Rahasia Sebelum Manusia Ada: Renungan atas Episode Awal Kejadian Manusia
1.1. Perintah untuk Memikirkan Asal Kejadian
Manusia
(QS Ar-Rum/30:8)
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۗ
مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ
وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاۤئِ رَبِّهِمْ
لَكٰفِرُوْنَ
“Apakah mereka tidak berpikir tentang (kejadian) dirinya? Allah tidak
menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan
benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya banyak di antara manusia
benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.”
Makna:
Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan manusia untuk merenungkan asal
dirinya. Tafakkur tentang asal-usul ini adalah pintu menuju kesadaran
spiritual.
1.2. Manusia Belum Punya Sebutan (QS Al-Insan/76:1)
هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِنْسَانِ حِيْنٌ مِّنَ
الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْـًٔا مَّذْكُوْرًا
“Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa ketika ia belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Makna:
Ayat ini mengisyaratkan adanya fase pra-eksistensi: masa ketika manusia belum
wujud, belum dikenal, bahkan belum layak disebut. Kesadaran ini mengingatkan
bahwa keberadaan manusia adalah anugerah yang tidak otomatis.
1.3. Dari Tidak Ada Menjadi Ada (QS Maryam/19:67)
اَوَلَا يَذْكُرُ الْاِنْسَانُ اَنَّا
خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ يَكُ شَيْـًٔا
Terjemahan:
“Apakah manusia tidak menyadari bahwa Kami telah menciptakannya dahulu, padahal
sebelumnya ia tidak berwujud sama sekali?”
Makna:
Ayat ini mengembalikan manusia kepada kerendahan dirinya: ia berasal dari ketiadaan.
Kesadaran ini mengikis keangkuhan dan menumbuhkan rasa syukur.
1.4. Penciptaan yang Pertama (QS Al-Waqi‘ah/56:62)
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَةَ الْاُوْلٰى
فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ
Terjemahan:
“Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui penciptaan yang pertama. Mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran?”
Makna:
Manusia diingatkan akan penciptaan pertamanya sebagai bukti bahwa kehidupan,
kematian, dan kebangkitan bukanlah sesuatu yang mustahil bagi Allah.
1.5. Sebaik-Baik Ciptaan (QS At-Tin/95:4)
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ
تَقْوِيْمٍۖ
Terjemahan:
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.”
Makna:
Asal manusia adalah bentuk yang paling sempurna dan proporsional. Kesempurnaan
ini menjadi dasar tanggung jawab moral manusia.
Kebalikannya: Perilaku Manusia di Dunia
Jika asal manusia adalah ciptaan yang luhur, maka penyimpangannya tampak
ketika di dunia ia menyembah hawa nafsunya sendiri.
2.1. Penyembah Hawa Nafsu (QS Al-Jatsiyah/45:23)
اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشَاوَةًۚ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
“Maka, tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, lalu Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci pendengarannya serta hatinya dan meletakkan penutup pada penglihatannya? Maka siapa yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (menyesatkannya)? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?”
2.2. Hawa Nafsu Sebagai Tuhan (QS Al-Furqan/25:43)
اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۚ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا
“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau (Muhammad) akan menjadi pemelihara atasnya?”
2.3. Mengikuti Hawa Nafsu = Kesesatan Nyata (QS Al-Qashash/28:50)
فَاِنْ لَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ اَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ اَهْوَاۤءَهُمْ ۗ وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهٗ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
“Jika mereka tidak mematuhi engkau, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanya mengikuti keinginan hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Bersambung..... episode 2.
Posting Komentar