Bani Israel dan Afghanistan: Belajar dari Sejarah untuk Keutuhan Bangsa
Disunting oleh: Mubha Kahar Muang
Asal-usul Afghanistan mungkin tampak jauh dari kisah-kisah besar umat
manusia, namun di balik pegunungan tandus dan lembah-lembah suburnya, tersimpan
sejarah panjang yang menembus ribuan tahun. Sekitar lima milenium lalu, wilayah
yang kini disebut Afghanistan dikenal sebagai Ariana, terletak di
jantung Asia dan menjadi persinggahan berbagai peradaban kuno.
Di negeri inilah bermukim suku Pashtun, kelompok etnis terbesar
di Afghanistan yang secara turun-temurun menyebut diri sebagai keturunan
Bani Israel sebuah klaim yang masih menimbulkan perdebatan hingga kini.
Jejak Dua Belas Suku Israel
Menurut kitab Taurat, Yakub yang kemudian bergelar Israel memiliki
dua belas anak laki-laki yang menjadi cikal bakal dua belas suku bangsa Israel.
Namun setelah wafatnya Raja Sulaiman sekitar abad ke-10 SM, bangsa Israel
terpecah menjadi dua kerajaan; Yudea di selatan dan Israel di
utara.
Kerajaan Israel Utara akhirnya ditaklukkan oleh Kekaisaran Asiria
pada 721 SM. Sepuluh suku yang berada di wilayah utara ditawan dan hilang dari
sejarah. Mereka dikenal sebagai “the lost tribes of Israel.”
Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa kelompok yang hilang itu
bermigrasi ke arah timur, menembus Mesopotamia dan Persia, lalu menetap di
wilayah perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan. Di sanalah
lahir suku Pashtun yang dalam tradisi setempat disebut juga Afghan atau Pathan
yang kemudian menurunkan kisah genealogisnya hingga kepada Nabi Yakub.
Tradisi yang Menyerupai Israel Kuno
Sejumlah peneliti abad ke-19 seperti G. T. Vigne dan Prof.
Bernhard Doran dari Kharqui University menyebut bahwa bangsa Afghan
mengklaim keturunan dari Raja Thalut (Saul) melalui garis keturunannya
bernama Armea.
Menariknya, beberapa tradisi Pashtun memang menyerupai adat
Israel kuno:
mereka menyunat anak laki-laki pada hari kedelapan, melarang memakan daging dan
susu secara bersamaan, menghindari daging unta dan kuda, serta menyalakan lilin
pada malam Jumat.
Tradisi levirat, menikahi janda kakak yang belum memiliki
anak juga ditemukan dalam masyarakat Pashtun dan Israel kuno.
Walau kini seluruhnya beragama Islam, Pashtun tetap memelihara narasi
bahwa mereka adalah “anak-anak Israel yang kembali ke iman Ibrahim yang sejati.”
Persimpangan Peradaban dan Penaklukan
Afghanistan selalu menjadi arena perebutan kekuasaan dari Persia, Yunani,
Maurya India, hingga Sasaniyah Iran. Ketika Islam datang pada abad ke-7 M,
pasukan sahabat Nabi, Khalid bin Walid, disebut pernah bertemu kelompok Bani
Israel di wilayah Herat yang kemudian memeluk Islam.
Berabad-abad kemudian, Afghanistan dikuasai bergantian oleh Jengis Khan,
Timur Lenk, Babur, hingga Nadir Syah.
Pada abad ke-19, negeri ini menjadi rebutan antara Inggris dan
Rusia dalam perebutan pengaruh di Asia Tengah.
Setelah perang panjang, Afghanistan akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya
pada 19 Agustus 1919.
Negeri Kaya yang Tak Pernah Damai
Ironinya, negeri dengan kekayaan sumber daya alam berlimpah; emas,
tembaga, gas alam, batu bara, batu permata, dan uranium justru menjadi salah
satu negara termiskin di dunia.
Posisinya yang strategis di antara Asia Selatan dan Tengah membuatnya selalu
menjadi arena perebutan kekuatan global.
Ketika Uni Soviet menginvasi pada 1979, Amerika Serikat dan sekutunya
mempersenjatai kelompok Mujahidin.
Kemenangan atas Soviet tak membawa stabilitas; perang saudara melahirkan
Taliban, yang kemudian dijatuhkan AS setelah tragedi 11 September 2001.
Sejak itu, Afghanistan terus berjuang di bawah bayang-bayang konflik dan
kemiskinan struktural.
Belajar dari Afghanistan
Sejarah panjang Afghanistan memberi pelajaran penting bagi bangsa
Indonesia bahwa
kekayaan sumber daya alam tidak menjamin kesejahteraan jika bangsa tidak mampu menjaga
persatuan dan kedaulatan politiknya.
Seperti Afghanistan, Indonesia berada di wilayah strategis yang selalu
menarik minat kekuatan besar dunia. Perpecahan internal, ekstremisme ideologis,
dan politik sumber daya yang tidak adil bisa menjadi awal kehancuran.
Kita harus belajar dari bangsa yang besar namun terpecah, kaya namun miskin, agar Indonesia tidak menjadi “Afghanistan berikutnya” terkoyak oleh ambisi dan kehilangan arah sejarahnya.
Posting Komentar