Dari Kanaan ke Palestina : Jejak Nama Tanah yang Dijanjikan

Table of Contents
Dari Kanaan ke Palestina: Jejak Nama Tanah yang Dijanjikan

Tanah yang kini diperebutkan oleh Israel dan Palestina adalah sebidang wilayah di Timur Tengah yang telah lama dikenal sebagai “tanah yang dijanjikan” dalam tradisi Ibrahimik. Nama yang melekat pada tanah itu berubah seiring zaman : mula-mula bernama Kanaan, lalu Yehuda, kemudian Palestina hingga kini. Setiap nama itu bukan hanya lambang geografis, tetapi cerminan dari pergulatan identitas, agama, kekuasaan dan kolonialisme.

Kanaan : Nama Tanah yang Dijanjikan

Dalam Alkitab, sejak milenium ke-2 SM, tanah itu disebut Kanaan - meliputi wilayah yang kini masuk Israel, Palestina, Lebanon, sebagian Suriah, dan Yordania. Tuhan berfirman kepada Abraham : “Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu” (Kejadian 12:7).

Al-Qur’an juga menyebut wilayah itu sebagai al-ardh al-muqaddasah (tanah suci). Nabi Musa berkata kepada Bani Israil:

يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ
“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah Allah tetapkan bagimu” (QS al-Mā’idah [5]: 21).

Ayat lain menyebutnya al-ardh allati baraknā ḥaulahu (tanah yang diberkahi, QS al-Isrā’ [17]:1), dan bahkan diwariskan kepada Bani Israil setelah mereka selamat dari Mesir (QS al-A‘rāf [7]:137). Dengan demikian, baik dalam tradisi Yahudi, Kristen maupun Islam, Kanaan adalah tanah janji dan tanah berkah.

Namun, sebelum bangsa Ibrani hadir, tanah itu dihuni berbagai suku seperti Amori, Het, Yebus, dan Hivi. Mereka membentuk peradaban agraris yang kelak menjadi fondasi sosial sebelum masuknya tradisi monoteisme.

Yehuda : Identitas Yahudi

Sekitar 1000 SM, muncul Kerajaan Israel bersatu di bawah Saul, Daud, dan Salomo, dengan Yerusalem sebagai pusat politik dan spiritual. Setelah Salomo wafat, kerajaan pecah menjadi dua (2) : Israel di utara, Yehuda di selatan.

Nama Yehuda (Judea) kemudian melekat sebagai identitas etnis sekaligus agama bangsa Yahudi. Di sinilah lahir keyakinan akan Yerusalem sebagai pusat ibadah, dengan Bait Suci sebagai simbol hubungan langsung dengan Tuhan.

Palestina : Warisan Romawi

Ketika Romawi menjajah, kaum Yahudi memberontak melawan Romawi, terutama dalam Pemberontakan Bar Kokhba (132–135 M), kekalahan pahit menimpa Yahudi. Kemudian Kaisar Hadrian (Romawi) berupaya menghapus jejak Yahudi di tanah itu dengan mengganti nama provinsi Iudaea (Yehuda) menjadi Syria Palaestina. Nama “Palestina” berasal dari bangsa Filistin, musuh tradisional orang Yahudi.

Sejak saat itu, “Palestina” menjadi nama politis yang dipakai penguasa Romawi, dengan nama baru ini lambang identitas etnis atau agama yahudi hendak dimusnahkan. Nama Palestina bertahan sepanjang Kekuasaan Bizantium, kekhalifahan Islam, hingga kesultanan Utsmaniyah.

Palestina dalam Era Islam

Bagi umat Islam, Palestina punya kedudukan istimewa. Dari Masjidilharam di Mekkah, Nabi Muhammad melakukan Isra’ Mi‘raj menuju Masjid al-Aqsa di Yerusalem, “yang Kami berkahi sekelilingnya” (QS al-Isrā’ [17]:1). Sejak itu, tanah Palestina menjadi bagian integral dari imajinasi spiritual Islam.

Di bawah kekuasaan Islam Umayyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, hingga Utsmaniyah nama Palestina tetap digunakan dalam konteks administratif negara maupun geografis. Namun lebih dari itu, tanah ini dipandang sebagai wilayah penuh berkah, tanah para nabi, dan pintu menuju ke langit.

Dari Mandat Inggris ke Konflik Modern

Setelah Perang Dunia I, Palestina jatuh ke tangan Inggris melalui sistem mandat PBB. Pada 1948, berdirilah negara Israel, sementara rakyat Arab setempat menyebut diri mereka bangsa Palestina. Sejak itulah, nama Palestina tak lagi sebagai istilah geografis, tetapi menjadi simbol perjuangan, identitas, dan kemerdekaan.

Nama sebagai Cermin Identitas

Nama bukan hanya penanda tempat tapi juga adalah perebutan makna. Kanaan mewakili janji ilahi; Yehuda mewakili identitas Yahudi; Palestina mewakili perlawanan dan kelangsungan sejarah. Karena itu, konflik Israel–Palestina hari ini bukan hanya perebutan tanah, melainkan juga perebutan atas nama, atas siapa yang berhak menulis sejarah dan mengklaim warisan “tanah yang dijanjikan”.

📚 Referensi:
  • Al-Qur’an Terjemahan Kemenag RI
  • Alkitab, Kitab Kejadian dan Raja-Raja
  • Shlomo Sand, The Invention of the Jewish People (Verso, 2009)
  • Karen Armstrong, Jerusalem: One City, Three Faiths (Ballantine Books, 1996)
  • Encyclopaedia Judaica, entri “Palestine”
  • Jewish Virtual Library, “Judea under Roman Rule”
  • Encyclopaedia Britannica, entri “Palestine”

Posting Komentar