ANTARA PRURALISME DAN TOLERANSI

Table of Contents

Mengapa Islam Yang Pada Hakikatnya Pruralis Dan Toleran Justru Distigmakan Sebaliknya

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat
Executive Director HIAWATHA Institute

Islam sejak lahirnya bukan hanya agama yang membawa tauhid, tetapi juga membawa etika sosial yang menjamin ruang hidup bagi keberagaman. Sejarahnya terlalu terang untuk disembunyikan, Piagam Madinah adalah konstitusi pertama di dunia yang mengakui hak politik Yahudi dan Nasrani, masa keemasan Baghdad justru melahirkan ilmuwan dari berbagai latar keyakinan, Andalusia memahatkan peradaban ketika Muslim, Yahudi, dan Kristen duduk dalam satu meja ilmu. Prulalisme dalam Islam bukan konsep impor, ia adalah warisan peradaban.

Namun, mengapa agama yang begitu luas dadanya justru dipersepsikan sempit? Mengapa ajaran yang menekankan “la ikraha fid din”, tidak ada paksaan dalam agama, dituduh tidak toleran? Di sinilah permainan opini para pewaris kolonial modern bekerja dengan rapi.

Kolonial Barat tidak pernah bisa berdamai dengan kekuatan budaya yang mampu menyatukan bangsa-bangsa. Islam adalah identitas yang menyambungkan Indonesia ke jaringan peradaban dunia, dari Arab hingga Asia Selatan, dari Afrika ke Nusantara. Identitas yang menyatukan itu tentu menjadi ancaman bagi strategi pecah-belah yang selama ratusan tahun menjadi modal utama penjajahan. Maka diciptakanlah stigma, narasi, dan label, _Islam itu radikal, Islam itu intoleran, Islam itu anti pruralisme._

Padahal, intoleransi yang hari ini dituduhkan kepada umat tidak lahir dari ajaran, melainkan dari rekayasa sosial-politik yang dipelihara. Media global memperbesar satu insiden kecil menjadi potret tunggal umat, sementara ribuan tindakan toleransi yang dilakukan setiap hari tidak dianggap berita. Lembaga-lembaga asing mendanai kajian-kajian yang mengurung Islam dalam stigma identitas konflik, bukan identitas peradaban. Elite lokal yang menggemari pujian dunia Barat, ikut melafalkan narasi yang sama demi mendapatkan posisi politik atau legitimasi moral.

Ironisnya, umat Islam sendiri terkadang mulai percaya pada narasi eksternal itu. Mereka lupa bahwa Nabi pernah meminjam baju perang dari seorang Yahudi, bahwa Umar memberi ruang perlindungan bagi rumah ibadah Kristen di Yerusalem, bahwa Wali Songo menyiarkan Islam di Nusantara melalui budaya, bukan peperangan. Semua bukti itu menunjukkan ajaran yang mengedepankan akal, dialog, dan kelembutan di luar situasi perang.

Karena itu, pertanyaan seharusnya bukan lagi “apakah Islam itu toleran?”, melainkan “mengapa ada yang begitu takut pada toleransi Islam?”

Jawabannya sederhana, karena Islam yang menunjukkan wajah sejatinya, bermartabat, beradab, dan mempersatukan, akan memutus rantai pengaruh kolonial modern. Islam membuat bangsa-bangsa berdiri tegak tanpa harus tunduk pada narasi Barat.

Maka tugas kita hari ini bukan membela Islam, tetapi mengungkap kebenarannya,  bahwa Islam telah toleran jauh sebelum dunia modern merasa perlu mendefinisikan kata toleransi. Bahwa prulalisme bukan ancaman, melainkan bukti kedewasaan iman. Dan bahwa stigma hanyalah senjata lama yang dipakai kembali oleh mereka yang tidak ingin melihat umat berdiri kuat sebagai bangsa yang berdaulat.

HAVE A NICE WEEKEND

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat
Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta

Posting Komentar