Gema "Serakahnomik" dan Misteri Nama: Amran Sulaiman Harus Melampaui Wacana

Table of Contents

Disunting oleh: M Noe Lapong, S.H

Isu ini bermula dari diskusi yang menjadi viral di Kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, di mana Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, membongkar praktik "Serakahnomik" yang disebutnya merampas subsidi rakyat. Judul berita yang beredar terasa membakar, memicu pertanyaan besar: Siapa para konglomerat mafia yang dimaksud?

Dalam diskusi tersebut, Amran dengan tegas menunjuk adanya praktik kotor di sektor pangan. Namun, secara konsisten menghindari penyebutan nama atau entitas perusahaan secara gamblang. Keengganan ini, alih-alih mengurangi bobot pernyataannya, justru mengirimkan sinyal politik dan ekonomi yang jauh lebih dalam.

Dari Pupuk ke Piring: Cengkeraman Serakahnomik

Amran Sulaiman tidak berbicara tentang kejahatan ecek-ecek. Beliau berbicara tentang perampasan sistematis atas hak-hak rakyat. Inti dari "Serakahnomik" yang ia jelaskan berpusat pada dua hal:

  1. Mafia Subsidi: Praktik pengalihan pupuk bersubsidi, yang seharusnya menjadi hak petani gurem, ke tangan korporasi besar atau dijual kembali dengan harga komersial. Ini adalah perampasan langsung atas uang negara dan hajat hidup petani.
  2. Permainan Impor: Adanya praktik impor pangan yang masif dan terstruktur, bahkan saat panen raya tiba. Tujuannya jelas: menekan harga jual produk lokal dan memastikan keuntungan maksimal bagi segelintir pengusaha yang menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir.

Dengan membongkar modus operandi ini, Amran sejatinya tidak hanya mengkritik individu, tetapi juga menggugat arsitektur kebijakan pangan yang selama ini rentan dibajak oleh kepentingan pemilik modal besar.

Keengganan yang Penuh Makna

Lantas, mengapa seorang menteri yang berani menembakkan isu sebesar ini memilih bungkam soal nama?.

Keengganan Amran untuk menyebut nama-nama konglomerat tersebut bukanlah tanda takut, melainkan kemungkinan besar merupakan strategi yang diperhitungkan dengan matang, baik secara hukum maupun politis. Ini bisa jadi terkait pertimbangan hukum mengenai bukti yang belum firm, atau upaya untuk menjaga fokus kritik pada sistem dan praktik "Serakahnomik" ketimbang mereduksi masalah menjadi personal vendetta (dendam pribadi).

Melampaui Wacana: Mendesak Sistem yang Tak Terkalahkan

Namun, narasi personal mengenai "Serakahnomik" saja tidaklah cukup. Publik dan petani membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan bahwa mafia itu ada.

Andi Amran Sulaiman, selaku Menteri Pertanian, tidak boleh berhenti pada wacana personal atau retorika. Beliau harus memanfaatkan momentum exposure ini untuk "membangun sistem tata kelola pangan yang kuat". Ini berarti menerbitkan regulasi dan, jika perlu, merevisi undang-undang yang "menutup rapat serapat-rapatnya setiap celah sekecil apa pun yang bisa dimanfaatkan oleh mafia Serakahnomik untuk menjalankan operasinya".

Sistem tata kelola pangan yang baru harus didesain dengan prinsip:

  • Transparan: Semua data dan proses pengambilan keputusan (kuota impor, distribusi subsidi) harus dapat diakses publik.
  • Akuntabel: Pihak yang bertanggung jawab atas penyelewengan harus ditindak tanpa pandang bulu.
  • Bebas Manipulasi: Regulasi harus bersifat bulletproof dan tidak memungkinkan interpretasi ganda yang menguntungkan pemilik modal.

Hanya dengan membangun sistem yang kuat, Indonesia akan benar-benar bebas dari cengkeraman pemilik modal yang menggerus hak-hak rakyat. Dan desakan ini tidak hanya berlaku untuk bidang pangan saja. Ini adalah model yang dibutuhkan semua sektor di Indonesia yang haus akan sistem tata kelola yang baik, transparan, akuntabel, dan bebas manipulasi.

Pernyataan Andi Amran Sulaiman adalah panggilan untuk bangun. Kini saatnya menteri mengubah panggilan tersebut menjadi tembok regulasi yang kokoh. Jika sistem sudah sempurna, nama-nama konglomerat itu akan kehilangan kekuatan untuk merusak tata kelola pangan di Indonesia. 

Perlu dicatat: Mafia tumbuh sumbur di negara yang lemah dalam sistem penegakan hukum dan tata kelola negara. singkatnya birokrasi korup. 


Sumber Utama Isu: Kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored.

 

Posting Komentar