Bersatu Kita Teguh: Modal Sosial Menuju Indonesia Maju

Table of Contents

Oleh: Abdul Rahman Sappara

Indonesia bisa maju kalau bersatu, sebuah ungkapan sederhana ini sering terdengar seperti pepatah lama yang kehilangan gaungnya di tengah hiruk-pikuk politik dan perbedaan kepentingan masing-masing.

Namun, di balik kata-kata yang tampak klise itu tersimpan kebenaran mendalam bahwa kemajuan bangsa ini tidak lahir dari kekuatan modal atau teknologi semata, tetapi dari kemampuan masyarakatnya untuk bersatu dalam tujuan bersama.

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” inilah slogan perjuangan dimasa lalu, ini juga fondasi moral yang harus terus dihidupkan di tengah fragmentasi sosial dan politik yang kian tajam.

Persatuan selalu menjadi kata kunci dalam perjalanan sejarah Indonesia. Dari Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga reformasi 1998, bangsa ini selalu menemukan kekuatannya kembali ketika bersatu menghadapi tantangan.

Namun kini, di era digital dan kompetisi global, persatuan justru semakin mudah goyah. Perbedaan suku, agama, dan pandangan politik yang dulu menjadi sumber kekayaan kini sering dijadikan alat perpecahan.

Media sosial mempercepat polarisasi, sementara elite politik seringkali mempermainkan sentimen identitas demi keuntungan jangka pendek (politik) kadang juga bisnis.

Akibatnya, kita menjadi bangsa yang mudah terbelah antara “cebong” dan “kampret”, “nasionalis” dan “islamis”, “pendukung” dan “pengkritik”. Padahal, tidak ada satu pun bangsa besar di dunia yang berhasil maju dengan konsiai rakyat yang sibuk saling mencurigai.

Negara-negara yang berhasil menembus batas kemajuan seperti Korea Selatan, Jepang, dan Singapura, membangun kekuatan bukan hanya melalui industri dan pendidikan, tetapi juga melalui kesadaran kolektif bahwa mereka harus bersatu dalam visi yang sama yaitu kemajuan nasional.

Persatuan bukan berarti keseragaman, bukan pemaksaan pikiran atau pembungkaman kritik. Persatuan sejati lahir dari kesediaan untuk menghargai perbedaan dan mencari titik temu dalam perbedaan itu.

Dalam konteks Indonesia, persatuan berarti kemampuan untuk mengelola keragaman dengan rasa saling percaya (trust) dan tanggung jawab bersama. Di sinilah pentingnya kepemimpinan yang inklusif, pemimpin yang mampu menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang sibuk membenarkan kelompoknya sendiri.

Ironisnya, semangat kebersamaan itu kini seakan-akan semakin terkikis. Dalam banyak hal, kita justru sedang menyaksikan gejala “runtuhnya” persatuan; intoleransi meningkat, politik uang merajalela, dan keadaban publik merosot. Kecurigaan antar-warga tumbuh subur, sementara kepercayaan terhadap institusi negara menurun.

Di tengah situasi seperti ini, gagasan “bersatu kita teguh” bukan slogan kosong tapi adalah seruan moral untuk kembali membangun kohesi dan kepercayaan sosial yang menjadi syarat mutlak bagi kemajuan bangsa.

Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja muda yang produktif, dan posisi strategis di peta global. Tetapi semua itu akan menjadi sia-sia bila energi bangsa terkuras dalam pertengkaran internal.

Tidak ada jalan pintas menuju kemajuan selain dengan menegakkan kembali nilai-nilai kebersamaan; gotong royong, keadilan, dan solidaritas sosial. Itulah fondasi yang memungkinkan kita bergerak bersama menuju Indonesia yang benar-benar maju dan merdeka, bukan hanya di atas kertas statistik ekonomi, tetapi juga dalam kualitas kemanusiaannya juga.

 

Posting Komentar