Secuil Cerita Ustaz Syamsi Ali dari New York: Pelajaran tentang Toleransi dan Supremasi Hukum
Oleh: Jamaluddin Karim dkk
Beberapa tahun silam, dalam salah satu ceramahnya di tanah air, Ustaz
Syamsi Ali pendiri Pesantren Nurul Inka di Amerika Serikat menuturkan kisah
menarik tentang pengalamannya membangun sebuah masjid di Kota New York.
Ketika itu, pengajuan izin pembangunan masjid sempat mendapat penolakan
dari sebagian warga non-Muslim New York. Mereka khawatir kehadiran rumah ibadah
umat Islam akan menimbulkan ketegangan sosial di lingkungan mereka. Namun tak
disangka, tak lama berselang, izin pembangunan justru disetujui tanpa hambatan
berarti.
Yang membuat Ustaz Syamsi Ali terkejut, wali kota New York pada saat itu
ternyata seorang penganut agama Yahudi.
Didorong rasa terima kasih sekaligus keingintahuan, Ustaz Syamsi Ali
mendatangi sang wali kota dan bertanya dengan rendah hati,
“Mengapa Anda begitu mudah memberikan izin pembangunan masjid bagi
kami?”
Sang wali kota menatapnya dengan tenang dan menjawab,
“Konstitusi negara ini mengakui keberadaan semua agama. Jika saya
menghalangi pembangunan rumah ibadah Anda, berarti saya sendiri telah melanggar
undang-undang.”
Jawaban sederhana namun dalam maknanya, begitu membekas bagi saya, kata
Syamsi Ali. Di negeri yang sering dituduh sekuler itu, hukum ternyata berdiri
di atas semua kepentingan bahkan di atas perbedaan agama.
Bagi Ustaz Syamsi Ali, pengalaman itu menjadi cermin tentang bagaimana
toleransi sejati ditegakkan, bukan dengan ucapan manis atau slogan kebersamaan,
tetapi dengan menjamin hak setiap orang untuk beribadah sesuai keyakinannya, di
bawah payung keadilan dan hukum yang tegak oleh negara tanpa diskriminasi.
Inilah yang sering luput dari perhatian banyak bangsa, termasuk bangsa
kita. Toleransi bukan berarti melebur keyakinan, melainkan menjaga ruang bagi
setiap keyakinan untuk tumbuh secara damai. Dan supremasi hukum adalah pondasi
dari kebebasan itu.
Dari New York, sebuah pelajaran besar hadir untuk dunia Islam, “bahwa
keadilan dan penghormatan terhadap perbedaan bukanlah kelemahan, tetapi
kekuatan sejati peradaban suatu negara”.
Posting Komentar