TNI Turun ke Morowali: Apakah Akhir dari Era “Negara dalam Negara”?
Jakarta 27/11/2025, 1123 Rep.
Penurunan pasukan gerak cepat TNI di Bandara Khusus PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mungkin tampak sebagai langkah keamanan biasa. Namun jika dicermati lebih jauh, peristiwa ini merupakan salah satu sinyal politik paling penting di awal pemerintahan Prabowo Subianto. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, negara secara terbuka menegaskan kembali kontrol atas fasilitas strategis yang selama ini beroperasi seperti “wilayah privat” di jantung industri nikel nasional.
Selama bertahun-tahun, IMIP berkembang menjadi
pusat industri logam terbesar di Asia Tenggara. Kombinasi modal raksasa China
dan jejaring bisnis domestik menjadikan kawasan ini bukan sekadar kawasan
industri, melainkan kota industri lengkap; bandara, pelabuhan, rumah sakit,
transportasi internal, perumahan pekerja, bahkan aturan internal yang tidak
seluruhnya berada di bawah pengawasan negara. Tak heran banyak yang menyebutnya
sebagai “negara dalam negara” - metafora bagi kekuasaan korporasi yang
melampaui birokrasi formal.
Masuknya TNI ke bandara perusahaan menandai
putusnya pola lama itu. Negara ingin memastikan bahwa fasilitas udara, objek
vital strategis, tidak boleh berada di luar kendali aparat keamanan. Pesan ini
ditujukan bukan hanya kepada IMIP, tetapi kepada seluruh kawasan industri besar
yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh tanpa kerangka tata kelola negara
yang memadai.
Pertanyaannya; apakah ini sekadar penertiban
rutin, atau sinyal bahwa pemerintah sedang menata ulang relasi kuasa antara
negara RI, investor asing, dan oligarki domestik?.
Banyak pihak tergesa-gesa menafsirkan langkah
ini sebagai tanda Indonesia menjauh dari China. Pembacaan itu mungkin terlalu
sederhana. Pemerintah tetap membutuhkan modal, teknologi, dan jaringan industri
China untuk memperkuat rantai pasok kendaraan listrik. Namun negara juga
menyadari risiko bila akses strategis seperti bandara dan pelabuhan dikuasai
korporasi - siapa pun mitranya. Ini bukan soal China tapi soal kedaulatan.
Di balik langkah ini juga ada dinamika politik
dalam negeri yang tak kalah signifikan. IMIP bukan hanya proyek industri,
tetapi simpul kepentingan ekonomi dan politik. Para pengusaha besar di sektor
nikel memiliki jejaring kuat dengan elite nasional, birokrasi, dan tokoh
daerah.
Di era sebelumnya, mereka beroperasi relatif bebas dari intervensi negara
selama investasi mengalir lancar dan produksi stabil. Tetapi penurunan pasukan
TNI kini dapat dibaca sebagai pesan dari Presiden Prabowo bahwa era investasi
“tanpa pagar negara” mulai berakhir. Negara ingin hadir kembali, bukan hanya
sebagai fasilitator korporasi besar, tetapi sebagai pengendali negara sesuai
amanat konstitusi.
Namun perlu dicatat bahwa kehadiran negara
bukan berarti mengambil alih. Pemerintah tampaknya tidak akan, dan tidak perlu,
berkonfrontasi langsung dengan oligarki nikel. Industri ini adalah tulang
punggung ekspor dan penyerap tenaga kerja; konflik terbuka hanya akan
mengganggu stabilitas ekonomi. Yang ingin ditegaskan pemerintah adalah batas-batasnya;
investasi tetap diterima, tetapi negara yang menentukan mana yang diperbolehkan
dan mana yang tidak.
Dari sisi politik, langkah ini menguntungkan Presiden
Prabowo. Citra sebagai pemimpin kuat yang menjaga kedaulatan negara tentu saja menguat
di mata publik. Persepsi bahwa Indonesia terlalu bergantung pada investor
tertentu juga dapat diperbaiki. Namun langkah ini berpotensi mengganggu
keseimbangan yang selama ini menguntungkan sebagian elite bisnis. Jika ke depan
negara menertibkan pelabuhan khusus, logistik internal, atau arus tenaga kerja
asing, barulah gesekan nyata dengan oligarki akan muncul.
Apa pun arahnya, intervensi negara di Morowali
akan menjadi preseden. Morowali adalah simbol. Jika negara mampu menata ulang
pusat industri sebesar ini, maka kawasan lain pun semestinya ditata dengan
pendekatan serupa. Jika tidak, langkah TNI sekarang ini hanya akan dipandang
sebagai episode simbolik yang tak mengubah struktur apa-apa dalam kekuasaan.
Pada akhirnya publik akan bertanya; apakah
pemerintah benar-benar ingin mengakhiri era “negara dalam negara”, atau hanya
sedang mengatur ulang siapa yang menguasai apa?. Pertanyaan ini penting sekali,
karena masa depan industri strategis Indonesia bergantung pada sejauh mana
negara mampu berdiri atas nama kepentingan publik - bukan tunduk pada
kepentingan korporasi.
Dan
Morowali, setidaknya untuk saat ini, menjadi panggung tempat pertarungan itu
mulai diperlihatkan.
Posting Komentar