SIRI' DAN SENAPAN: Jejak Heroik Mayjen Andi Mattalata Melawan Belanda

Table of Contents

Disunting oleh: Mubha Kahamuang

Nama Mayjen TNI (Purn) Andi Mattalata terukir sebagai salah satu putra terbaik Sulawesi yang konsisten membela Republik. Mattalatta berasal dari garis keturunan Raja Barru, ia bukan hanya seorang bangsawan, tetapi juga patriot militan yang memilih medan perang ketimbang istana.

Kisah perjuangannya melawan Belanda, yang didasari oleh prinsip ‘Siri’ dan Harga Diri’ (nilai luhur Bugis-Makassar) seakan menjadi legenda.

Peran tempur Mattalata terbagi di dua palagan utama. Pertama, pertempuran di tanah kelahirannya, Sulawesi, melawan NICA yang datang membonceng Sekutu, dan Kedua, perjuangan di Jawa (khususnya Yogyakarta) sebagai perwira Tentara Republik Indonesia (TRI).

Bagian I: Awal Pemberontakan di Sulawesi

Pasca Proklamasi 1945, gejolak di Sulawesi Selatan memanas dengan kedatangan pasukan Belanda (NICA) yang berupaya mendirikan kembali kekuasaan kolonial. Andi Mattalata, yang sebelumnya aktif dalam pelatihan semi-militer di masa Jepang, langsung berdiri di belakang Republik.

Pada fase awal, perjuangan Mattalata adalah mengorganisasi laskar rakyat dan memimpin perlawanan bersenjata secara sporadis melawan pos-pos NICA. Ia dikenal sebagai komandan pejuang yang cerdik dan sangat mahir dalam taktik gerilya. Keberaniannya di lapangan menjadikannya buronan nomor wahid bagi militer Belanda.

Namun kekuatan Belanda semakin hari semakin bertambah, hal itu mencapai puncaknya dengan dilancarkannya Kampanye Sulawesi Selatan yang brutal, termasuk aksi-aksi kejam yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling. Melihat situasi yang tidak seimbang, banyak pejuang memutuskan mencari bala bantuan ke Jawa, pusat pemerintahan Republik.

Bagian II: Komandan Resimen Hasanuddin di Jawa

Pada periode 1946-1947, Andi Mattalata dan rombongan pejuang Sulawesi lainnya, termasuk sahabat karibnya Kahar Muzakkar dan Andi Muhammad Yusuf, menyeberang lautan menuju Jawa. Tujuan mereka jelas: melapor kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman dan mendapat pengakuan sebagai bagian dari Tentara Republik.

Di pulau Jawa, Mattalata didapuk memimpin satuan pejuang asal Sulawesi yang kelak menjadi Resimen Hasanuddin (juga dikenal sebagai Brigade Seberang). Di sinilah keahlian militernya teruji dalam pertempuran skala besar, mempertahankan Yogyakarta yang saat itu menjadi Ibu Kota Republik.

Bagian III: Aksi Heroik dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Salah satu puncak perjuangan Mattalata melawan Belanda terjadi saat Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Ia menjabat sebagai Komandan Batalyon dari Resimen Hasanuddin.

Pasukannya, yang sebagian besar terdiri dari putra-putra Sulawesi Selatan, mendapat sektor tugas penting di wilayah Kota Yogyakarta.

Taktik Mattalata sangat pragmatis dan militan

Pembangunan Barikade

Malam sebelum serangan, Mattalata memerintahkan pasukannya untuk membongkar rumah dan toko-toko Cina di sektornya guna membangun barikade mendadak dari lemari, meja, dan benda apa pun. Barikade ini terbukti efektif menghambat gerak maju panser (kendaraan lapis baja) Belanda saat serangan balik.

Perlawanan Jarak Dekat

Saat serangan balik Belanda datang dengan tank dan infanteri dari arah Magelang dan Klaten, pasukan Mattalata berjuang habis-habisan. Ia mencatat bagaimana para perwiranya — seperti Lettu Abdul Rahim — berusaha mendekati panser untuk melemparkan granat tangan meskipun harus gugur ditembak oleh infanteri Belanda yang mengawal kendaraan tersebut.

Serangan yang dipimpin Mattalata dan para komandan tempur lainnya berhasil menduduki Yogyakarta selama enam jam, membuktikan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih eksis dan mampu melawan, meskipun Belanda mengklaim telah melumpuhkan kekuatan militer Republik.

Bagian IV: Menjunjung Siri': Pejuang yang Tak Pernah Menyerah

Sepanjang perjuangannya, Mattalata dikenal sebagai perwira yang menjunjung tinggi Siri' (Harga Diri) dan sangat mencintai pasukannya. Prinsip ini membuatnya dikenal tangguh, cerdik, dan tak kenal gentar oleh musuh.

Setelah pengakuan kedaulatan, Mattalata tetap berada di jalur militer yang benar dan konsisten. Ia kembali ke Sulawesi dan mengabdi di Angkatan Darat, hingga akhirnya menjadi Panglima KODAM Hasanuddin pertama. Hal ini membedakannya dari sahabat karibnya, Kahar Muzakkar, yang memilih jalan pemberontakan DI/TII.

Dari medan pertempuran di Sulawesi yang mencekam, hingga garis depan di Yogyakarta yang menentukan, Mayjen (Purn) Andi Mattalata mewariskan kisah seorang patriot sejati: bangsawan yang rela menjadi kuli panggul dan tukang becak untuk menyamar, semata-mata demi tegaknya Siri' dan kedaulatan bangsanya.

SUMBER DAN REFERENSI UTAMA

Mattalatta, Andi. (Meniti Siri' dan Harga Diri). Autobiografi Mattalata setebal 644 halaman ini menjadi sumber primer paling otentik mengenai kisah perjuangan dan detail pertempuran yang ia pimpin, termasuk di Serangan Umum 1 Maret.

Historia.ID dan Tirto.id. (Berbagai artikel) Yang mengulas kiprah Andi Mattalata, khususnya dalam konteks perannya di Serangan Umum 1 Maret dan masa Revolusi Kemerdekaan.

Harvey, Barbara Sillars. (Tradition, Islam and Rebellion: South Sulawesi 1950-1965). Meskipun berfokus pada Kahar Muzakkar, buku ini memberikan konteks tentang pergerakan pejuang Sulawesi di awal kemerdekaan, termasuk hubungan antara Mattalata dan Kahar.

Pinisi.co.id. (Artikel 100 Tahun Andi Mattalatta, Menegakkan Siri' dan Harga Diri). Menyoroti aspek nilai budaya Siri' yang mendasari perjuangan Mattalata.

Pusat Sejarah TNI. (Dokumentasi sejarah militer) Mengenai struktur organisasi dan pertempuran yang melibatkan satuan-satuan dari Indonesia Timur di Jawa.


Posting Komentar