Prediksi: Israel Akan Menguasai Gaza

Table of Contents


Oleh: Salahudi Alam dan Muh Gibran, aktivis Pilkada Makassar

Prediksi bahwa Israel akan menguasai Gaza semakin nyata jika melihat strategi militer yang kini mereka mainkan. Dalam hukum perang klasik, siapa yang merebut wilayah, maka dialah yang berhak menguasainya. Prinsip itu tampaknya tengah diterapkan Israel secara sistematis.

Sejak 1948, setiap kali terjadi perang antara Israel dan negara-negara Arab, Israel hampir selalu keluar sebagai pemenang. Dari perang-perang itulah wilayah pendudukan Israel terus meluas. Ketika negara-negara Arab mulai enggan berperang, entah karena sadar tidak mungkin menang, atau karena tekanan politik internasional, atau alasan lain, maka muncullah kekuatan baru bernama Hamas.

Hamas, yang didukung penuh oleh Iran, berupaya mempertahankan perlawanan terhadap Israel dengan strategi yang tidak lagi sporadis, tetapi terencana. Salah satu bukti keseriusan itu adalah pembangunan sistem terowongan bawah tanah yang rumit dan sulit ditembus oleh pasukan Israel. Ini menunjukkan konsep perang total yang cukup canggih, meski hingga tahun 2025 Hamas belum juga berhasil membalikkan keadaan.

Perang yang kembali pecah pada 27 Oktober 2023, setelah serangan Hamas ke wilayah Israel, justru berujung pada semakin menyempitnya wilayah Gaza. Kini, Israel tampak sedang menandai batas baru wilayahnya itu, seolah memperkecil peta Gaza, yang menandakan langkah menuju penguasaan total atas wilayah tersebut.

Fakta-fakta ini mengundang banyak pertanyaan.

Negara-negara Arab yang dulu memulai perang melawan Israel sejak 1948 kini memilih diam. Sementara itu, Iran muncul seolah menggantikan peran mereka dalam melawan Israel. Apakah ini bagian dari permainan global yang halus dan sistematis? Hasilnya sama: baik perang yang dilakukan oleh negara-negara Arab maupun oleh kelompok yang disponsori Iran, hingga tahun 2025 ini semuanya gagal memenangkan Gaza.

Kini Israel mengepung Gaza dari segala arah, sementara warga dunia hanya menunggu kemungkinan serangan balasan dari Iran yang tak kunjung datang. Yang terdengar hanyalah suara kecaman, sidang-sidang di forum internasional, dan pernyataan belas kasihan. Dunia tampak hanya menjadi penonton tragedi kemanusiaan yang tak berujung.

Apakah dunia akan kembali diam ketika Gaza benar-benar jatuh ke tangan Israel?
Apakah perang ini sekadar soal keamanan Israel, atau justru bagian dari rencana geopolitik yang lebih besar untuk menata ulang peta Timur Tengah?, yang menggunakan negara-negara arab dan Iran sebagai alat untuk melegitmasi perang yang justru selalu dimenangkan Israel?.

Jika melihat pola sejarah, setiap konflik di Timur Tengah selalu berujung pada perubahan peta politik dan ekonomi kawasan. Invasi, perjanjian damai, hingga blokade ekonomi, semuanya menjadi alat bagi kekuatan besar dunia untuk menata ulang keseimbangan regional. Gaza bisa jadi hanyalah bab berikutnya dari skenario panjang itu, di mana rakyat Palestina kembali menjadi korban dari perebutan pengaruh global antara Barat dan Timur. Termasuk perebutan pengaruh Negara arab dan Iran.

Namun di atas semua analisis itu, ada satu hal yang tak boleh dilupakan: nilai kemanusiaan. Tidak ada strategi militer, tidak ada ambisi geopolitik, dan tidak ada dalih keamanan apa pun yang dapat membenarkan penderitaan jutaan warga sipil yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan. Ketika dunia gagal menghentikan kekerasan, yang runtuh bukan hanya bangunan di Gaza, tetapi juga nurani kemanusiaan kita bersama.

 

 

Posting Komentar