Dokter dan Guru Agama: Dua "Peramal" dengan Kitab Rujukan yang Berbeda
Disunting oleh: Agus Dwi Karna dkk
Kita semua pernah berada di persimpangan jalan, mencari kejelasan dari
dua figur otoritas yakni Dokter dan Guru Agama. Kita datang kepada
mereka membawa kebingungan dan harapan. Yang satu berjanji merawat tubuh kita
yang fana, yang lain menjanjikan keselamatan jiwa kita yang abadi di akhirat.
Mereka tampak berbeda, beroperasi di ranah yang terpisah sains vs
spiritualitas. Namun, jika kita teliti proses kerjanya, kita akan menemukan
satu kesamaan fundamental bahwa “keduanya memulai dengan dugaan”.
Seni Menduga di Ruang Periksa dan Mimbar
Coba perhatikan seorang dokter saat Anda menceritakan gejala penyakit yang anda alami, si dokter tidak
serta merta mengetahui penyakit itu. Si dokter memulainya dengann proses diagnosa, mengumpulkan
data dari gejala, hasil lab, riwayat hidup, lalu mulai menduga-duga (atau
berhipotesis) penyakit apa gerangan yang sedang menyerang. Barulah kemudian si dokter memberikan
resep. Dugaan ini, pada dasarnya, adalah sebuah langkah awal yang akan diuji
oleh obat yang Anda telan.
Situasi serupa terjadi pada Guru Agama, sama juga seperti dokter yang
punya spesialisasi (ahli jantung, ahli kulit, ahli paru dan sebagainya), guru
agama punya banyak “aliran” atau “mazhab” yang berbeda. Setiap aliran ini adalah
sebuah pandangan spesifik yang terbangun dari tafsir terhadap kitab suci.
Guru agama menyampaikan "ilmu kebenaran" yang diyakini mutlak
oleh alirannya. Dia menduga bahwa tafsir mereka itu benar-benar yang benar, dan keyakinan itu
menjadi landasan bagi ajarannya.
Ujian Pembuktian: Empiris vs Mutlak
Di sinilah garis perpisahan itu ditarik tebal. Kedua figur ini berbeda
dalam hal bagaimana mereka menguji dugaan (hipotesis) mereka:
1. Dokter dan Bukti Nyata (Empiris)
Dokter bergerak di ranah empiris, di dunia yang bisa diukur dan diamati.
Jika resepnya gagal, pasien tidak sembuh, itu berarti dugaan awalnya (diagnosis
dan hipotesisnya) salah, dan si dokter harus segera memperbaikinya. Ujian
kebenarannya terjadi secara cepat dan nyata pada kenyataan sembuh atau
tidak sembuh.
2. Guru Agama dan Keyakinan Mutlak (Metafisik)
Guru agama bergerak di ranah metafisik. Kebenaran yang diajarkan,
meskipun diyakini sebagai kebenaran mutlak namun belum pernah dan tidak
bisa dibuktikan secara empiris di dunia nyata ini. Sifatnya adalah “iman” sebuah
keyakinan besar tentang kehidupan setelah mati. Ini adalah dugaan yang tidak
dapat dibantah dengan data klinis.
Inilah mengapa seorang dokter cenderung lebih hati-hati, karena
kesalahan diagnosisnya langsung terlihat. Sebaliknya, seorang guru agama bisa
mengajarkan dengan keyakinan penuh, karena "bukti" kebenarannya baru
akan terlihat di masa yang tidak terjangkau oleh indra fisik.
Otoritas yang Disokong Kitab Rujukan
Akhirnya, fondasi otoritas mereka terletak pada buku pegangan mereka masing-masing:
- Dokter merujuk pada Buku-Buku Kedokteran, Jurnal, dan Penelitian Klinis.
Ilmu ini adalah ilmu yang hidup; terus-menerus diuji, diperbarui, dan
diubah berdasarkan temuan ilmiah terbaru.
- Guru
Agama merujuk pada Kitab Suci dan Ilmu Agama
yang diwariskan turun-temurun. Ini adalah rujukan yang dianggap abadi,
sakral, dan tidak dapat diubah oleh hasil penelitian duniawi.
Pentingnya Kecerdasan Kritis Kita
Mengingat kedua figur ini beroperasi berdasarkan "dugaan"
(hipotesis di satu sisi, keyakinan di sisi lain), kepercayaan kita kepada
dokter dan guru agama harus diletakkan pada dimensi kecerdasan kritis yang kita miliki.
Kita tidak harus menerima secara mentah-mentah. Kewajiban kita adalah terus belajar. Bukan untuk menguji kebenaran kitab suci atau dogma medis,
melainkan untuk “meluruskan dan menggali” pemahaman kita sendiri sesuai dengan
basis-basis ilmu yang tersedia. Bahkan, kita bisa melampaui itu melalui “perenungan”
dan “temuan” kita yang dalam.
Otoritas tertinggi pada akhirnya ada pada diri kita sendiri, setelah
mempertimbangkan semua rujukan yang ada. melakukan perbandingan temuan antar
dokter dengan dokter lain serta refrensi ilmiah yang tersedia. Sama juga dengan ilmu agama, kita mesti menelaah dari dugaan dari satu ustad ke ustad yang
lain, dan yang mutlak tentunya adalah kita mesti berpegang pada kitab dasar yaitu
kitab suci sebagai pedoman universal agama.
Dokter mengajarkan kita bahwa hidup adalah serangkaian hipotesis yang
harus diuji dan diperbaiki. Guru agama mengingatkan kita bahwa ada dimensi yang
melampaui tubuh, sebuah janji yang harus dipegang teguh.
Baik Anda sedang menunggu hasil rontgen di rumah sakit atau
mendengarkan tafsir di majelis taklim, ingatlah satu hal, bahwa Anda sedang
berhadapan dengan figur yang berani membuat dugaan besar demi kesejahteraan
Anda. Dan kekuatan untuk menyaring semua dugaan itu kini ada di tangan Anda,
melalui nalar dan hati Anda.
Posting Komentar