Pemadaman Listrik dan Internet Menjadi Tirai Pembantaian di Iran
editorial
Peringatan keras datang dari Shirin Ebadi, peraih Nobel Perdamaian, mengenai situasi yang tengah berlangsung di Iran. Dalam pemberitaan video yang disiarkan kanal YouTube Tribun News, Ebadi menyebut bahwa pemadaman listrik dan internet berpotensi menjadi kedok terjadinya pembantaian terhadap warga sipil.
“Jika internet dan listrik diputus total, dunia tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi di Iran,” ujar Ebadi sebagaimana dikutip Tribun News. Ia menegaskan bahwa pemadaman tersebut bukan gangguan teknis, melainkan taktik sistematis untuk menutup akses informasi dan menyembunyikan kekerasan negara terhadap demonstran.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya gelombang protes di berbagai kota Iran. Demonstrasi yang awalnya dipicu persoalan ekonomi berkembang menjadi kritik terbuka terhadap rezim. Namun, respons aparat keamanan justru memperlihatkan eskalasi represi, mulai dari pembubaran paksa hingga penggunaan kekuatan mematikan.
Pemadaman sebagai Senjata Politik
Seperti diberitakan Tribun News, Ebadi menyebut bahwa pemutusan internet adalah pola klasik negara represif. Ketika kamera ponsel warga tak lagi bisa mengunggah video, ketika pesan tak bisa dikirim, dan ketika media internasional kehilangan sumber langsung, maka kekerasan dapat dilakukan tanpa saksi.
“Pemadaman ini memberi ruang bagi aparat untuk bertindak tanpa pengawasan publik,” tegas Ebadi.
Sejarah mencatat bahwa strategi serupa kerap digunakan di Iran setiap kali protes berskala besar terjadi. Internet bukan sekadar sarana komunikasi, melainkan alat perlindungan warga sipil. Ketika akses itu diputus, warga kehilangan satu-satunya mekanisme pertahanan sipil: dokumentasi dan perhatian global.
Dunia yang Dipaksa Buta
Yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini bukan hanya represi itu sendiri, melainkan upaya sistematis untuk membuat dunia internasional buta dan tuli. Dalam kondisi normal, pelanggaran HAM dapat diverifikasi, dilaporkan, dan ditekan melalui diplomasi global. Namun dalam kegelapan digital, kekerasan dapat berlangsung tanpa akuntabilitas.
Tribun News mengutip kekhawatiran Ebadi bahwa jumlah korban bisa jauh lebih besar dari yang diketahui publik, karena rumah sakit, keluarga korban, dan saksi lapangan tidak mampu mengirimkan informasi keluar negeri.
Pemadaman listrik pada malam hari juga memperparah situasi. Kota-kota yang gelap memberi ruang bagi operasi aparat keamanan tanpa dokumentasi visual. Dalam konteks ini, pemadaman bukan sekadar kebijakan darurat, tetapi instrumen kekuasaan.
Ujian bagi Komunitas Internasional
Peringatan Shirin Ebadi seharusnya menjadi alarm moral bagi dunia internasional. Diamnya negara-negara demokratis terhadap praktik pemadaman total sama artinya dengan membiarkan kekerasan terjadi di balik layar Iran.
Jika dunia hanya bereaksi setelah internet kembali menyala dan korban telah berjatuhan, maka solidaritas itu datang terlambat.
Seperti disiratkan Ebadi dalam laporan Tribun News, kejahatan terbesar rezim represif bukan hanya menindas rakyatnya, tetapi mematikan kesaksian tentang penindasan itu sendiri.
Penutup
Ketika negara memadamkan listrik dan internet secara serentak, yang sesungguhnya dipadamkan bukanlah jaringan melainkan hak untuk hidup tanpa rasa takut. Dan ketika dunia membiarkan kegelapan itu berlangsung, maka kita semua menjadi bagian dari keheningan yang memungkinkan tragedi terjadi.
Shirin Ebadi,
Posting Komentar