Serakahnomics vs Kongkonomics Dua Wajah Ekonomi Indonesia

Table of Contents

Oleh: Arman Arfah dan Jamaluddin Karim, praktisi kongkonomics

Dalam beberapa tahun terakhir, jurang antara pelaku ekonomi besar dan kecil di Indonesia tampak semakin melebar. Jurang ini bukan semata soal pendapatan, tetapi tentang siapa yang mendapatkan perlindungan negara dan siapa yang dibiarkan bertarung sendirian. Untuk membaca kontras tersebut, dua istilah dapat membantu menjelaskan kenyataan di lapangan adalah “Serakahnomics” dan “Kongkonomics”.

Serakahnomics menggambarkan model ekonomi yang dijalankan oleh pemilik modal besar yang mendapatkan dukungan struktural dari kekuasaan. Akses terhadap konsesi sumber daya alam, proyek strategis, dan regulasi yang menguntungkan sangat ditentukan oleh kedekatan dengan lingkar kekuasaan. Para pelakunya tidak hanya mengejar keuntungan; mereka dapat memastikan posisi dominan dengan mengunci akses melalui jaringan politik. Mereka menikmati “karpet merah” birokrasi yang lentur, akses pembiayaan, perlindungan hukum, hingga aturan main yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Pola Serakahnomics bukan fenomena baru di Indonesia. Sejarah politik-ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa modal besar cenderung tumbuh subur ketika berkelindan dengan kekuasaan. Pasar menjadi arena yang tidak benar-benar kompetitif, tetapi ruang yang telah dipetakan untuk mempertahankan dominasi kelompok kuat. Ketika negara terlalu sibuk melayani kepentingan besar, struktur ekonomi menjadi timpang dan meminggirkan sebagian besar warga.

Sebaliknya, Kongkonomics mencerminkan dunia pelaku ekonomi kecil yang hidup dalam ketidakpastian pendapatan. “Kadang ada, kadang tidak ada” begitulah ritme hidup mereka. Mereka adalah pedagang kecil, pekerja harian, buruh lepas, ojek, petani gurem, serta para pelaku informal lainnya. Mereka adalah single fighter yang bekerja keras dengan modal semangat, bukan modal uang. Tidak ada konsesi, tidak ada fasilitas khusus; yang ada hanyalah nasib, kerja keras, dan kemampuan bertahan.

Ruang sosial yang paling akrab bagi kelompok ini adalah warung kopi. Di sanalah mereka menghabiskan banyak waktu sekedar kongko-kongko, berkeluh kesah, dan saling bertukar informasi tentang peluang ekonomi apa saja yang mungkin digarap hari itu. Warung kopi menjadi ruang intelijen rakyat, tempat strategi bertahan dirumuskan, tempat jejaring kecil dibangun, sekaligus tempat untuk menghela napas di tengah tekanan ekonomi yang tidak pernah longgar. Hidup mereka berada dalam ruang ketidakpastian, namun semangatnya tidak pernah padam. Meski tekanan Serakahnomics menggurita di semua sektor ekonomi, mereka tidak menyerah pada keadaan.

Pertanyaan pentingnya; Mengapa negara begitu cepat hadir untuk Serakahnomics, tetapi begitu lambat untuk Kongkonomics?. Jawabannya terletak pada struktur kuasa. Dalam sistem yang didominasi kepentingan modal besar, suara rakyat kecil tenggelam oleh kepentingan yang lebih bertenaga. Kebijakan pun sering kali hanya memihak kepada mereka yang memiliki kemampuan lobi lebih kuat, bukan mereka yang paling membutuhkan kehadiran negara.

Padahal, tantangan terbesar Indonesia bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan pertumbuhan itu dirasakan secara luas (pemerataan). Negara mestinya harus bergeser dari keberpihakan pada “modal” menuju keberpihakan pada “kesempatan”. Yang dibutuhkan bukan memusuhi pelaku usaha besar, melainkan menciptakan level playing field yang sehat. Persaingan harus ditopang oleh keterbukaan akses dan regulasi yang adil.

Pada saat yang sama, menguatkan Kongko-kongkonomics memerlukan keberanian politik; akses pembiayaan yang realistis, perlindungan sosial yang tepat sasaran, penyederhanaan perizinan, pendampingan usaha, serta kebijakan yang menjadikan pelaku ekonomi kecil sebagai subjek pembangunan.

Indonesia memiliki energi kewirausahaan luar biasa, namun yang kurang adalah keberpihakan kebijakan. Selama negara lebih sibuk mengurus “Serakahnomics”, pelaku Kongkonomics akan terus hidup dalam ketidakpastian. Pertaruhan kita adalah memilih menjadi negara yang hanya membesarkan segelintir elite, atau negara yang mengangkat martabat ekonomi rakyat banyak.

Pembangunan yang berkeadilan menuntut keberanian mengoreksi arah; dari ekonomi yang dikuasai sebagian kecil orang (serakahnomics) menuju ekonomi yang memberi ruang bagi sebanyak mungkin warga (kongkonomics). Ketika negara hadir bagi yang paling kecil, barulah pembangunan layak disebut berpihak pada keadilan.

Posting Komentar