Propaganda Marasuk Tanpa Kita Sadari

Table of Contents

Disunting oleh: Alul, Alam, Anto, Andi dkk 

Di era media sosial, manusia hidup di tengah arus informasi yang deras, algoritma yang mengatur perhatian, serta perang narasi yang berlangsung tanpa henti. Dalam lanskap seperti ini, propaganda bukan lagi monopoli rezim otoriter atau tokoh karismatik yang memanipulasi massa, melainkan kondisi sehari-hari yang membentuk cara kita melihat dunia. 

Kita sering mengira bahwa propaganda adalah tindakan jahat yang mudah dikenali, padahal propaganda bekerja paling efektif justru ketika tampil sebagai bagian alami dari kehidupan digital. 

Pemikiran Jacques Ellul terutama melalui karyanya Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes — memberikan kerangka yang sangat relevan untuk memahami bagaimana propaganda telah menyatu dengan teknologi, media, dan budaya modern, serta bagaimana propaganda membentuk opini publik tanpa kita sadari.

1. Pembuka: Propaganda Bukan Lagi Milik Diktator

  • Mulai dengan konteks Indonesia hari ini; banjir informasi, politik algoritmik, perang narasi, buzzer, polarisasi.
  • Tegaskan premis; bahwa propaganda bukan hanya tindakan jahat rezim berkuasa, tetapi kondisi sehari-hari dalam dunia digital.
  • Perkenalkan Jacques Ellul dan bukunya Propaganda: The Formation of Men’s Attitudes sebagai kerangka analisis yang relevan.

2. Ellul: Propaganda adalah Struktur Masyarakat Modern

  • Menurut Ellul, propaganda adalah konsekuensi langsung dari kemajuan teknologi dan media sosial.
  • Propaganda tidak hanya melayani kekuasaan politik, tetapi menyatu dalam sistem ekonomi, budaya, dan teknologi komunikasi.
  • Dalam masyarakat modern, individu tidak bisa menghindar dari propaganda, karena mereka hidup dalam “lingkungan informasi” yang diciptakan.

3. Dua Jenis Propaganda yang Sangat Relevan di Indonesia

a. Propaganda Sosiologis (Paling Halus dan Berbahaya)

  • Penanaman nilai dan norma lewat media, iklan, sekolah, konten viral, hingga selebritas.
  • Contoh relevan Indonesia: normalisasi konsumerisme, narasi “persatuan” yang membungkam kritik, atau romantisasi pembangunan.

b. Propaganda Politik (Terlihat, tapi Tetap Efektif)

  • Kampanye pemilu, influencer politik, framing media, operasi buzzer.
  • Masalah bukan hanya pesan politiknya, tetapi struktur media sosial yang membuat propaganda yang tak terbendung: algoritma, trending, micro-targeting.

 4. Bagaimana Propaganda Membentuk Pikiran?

  • Ellul menekankan bahwa propaganda bekerja bukan pada orang bodoh, tetapi justru pada orang berpendidikan.
  • Pengulangan, penyederhanaan, penciptaan musuh, dan orkestrasi informasi menciptakan ilusi bahwa masyarakat berpikir sendiri.
  • Contoh dalam konteks lokal:
    • Narasi “kita vs mereka” pada pemilu.
    • Reaksi emosional atas isu SARA.
    • Kepercayaan buta pada jargon “stabilitas” atau “demi kepentingan bangsa”.

5. Demokrasi dalam Bahaya: Opini Publik Bukan Lagi Milik Publik

  • Demokrasi mengandalkan publik yang rasional dan mampu mengambil keputusan.
  • Tetapi propaganda modern menciptakan publik yang reaktif, emosional, dan terbelah.
  • Dalam kerangka Ellul, demokrasi rentan berubah menjadi “teknokrasi propaganda” - dimana opini rakyat dikonstruksi melalui data, survei, dan algoritma.

6. Mengapa Buku Ellul Penting Dibaca Hari Ini

  • Era digital memperkuat semua mekanisme propaganda yang digambarkan Ellul.
  • Bukan hanya pemerintah: perusahaan teknologi, korporasi, influencer, lembaga pendidikan, bahkan kelompok keagamaan juga menggunakan propaganda.
  • Tanpa literasi kritis, masyarakat mudah terseret dalam kebisingan narasi dan kehilangan kemampuan berpikir independen.

7. Penutup: Melawan Propaganda dengan Kesadaran

  • Propaganda tidak mungkin dihapus, tetapi bisa dipahami.
  • Kesadaran akan mekanisme propaganda adalah bentuk kebebasan modern.
  • Publik perlu menyadari bahwa kebebasan berpikir bukan diberikan oleh media, melainkan diupayakan, diperjuangkan secara aktif oleh masyarakat.

 ------------ 

Posting Komentar