Sulaiman Al Rajhi: Miliarder yang Memilih Miskin Demi Kekayaan Abadi
Disunting oleh: Muzayyin Arief
Saudi Arabia 11/11/20205, Sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi mungkin tidak setenar pendiri perusahaan teknologi dunia. Namun di Arab Saudi, ia adalah legenda hidup. Bersama saudara-saudaranya, ia mendirikan Al Rajhi Bank, lembaga keuangan syariah terbesar di dunia. Tapi kisah ini bukan tentang angka atau saham, melainkan tentang perjalanan kerendahan hati seorang miliarder yang memutuskan untuk “memilih miskin” demi kekayaan abadi di akhirat.
Al Rajhi lahir dalam kemiskinan. Ia bukan anak bangsawan atau pewaris
kerajaan bisnis. Sejak kecil, ia harus bekerja keras menjadi kuli panggul, juru
masak, dan pedagang kecil di pasar. Dari pekerjaan kasar itulah ia belajar arti
disiplin, kejujuran, dan ketekunan. “Saya belajar menghitung uang orang lain
sebelum memiliki uang sendiri,” katanya dalam sebuah wawancara.
Pada masa itu, ekonomi Saudi masih bertumpu pada perdagangan tradisional
dan jasa penukaran uang bagi jamaah haji. Dari sektor itulah Al Rajhi mulai
menapaki karier bisnis. Ia dan saudara-saudaranya kemudian membangun usaha
penukaran valuta asing yang berkembang menjadi jaringan besar dan akhirnya
melahirkan Al Rajhi Bank yang kini diakui sebagai bank syariah terbesar
di dunia, dengan aset mencapai ratusan miliar dolar AS.
Forbes pernah mencatat kekayaannya lebih dari 7 miliar dolar AS, dan
menempatkannya di jajaran miliarder Timur Tengah. Namun ketika banyak orang
kaya membeli pulau pribadi atau jet mewah, Sulaiman Al Rajhi justru membuat
keputusan yang mengejutkan dunia, ia menyerahkan sebagian besar hartanya untuk
kemanusiaan.
Al Rajhi membagi kekayaannya ke dalam dua bagian besar; satu untuk
keluarganya, dan satu lagi untuk umat.
Bagian pertama, ia berikan kepada anak-anaknya saat masih
hidup, bukan sebagai jaminan hidup mewah, melainkan sebagai modal agar mereka
belajar bekerja keras dan mengembangkan usaha sendiri, seperti dirinya dulu.
Bagian kedua, yang jauh lebih besar, ia wakafkan
melalui Sulaiman Bin Abdulaziz Al Rajhi Charitable Foundation.
Aset yang diwakafkan bukan sembarangan; saham Al Rajhi Bank, peternakan
unggas berskala internasional, serta perkebunan kurma yang luas. Semua
dialihkan untuk menjadi sumber dana abadi bagi pendidikan, kesehatan,
penelitian, dan bantuan sosial.
“Saya ingin anak-anak saya menikmati hasil kerja keras saya, tetapi saya
juga ingin mereka belajar bekerja keras seperti saya, bukan hanya menikmati
warisan,” ujarnya suatu kali.
Keputusan itu membuat namanya lenyap dari daftar miliarder dunia, tetapi
justru di situlah ia menemukan ketenangan yang lebih dalam. “Saya tidak
kehilangan apa pun,” katanya, “karena semua yang saya wakafkan akan kembali
dalam bentuk pahala tanpa batas.”
Meski mampu memiliki jet pribadi, Al Rajhi dikenal hidup sederhana, ia
sering bepergian dengan penerbangan komersial kelas ekonomi, makan di rumah
sederhana, dan tetap mengenakan pakaian tradisional yang sama seperti masa
mudanya.
Bagi Sulaiman Al Rajhi, uang adalah alat, bukan tujuan. Ia menyebut
dirinya “orang miskin di dunia, tetapi kaya di akhirat.” Ia memilih hidup tanpa
kemewahan agar dapat merasakan kedekatan dengan orang-orang yang dulu pernah
hidup bersamanya dalam kesederhanaan.
Yayasan wakaf yang ia dirikan kini membiayai ribuan proyek; pembangunan
universitas nirlaba di Arab Saudi, penyediaan air bersih di desa-desa gersang,
hingga program pengentasan kemiskinan di berbagai negara Muslim. Salah satu
universitasnya, Sulaiman Al Rajhi University, bahkan dikenal sebagai
model pendidikan berbasis wakaf modern yang mengajarkan sains dan teknologi,
namun berakar pada nilai-nilai Islam dan filantropi.
Kisah Sulaiman Al Rajhi mengajarkan kepada kita bahwa kekayaan sejati
tidak diukur dari apa yang kita kumpulkan, melainkan dari apa yang kita
berikan. Ia membuktikan bahwa warisan terbaik bukanlah uang yang menumpuk di
rekening, melainkan memberikan kesempatan bagi orang lain untuk hidup lebih
baik.
Meskipun seorang miliarder, ia tetap rendah hati dan bersahaja,
menunjukkan bahwa keberhasilan finansial tidak harus merenggut kemanusiaan.
Tindakannya menjadi pengingat yang kuat bahwa puncak kesuksesan sesungguhnya
adalah ketika kita mampu menjadi jembatan bagi orang lain untuk meraih
kesuksesan mereka sendiri.
Bagi dunia bisnis modern yang sering menuhankan profit, pilihan Al Rajhi
terasa paradoksal; seorang miliarder yang justru melepaskan kekayaannya. Namun
di situlah letak kebijaksanaannya bahwa uang yang dihabiskan akan hilang,
sementara uang yang diinfakkan akan menjadi investasi abadi.
Sulaiman Al Rajhi membuktikan bahwa menjadi kaya bukanlah dosa, tetapi
melupakan makna kekayaanlah akan membuat manusia miskin yang sesungguhnya.
Sumber:
Forbes, CNBC Indonesia, Tempo.co, Detik Finance, dan situs resmi Sulaiman
Bin Abdulaziz Al Rajhi Charitable Foundation (rf.org.sa, waqfsr.org.sa).
Posting Komentar