Irian Barat dan Freeport
Oleh: Mubha Kahar Muang
Kekalahan Jepang di Asia pada akhir Perang
Dunia II membuka peluang bagi Belanda untuk kembali menancapkan kekuasaannya di
Indonesia. Padahal, melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 23
Agustus - 2 November 1949, Belanda telah sepakat menyerahkan kedaulatan
sepenuhnya kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 30 Desember 1949.
Kedaulatan itu bersifat tanpa syarat, mencakup seluruh wilayah bekas Hindia
Belanda.
Namun Belanda mengingkari perjanjian tersebut.
Mereka menolak menyerahkan Irian Barat - sekarang Papua - dengan alasan wilayah
itu “berbeda” dan belum siap bergabung dengan Indonesia. Padahal alasan
sesungguhnya adalah kekayaan alam luar biasa yang tersimpan di pegunungan
Papua.
Penemuan Tambang oleh Dozy
Pada pertengahan 1936, seorang ahli geologi
Belanda bernama Jean Jacques Dozy yang bekerja di perusahaan minyak Nederlandsche
Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) melakukan ekspedisi di wilayah
Babo, Irian Barat. Ia mendengar kabar bahwa Jepang berencana menaklukkan Puncak
Cartensz—gunung tertinggi di Papua. Tak ingin kalah, Dozy bersama dua rekannya,
Anton Colijn dari Royal Dutch Shell dan Franz Wissel, seorang pilot angkatan
laut, segera menggelar ekspedisi ke wilayah tersebut.
Dengan bantuan 38 porter asal Kalimantan,
mereka mendaki hingga ketinggian 4.000 meter dan menemukan pegunungan batu yang
luar biasa kaya akan bijih mineral. Dozy menamai daerah itu Ertsberg, yang
berarti Gunung Bijih. Dua kilometer dari sana, ia menemukan pegunungan
lain, Gerstberg, yang kemudian hari diketahui sebagai salah satu cadangan emas
terbesar di dunia.
Hasil penemuan itu disusun dalam laporan
ilmiah dan disimpan di arsip Belanda. Laporan Dozy nyaris terlupakan selama dua
dekade, tetapi kelak menjadi pintu masuk bagi perusahaan tambang raksasa
Amerika: Freeport.
Diplomasi dan Trikora
Setelah Indonesia merdeka, Soekarno berulang
kali berunding dengan Belanda untuk membahas status Irian Barat, namun selalu
gagal. Diam-diam, pada 19 Februari 1952, Belanda bahkan memasukkan Irian Barat
ke dalam konstitusinya.
Kesabaran Soekarno pun habis. Pada 19 Desember
1961, ia mengumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) di Yogyakarta, berisi
perintah menggagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda,
mengibarkan Merah Putih di Irian Barat, dan memobilisasi seluruh kekuatan
nasional untuk mempertahankan kesatuan Republik.
Bentrok-bentrok kecil pun terjadi. Dalam
pertempuran di Laut Aru, kapal perang KRI Macan Tutul tenggelam dan Komodor Yos
Sudarso gugur sebagai pahlawan. Namun perjuangan terbesar justru terjadi di
meja diplomasi.
Belanda bersikeras menunda penyerahan Irian
Barat, tetapi tekanan internasional - terutama dari Amerika Serikat - memaksa
mereka berubah sikap.
Freeport dan Kepentingan Amerika
Di saat yang sama, di seberang Samudra
Atlantik, Freeport Sulphur Company menghadapi masa sulit. Perusahaan tambang
asal Amerika itu kehilangan aset besar di Kuba setelah Fidel Castro
menasionalisasi industri tambang dan minyak pada 1960. Sejak itu, Freeport
mencari lokasi baru yang kaya mineral dan aman secara politik.
Pada 1959, Direktur Eksplorasi Freeport, Forbes
Wilson, bertemu dengan eksekutif Belanda Jan van Gruisen dari Oost
Maatschappij. Dari pertemuan itu, Wilson mendengar tentang laporan geologi lama
milik Dozy tentang “gunung bijih” di Irian Barat. Diduga kuat, Freeport
memperoleh akses terhadap laporan yang disimpan di perpustakaan Belanda itu.
Setahun kemudian, Wilson memimpin ekspedisi ke
Papua bersama Del Flint. Mereka menemukan apa yang Dozy tulis tiga dekade
sebelumnya: gunung raksasa yang seluruhnya mengandung tembaga dan emas. Wilson
kemudian menulis pengalamannya dalam buku The Conquest of Copper Mountain,
yang membuat nama Ertsberg dikenal di dunia tambang internasional.
Penemuan ini bertepatan dengan meningkatnya
ketegangan antara Indonesia dan Belanda. Amerika Serikat, yang melihat potensi
besar di Papua, mulai berpihak kepada Indonesia. Washington menekan Belanda
agar menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia. Menteri Luar Negeri Belanda Joseph
Luns bahkan mengaku bahwa tekanan Amerika tak hanya bersifat politik, tetapi
juga ekonomi: Belanda menolak tawaran kerja sama pertambangan, dan akibatnya
kehilangan dukungan finansial dari Washington.
Dari Amerika ke PEPERA
Akhirnya, melalui Perjanjian New York pada 15
Agustus 1962, Belanda setuju menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia dengan
perantaraan PBB. Pemerintahan sementara PBB, UNTEA (United Nations Temporary
Executive Authority), mulai berlaku pada 1 Mei 1963.
Enam tahun kemudian, pada 1969, dilaksanakan Penentuan
Pendapat Rakyat (PEPERA) yang hasilnya - meskipun kontroversial - menyatakan
bahwa Irian Barat resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Warisan yang Tersisa
Masuknya Irian-Barat (sekarang Papua) ke
pangkuan Indonesia adalah kemenangan besar diplomasi dan nasionalisme. Namun di
sisi lain, kehadiran Freeport Indonesia sejak 1967 menjadi babak baru
dalam hubungan antara kekuasaan politik dan ekonomi global. Dari tambang
Ertsberg hingga Grasberg, Papua menjadi simbol sekaligus luka dari
tarik-menarik kepentingan antara negara, korporasi, dan rakyat.
Sejarah Irian Barat bukan sekadar kisah
pembebasan dari penjajahan kolonial, tetapi juga awal dari kolonialisme ekonomi
modern yang masih terasa hingga kini.
Posting Komentar