Terima Kasih Pak Menkes: Semoga Segera Merubah Rujukan yang Menyakiti Pasien

Table of Contents

Oleh: Samir Pademmui 

Banten 14/11/2025, Seorang teman saya mengalami gejala penyakit yang ia rasa cukup serius. Karena rumah sakit swasta lebih dekat, ia memutuskan memeriksakan diri ke sana. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada masalah pada jantung, suatu kondisi yang umumnya membutuhkan penanganan cepat.

Namun biaya perawatan di rumah sakit swasta terbilang mahal, sementara ia rutin membayar iuran BPJS setiap bulan. Maka ia memutuskan beralih menggunakan layanan BPJS.

Di sinilah persoalan muncul. Untuk masuk jalur BPJS, ia harus mengikuti prosedur rujukan berjenjang, mulai dari puskesmas. Meski membawa hasil diagnosa rumah sakit swasta, ia tetap harus antre panjang, mengukur tensi, menimbang berat dan tinggi badan, lalu menunggu panggilan dokter. Dokter pun hanya memeriksa sekadarnya sebelum menuliskan surat rujukan.

Bermodal rujukan itu, ia menuju rumah sakit yang dapat menangani jantung. Tetapi proses kembali berulang; antrean administrasi, jadwal dokter yang penuh, dan penanganan yang mundur berjam-jam bahkan kadang 1–2 hari baru bisa bertemu dokter spesialis.

Semua itu terjadi sementara penyakit jantung tidak menunggu.

Kisah ini bukan cerita tunggal. Sistem rujukan berjenjang yang diterapkan BPJS pada dasarnya dibuat untuk menata alur pelayanan, tetapi dalam praktiknya sering berubah menjadi hambatan. Tidak ada fast track untuk pasien yang sudah memiliki diagnosa dari dokter sebelumnya. Tidak ada fleksibilitas untuk kasus penyakit berat.

Puskesmas yang tidak memiliki fasilitas untuk menangani penyakit jantung tetap diwajibkan menjadi pintu masuk. Pemeriksaan dasar pun lebih sering sekedar menjadi syarat administratif daripada kebutuhan medis.

Yang jarang diperhitungkan adalah bahwa waktu juga merupakan biaya. Antrean panjang, bolak-balik fasilitas kesehatan, dan jadwal yang mundur adalah “biaya tak terlihat” yang ditanggung pasien. Untuk penyakit seperti jantung, delay 24 jam bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

Harapan Baru dari Rencana Menteri Kesehatan RI

Karena itu, rencana Menteri Kesehatan RI untuk memangkas rantai rujukan bahkan membuka peluang agar pasien BPJS bisa langsung ke RS tipe A menjadi angin segar bagi jutaan peserta BPJS yang selama ini diam dalam penderitaan.

Banyak pasien tidak pernah bersuara. Mereka memilih menahan sakit, menunggu antrean, mengikuti prosedur, dan berharap kondisi mereka tidak memburuk selama proses administrasi berjalan. Ide pemangkasan rujukan ini ibarat pintu kecil menuju perubahan besar; mengembalikan fokus pelayanan pada keselamatan pasien, bukan sekadar kepatuhan berkas administrasi.

Harapan pasien sederhana saja; jangan sampai masalah nyawa terhambat oleh meja administrasi. Jika reformasi sistem rujukan benar-benar dijalankan, negara bukan hanya memperbaiki efisiensi layanan, tetapi juga mengembalikan rasa keadilan bagi peserta BPJS, mereka yang selama ini telah membayar, tetapi belum benar-benar dilayani.

Rep: 1211 RYM


Posting Komentar