Bangsa yang Letih, Pemerintahan yang Memikul Amanah
Oleh: Mubha Kahar Muang
Di tengah keletihan kolektif bangsa ini, kita memasuki masa pemerintahan
baru dengan harapan yang besar sekaligus tantangan yang tak kecil. Pemerintahan
Prabowo mewarisi sederet persoalan yang menumpuk selama bertahun-tahun, dari
tekanan ekonomi global, ketimpangan pembangunan, hingga retaknya kepercayaan
publik terhadap institusi politik. Di atas pundak pemerintah baru inilah segala
simpul masalah itu kini bergantung untuk diurai.
Kita perlu mengakui bahwa tugas tersebut tidak ringan. Setiap rezim
selalu memikul beban masa lalu, tetapi skala persoalan hari ini berdiri seperti
gunung besar, curam, dan menguji ketangguhan siapa pun yang mencoba
mendakinya. Reformasi birokrasi berjalan lambat, produktivitas ekonomi
tersandera, dan dinamika geopolitik membuat ruang gerak semakin sempit. Dalam
situasi seperti itu, langkah pemerintah kerap terlihat maju tertatih-tatih, bukan
karena kurangnya kemauan, melainkan karena rumitnya medan yang harus dilalui.
Masalahnya, publik sering kali ingin melihat perubahan seketika. Kita
hidup dalam budaya instan dan hasil cepat, solusi cepat, kepastian cepat. Padahal,
membangun atau memperbaiki negara bukanlah pekerjaan semalam. Ini adalah kerja
panjang yang menuntut kesabaran, kejernihan berpikir, serta kesediaan seluruh
elemen bangsa untuk terlibat partisipatif. Pemerintah membutuhkan kritik, tetapi juga
membutuhkan solidaritas sosial agar perubahan dapat bergerak.
Dalam konteks ini, seruan untuk menata hati menjadi relevan. Bukan untuk
membungkam kritik, melainkan untuk mengingatkan bahwa prasangka dan caci maki
tidak pernah menghasilkan kualitas kebijakan yang lebih baik. Kritik yang tajam
tetap perlu, tetapi harus disertai empati terhadap kompleksitas persoalan yang
dihadapi. Menuntut hasil tanpa melihat proses hanya akan melahirkan sinisme;
sebaliknya, memahami tantangan besar yang dihadapi negara dapat membuka ruang
bagi dialog yang lebih sehat.
Kitab suci mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum
sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. Pesan ini tidak hanya ditujukan
kepada rakyat, tetapi juga kepada pemerintah. Rakyat harus berbenah dalam
disiplin sosial, integritas, dan rasa tanggung jawab bersama. Pemerintah pun
wajib berbenah dalam transparansi, ketegasan, serta keberanian memotong rantai
kepentingan yang merugikan publik.
Bangsa ini tidak akan bergerak maju jika hanya satu pihak yang bersusah
payah. Dibutuhkan sinergi; pemerintah yang bekerja sungguh-sungguh, masyarakat
yang mau memahami konteks dan ikut terlibat, serta elite politik yang rela
menahan ambisi pribadi demi kepentingan negara. Tanpa itu, kita akan terjebak
dalam siklus saling menyalahkan yang tidak berujung.
Jika pemerintah terus memperbaiki diri, jika publik tetap kritis namun
adil, dan jika semangat gotong royong kembali menguat, maka kebangkitan bangsa
bukanlah mimpi. Mungkin berjalan perlahan, tetapi akan tiba pada waktunya.
Dari gelap menuju terang; dari kegamangan menuju keyakinan.
Posting Komentar