MBG Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Oleh: Tamsil Linrung, Wakil Ketua DPD RI
Sejak awal menjabat sebagai Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa kerap
tampil di hadapan publik membawa pesan optimisme mengenai prospek pertumbuhan
ekonomi nasional. Namun tidak sedikit yang menyambutnya dengan skeptisisme.
Alasannya cukup kuat juga antara lain; perlambatan ekspor komoditas, tekanan
inflasi pangan yang menggerus daya beli, serta stagnasi investasi di sejumlah
klaster industri strategis. Banyak ekonom juga mengingatkan bahwa struktur
pertumbuhan Indonesia masih rapuh lantaran sektor manufaktur yang juga
diandalkan menjadi mesin pertumbuhan tradisional belum kembali ke performa dasarnya seperti pada masa pra-pandemi.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, muncul satu dinamika baru yang patut
dicermati, adalah Program Makan Bergizi
Gratis (MBG). Sekilas, MBG tampak seperti program
perlindungan sosial yang biasa. Tetapi jika ditinjau dari perspektif ekonomi
makro, program ini bekerja seperti mesin pertumbuhan baru yang
mendorong ekonomi dari bawah ke atas (bottom-up economic engine).
Dengan estimasi sekitar 82 ribu
dapur SPPG yang beroperasi rutin, rata-rata 20 hari per bulan atau 240 hari per tahun, maka MBG akan menciptakan denyut transaksi bahan
pangan yang massif dan stabil di berbagai daerah. Setiap dapur beroperasi
berarti muncul permintaan harian atas sayur, telur, daging, ikan, bumbu, dan
kebutuhan pendukung lainnya. Inilah sumber pergerakan ekonomi yang sebelumnya
belum pernah ada dalam skala yang terdistribusi begitu luas.
Data Badan Pusat Statistik (BPS)
memperkuat konteks tersebut. Pada triwulan II/2025:
• konsumsi rumah tangga tumbuh 4,97%
(YoY)
• kontribusinya terhadap PDB mencapai 54,25%
• dari total pertumbuhan ekonomi 5,12%
(YoY), konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 2,64 persen poin yang menjadikannya mesin terbesar dalam
struktur PDB.
Artinya, lebih dari separuh denyut ekonomi Indonesia bertumpu pada aktivitas
belanja masyarakat. Dan MBG mengintervensi langsung komponen terbesar ini.
Di sinilah letak bobot strategis program MBG yang tidak sama dengan stimulus
fiskal konvensional yang sifatnya one-off dan cepat menguap. MBG
menciptakan permintaan harian yang
konsisten. Setiap transaksi bahan pangan menciptakan multiplier
effect bagi pedagang kecil, petani lokal, koperasi pemasok, UMKM pengolah
makanan, hingga pekerja transportasi. Rantai ekonomi mikro ini kemudian
teragregasi menjadi dorongan makro yang memperkuat konsumsi rumah tangga secara
langsung.
Distribusi atau logistik bahan pangan yang tersebar luas juga merupakan bagian sangat penting
dalam membangun geliat pertumbuhan, menjangkau ‘puluhan ribu’ titik dapur
menciptakan pemerataan stimulus yang sulit dicapai oleh proyek infrastruktur
besar yang biasanya terkonsentrasi di kawasan tertentu saja.
Jika konsisten dijalankan, MBG dapat menciptakan ekonomi “arus bawah” dan pertumbuhan yang besar, bisa memperkuat fondasi ekonomi nasional pada saat iklim ketidakpastian global; mulai dari
pelemahan perdagangan internasional hingga fluktuasi harga komoditas yang membuat
ekspor dan investasi cenderung berubah-ubah.
Tentu saja tantangan utamanya terletak pada tata kelola, akurasi pendataan penerima manfaat, efisiensi logistik, kualitas bahan pangan, serta integritas para pelaksana.
Tanpa disiplin birokrasi dan sistem monitoring
yang kuat, daya dorong program ini bisa berkurang. Namun bila dikawal dengan
baik, MBG bukan hanya memicu lonjakan konsumsi jangka pendek, tetapi juga
memperkuat mata rantai ekonomi lokal dan nasional dalam jangka menengah dan
panjang.
Dengan demikian, optimisme pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tidak
lagi berdiri di atas narasi belaka. Kini terdapat sebuah motor baru yang
bekerja setiap hari, tersebar di seluruh Indonesia, dan memberi kontribusi
nyata terhadap konsumsi masyarakat sebagai komponen terbesar PDB nasional.
Singkatnya, MBG berpotensi menjadi mesin
pertumbuhan yang mengisi ruang yang ditinggalkan sektor-sektor melemah, sekaligus
membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh dari akar rumput.
Insya Allah.
----------------
Posting Komentar