkan menaklukkan Yerikho dengan keajaiban runtuhnya tembok kota setelah mengelilinginya selama 7 hari.
  • Dalam Tafsir dan Sirah Islam:
    • Banyak disebut dalam tafsir Ibn Katsir, Ath-Thabari, dan Qurtubi sebagai nabi dan pemimpin yang saleh.
    • Sebagian ulama mengaitkan kisahnya dengan makna ketaatan, keberanian, dan iman yang murni, berbeda dari generasi sebelumnya.

Referensi:

  1. Al-Qur’an, Surah Al-Ma’idah: 20–26; Surah Al-Kahfi: 60–65
  2. Shahih Bukhari dan Muslim – hadis tentang matahari tertahan untuk Yusya’
  3. Tafsir Ibn Katsir, Al-Ma’idah ayat 23
  4. Kitab Yosua dalam Perjanjian Lama (Bible)
  5. Al-Tha’labi, Qashash al-Anbiya’
  6. Al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk

Posting Komentar