Media Sosial Bukan Lagi Alat Komunikasi, tetapi Mesin Propaganda

Table of Contents

Disunting Oleh: Ryu Midun, S.Ag, wartawan alumni UIN Makassar 

Media sosial, yang mulanya dijanjikan sebagai jembatan menuju koneksi tanpa batas, kini telah bermutasi menjadi arena perang ideologis dan komersial. Di tengah polarisasi politik dan banjir informasi, muncul kekhawatiran; mengapa kita begitu rentan terhadap pesan-pesan yang mengarahkan pikiran dan perilaku kita?.

Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke dua pakar propaganda klasik, Edward Bernays dan Jacques Ellul. Untuk memahami bahaya media sosial, kita harus melihatnya sebagai kombinasi dari manipulasi psikologis Bernays dan integrasi sistemik Ellul, di mana kita secara bersamaan adalah target yang dimanipulasi dan agen yang menyebarkan propaganda.

Bernays: Rekayasa Persetujuan Digital

Jika Edward Bernays Bapak Public Relations, masih hidup di era ini, ia pasti akan melihat media sosial sebagai puncak dari ambisinya untuk "merekayasa persetujuan" (engineering of consent). Di tangannya, Instagram, TikTok, atau X, bukanlah sekadar platform, tetapi adalah laboratorium psikologis yang sempurna.

Bernays mengajarkan bahwa massa harus diarahkan dengan mengeksploitasi keinginan dan dorongan bawah sadar mereka. Di dunia digital, prinsip ini termanifestasi melalui iklan bertarget yang secara cerdas menampilkan produk atau ide yang menyentuh kecemasan atau hasrat terpendam kita.

Keinginan kita akan validasi (likes), rasa takut ketinggalan (FOMO), dan kebutuhan akan identitas diri dieksploitasi untuk tujuan komersial atau politik. Hasilnya adalah propaganda yang sangat efektif karena tidak terasa seperti instruksi, melainkan seperti saran pribadi dari algoritma yang seolah-olah "mengenal kita lebih baik daripada kita sendiri." Media sosial, dengan demikian, telah menjadi alat manipulasi psikologis yang paling halus dan paling kuat di tangan minoritas elit yang Bernays cita-citakan.

Ellul: Propaganda Integrasi Tanpa Henti

Namun, propaganda digital tidak hanya berhenti pada manipulasi eksternal (Bernays); tapi juga bekerja secara sistemik, sesuai dengan teori Jacques Ellul tentang Propaganda Integrasi. Ellul berargumen bahwa propaganda modern adalah kondisi hidup dalam masyarakat teknologis, yang membuat individu secara sukarela berkonformitas. Di media sosial, hal ini terlihat melalui pembentukan ruang gema (echo chamber) dan gelembung filter (filter bubble).

Algoritma secara terus-menerus menyajikan hanya kebenaran yang terbatas (pandangan yang kita sukai), menciptakan lingkungan informasi yang total dan koheren, tetapi menyesatkan. Propaganda Ellul berhasil karena menyediakan makna dan komunitas bagi individu yang merasa terisolasi. Untuk menjadi bagian dari kelompok digital, kita harus mengadopsi norma mereka. Kita tidak dipaksa percaya; kita memilih untuk berintegrasi, mendapatkan validasi (likes dan followers), dan pada saat yang sama, secara perlahan melepaskan kemampuan untuk berhadapan dengan sudut pandang yang berbeda.

Dilema: Korban dan Penyebar Sistem

Analisis Bernays dan Ellul membawa kita pada dilema yang paling mencolok di era media sosial: Kita adalah korban yang diperdaya sekaligus agen yang turut memperdaya. Kita memang menjadi target yang pasif, dipetakan secara psikologis oleh algoritma (seperti yang dijelaskan Bernays), namun pada saat yang sama, kita secara aktif berkontribusi pada efektivitas sistem propaganda Ellul.

Setiap kali pengguna baik itu individu maupun influencer membagikan ulang konten yang belum diverifikasi, memproduksi meme yang menyederhanakan isu kompleks, atau menekan tombol like untuk memperkuat pandangan kelompoknya, mereka secara sukarela menguatkan dinding echo chamber. Kita menjadi propagandis tanpa sadar, secara gratis menyebarkan narasi yang membantu mengintegrasikan pengguna lain ke dalam sistem nilai dan keyakinan yang sempit. Inilah yang membuat propaganda digital sangat sulit dilawan, bukan lagi senjata eksternal yang dilancarkan oleh pemerintah atau korporasi, melainkan fungsi bawaan dari interaksi kita sehari-hari di ruang digital.

Reflekasi dan Aksi

Media sosial, yang awalnya dijanjikan sebagai alat untuk koneksi dan pembebasan informasi, kini telah bermutasi menjadi mesin propaganda yang sangat canggih. Kita berada di bawah tekanan ganda; manipulasi psikologis yang diatur oleh elit untuk kepentingannya (Bernays), dan integrasi sistemik yang tak terlihat ke dalam kotak-kotak echo chamber demi stabilitas sistem teknologi (Ellul).

Realitas ini menuntut kita untuk melepaskan ilusi bahwa kita hanyalah pengguna pasif. Pertahanan terkuat melawan propaganda digital bukanlah regulasi pemerintah, melainkan otonomi individu. Kita harus secara sadar melawan Engineering of Consent dengan meningkatkan literasi digital, memperlambat konsumsi konten, dan berani melangkah keluar dari gelembung filter demi mencari kebenaran yang komprehensif.

Jika kita gagal melakukan hal ini, kita akan terus membiarkan diri kita direkayasa menjadi massa yang patuh selamanya, yang terperangkap di antara keinginan untuk membeli dan kebutuhan untuk berkonformitas (alias pak turut) tanpa mengerti alasannya.

Sumber Buku dan Teori

  1. Propaganda: The Formation of Men's Attitudes (1962)
    • Penulis: Jacques Ellul
    • Kontribusi Utama: Konsep Propaganda Integrasi (yang halus, permanen, dan bersifat sosiologis) dan argumen bahwa propaganda adalah kondisi yang tak terhindarkan dalam masyarakat teknologi modern karena kebutuhan psikologis individu yang terisolasi untuk berkonformitas dan mencari makna.
  2. Propaganda (1928)
    • Penulis: Edward Bernays
    • Kontribusi Utama: Konsep Rekayasa Persetujuan (Engineering of Consent) dan pandangan bahwa propaganda adalah alat yang diperlukan dan sah bagi minoritas yang cerdas (invisible government) untuk mengatur kebiasaan dan opini massa yang dianggap tidak rasional, terutama untuk tujuan komersial dan politik.
  3. Analisis Perbandingan

Struktur artikel opini Anda dibangun di atas kontradiksi mendasar antara kedua teori ini: Bernays sebagai praktisi yang positif terhadap propaganda, versus Ellul sebagai filsuf yang sangat kritis terhadap sifatnya yang total dan merusak.

Konteks Penerapan (Media Sosial)

Penerapan teori Bernays dan Ellul ke konteks media sosial (seperti filter bubble, echo chamber, iklan bertarget, dan algoritma) merupakan upaya modernisasi kerangka berpikir mereka untuk menjelaskan mekanisme persuasif di era digital saat ini.

 

Posting Komentar