Bani Israil Sedang Dikumpulkan: Membaca Realitas Modern (QS Al-Isra/17:104)

Table of Contents
Oleh: Mukhsin Al Habsyi

Al-Qur’an bukan hanya kitab petunjuk spiritual, tetapi juga kitab yang merekam pola sejarah umat manusia dalam kehendak Allah. Menceritakan masa lalu dan mengungkap proses sejarah yang terus berlangsung. Salah satu pernyataan yang paling jelas tentang hal ini terdapat dalam firman Allah SWT:

وَّقُلْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ لِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اسْكُنُوا الْاَرْضَ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ جِئْنَا بِكُمْ لَفِيْفًاۗ

Dan Kami berfirman setelah itu kepada Bani Israil: Tinggallah di negeri ini. Maka apabila datang janji akhir itu, Kami akan mendatangkan kamu dalam keadaan bercampur baur (lafîfâ). (QS Al-Isra: 104)

Ayat ini mengandung satu pernyataan tegas bahwa Allah SWT yang akan mengumpulkan Bani Israil. 

Kata ji’nâ bikum (جِئْنَا بِكُمْ) berarti Kami akan mendatangkan kalian. Subjeknya adalah Allah, bukan manusia. Ini menunjukkan bahwa pengumpulan itu bukan semata hasil kekuatan politik, militer, atau diplomasi, tetapi bagian dari skenario ilahi yang berlangsung dalam sejarah.

Al-Qur’an menggunakan satu kata yang sangat spesifik untuk menggambarkan keadaan mereka yaitu lafîfâ. Dalam bahasa Arab, lafîfâ berarti kumpulan yang bercampur, tidak homogen, datang dari berbagai arah, dan tidak berada dalam satu kesatuan spiritual yang utuh. Ini bukan gambaran umat yang bersatu dalam iman, tetapi kumpulan manusia dengan latar belakang yang beragam.

Jika kita melihat realitas modern, gambaran ini tampak nyata. Selama hampir dua ribu tahun, orang-orang Yahudi tersebar di seluruh dunia di Eropa, Rusia, Timur Tengah, Afrika, dan wilayah lainnya. Namun sejak akhir abad ke-19, dan terutama setelah Perang Dunia II, mereka mulai kembali secara massal ke satu wilayah yang kini dikenal sebagai *Israel*. Mereka datang dari berbagai bangsa, bahasa, budaya, dan bahkan keyakinan. Sebagian religius, sebagian sekuler, sebagian nasionalis, dan sebagian lainnya tidak beragama sama sekali.

Mereka bukan satu umat yang seragam, melainkan sebuah kumpulan global yang bercampur persis seperti yang digambarkan Al-Qur’an dengan istilah lafîfâ.

Fenomena ini menunjukkan satu kenyataan penting bahwa sejarah tidak bergerak secara acak melainkan bergerak dalam kehendak Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah bukan hanya Tuhan langit, tetapi juga Tuhan sejarah. Dia mengangkat suatu kaum, Dia menyebarkan mereka, dan Dia pula yang mengumpulkan mereka kembali.

Namun Al-Qur’an juga memberikan peringatan yang tidak terpisahkan dari pengumpulan ini:

“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di bumi dua kali dan kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.”
(QS Al-Isra: 4)

Ini menunjukkan bahwa pengumpulan bukanlah semata-mata tanda kemuliaan, tetapi bagian dari ujian. Dalam hukum ilahi, pengumpulan dan kekuasaan selalu diikuti dengan pengujian moral. Tidak ada kaum yang kebal dari hukum ini. Sejarah Bani Israil sendiri menunjukkan pola tersebut; ketika mereka taat, mereka dilindungi; ketika mereka menyimpang, mereka kehilangan perlindungan itu.

Karena itu, pengumpulan mereka hari ini harus dipahami sebagai bagian dari fase sejarah yang berada dalam kendali Allah. Mereka sedang dikumpulkan, bukan karena kekuatan mereka semata, tetapi karena Allah telah menetapkan bahwa mereka akan dikumpulkan dalam keadaan lafîfâ.

Bagi umat Islam, ini bukan peristiwa politik biasa, tetapi tanda kekuasaan Allah dalam sejarah. Hal ini menunjukkan bahwa firman Allah bukan sekadar teks, tetapi juga realitas yang terus berlangsung. Apa yang dinyatakan Al-Qur’an empat belas abad lalu kini tampak sebagai proses yang nyata di hadapan manusia.

Namun Al-Qur’an juga menegaskan satu prinsip yang tidak berubah:

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan suatu negeri secara zalim, selama penduduknya berbuat kebaikan.”
(QS Hud: 117)

Artinya, yang menentukan akhir suatu kaum bukanlah identitas mereka, tetapi keadilan dan moralitas mereka. Pengumpulan bukan akhir dari sejarah, tetapi awal dari ujian.

Dengan demikian, apa yang terjadi hari ini dapat dipahami sebagai bagian dari realisasi firman Allah dalam (QS Al-Isra ayat 104). Bani Israil sedang dikumpulkan dalam keadaan lafîfâ, sebagaimana yang telah dinyatakan Al-Qur’an. Ini bukan kebetulan sejarah, tetapi bagian dari kehendak Allah yang bekerja melalui waktu.

Sejarah, dalam pandangan Al-Qur’an, bukanlah rangkaian peristiwa tanpa makna melainkan adalah panggung tempat kehendak Allah dinyatakan, dan pengumpulan Bani Israil adalah salah satu bab dari panggung tersebut, sebuah tanda bahwa Allah adalah pengatur sejarah, dan bahwa pada akhirnya, keadilan-Nya akan berlaku atas seluruh umat manusia.

Wallahu a’lam bissawab.

******


Posting Komentar