Benteng yang Retak, Bukan Runtuh: Momentum Rekonstruksi Moral HMI
Di usia ke-79, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri. Kritik tajam dari senior seperti Hasan M. Noer (Detik Sultra 06/02/2022) bukanlah serangan dari luar pagar, melainkan suara dari dalam rumah yang merasakan retak pada dinding moralnya. Pertanyaannya apakah HMI masih setia pada janji sucinya? melahirkan insan berilmu yang menjaga nurani. Jika benar ada retak, maka yang dibutuhkan bukan pembelaan emosional, melainkan keberanian untuk membangun kembali, merekatkan nilai, memperkuat fondasi, dan meneguhkan arah Insan Cita HMI.
Kegelisahan itu tidak lahir dalam ruang hampa. Banyak alumni HMI kini berada di pusat kekuasaan di pemerintahan, parlemen, lembaga hukum, hingga BUMN. Secara kuantitatif, ini prestasi yang tak kecil. Namun sejarah mengajarkan, keberhasilan struktural tidak selalu identik dengan keberhasilan moral. Kekuasaan adalah ujian paling sunyi yang sifatnya yang tidak merusak secara tiba-tiba, tetapi perlahan, melalui kompromi kecil yang dibenarkan, kemewahan yang dimaklumi, dan diam yang dianggap strategi.
Kritik yang dilontarkan - Hasan M. Noer - tampak relevan. Bukan untuk menjatuhkan organisasi, tetapi untuk menyelamatkan arah. HMI lahir dari kegelisahan intelektual dan keberanian iman, yang dibangun bukan untuk mencetak elite, melainkan untuk menghadirkan insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur.
Jika nilai ini hanya menjadi hafalan dalam forum kaderisasi, sementara praktik hidup menjauh dari semangat pengabdian, maka retakan itu akan melebar.
Namun penting juga ditegaskan, retak bukan berarti runtuh. Organisasi besar tidak hancur karena kritik, tapi justru melemah ketika alergi terhadap koreksi. Karena itu, momentum 79 tahun HMI seharusnya menjadi ruang muhasabah yang jujur, bukan seremoni serba simbolik, melainkan evaluasi substantif terhadap arah kaderisasi dan kultur etiknya.
Rekonstruksi moral HMI setidaknya membutuhkan tiga langkah.
Pertama, revitalisasi kaderisasi berbasis integritas publik. Kader HMI tidak cukup hanya cakap berwacana dan piawai berorganisasi. Mereka harus disiapkan menghadapi realitas sistem yang sarat kepentingan. Pendidikan etika kekuasaan, transparansi, pengelolaan konflik kepentingan, serta keberanian mengambil posisi yang tidak populer perlu menjadi bagian integral dari proses pembentukan kader. Kekuasaan harus dipahami sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar jenjang karier.
Kedua, membangun kultur akuntabilitas alumni. Jejaring alumni HMI adalah kekuatan besar, tetapi pengaruh tanpa refleksi dapat berubah menjadi privilese tanpa kontrol. Tradisi saling mengingatkan perlu dihidupkan kembali. Teguran yang jujur lebih bermartabat daripada pembelaan yang membabi buta. Organisasi harus berpihak pada nilai dan kebenaran, bukan pada figur atau jabatan. Ketika ada alumni menyimpang, kritik bukanlah pengkhianatan, melainkan bentuk kepedulian terhadap marwah bersama.
Ketiga, menggeser ukuran keberhasilan organisasi. Kebanggaan tidak cukup diukur dari seberapa banyak kader menduduki posisi strategis. Ukuran yang lebih penting adalah kualitas keberpihakan: sejauh mana mereka konsisten membela keadilan, menjaga integritas, dan menolak praktik koruptif. HMI akan dihormati bukan karena dekat dengan kekuasaan, tetapi karena tetap kritis ketika kekuasaan menyimpang.
Sejarah peradaban menunjukkan bahwa keruntuhan tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan sumber daya, melainkan oleh melemahnya akhlak elite. Karena itu, ujian terbesar HMI hari ini bukanlah akses terhadap jabatan, melainkan ketahanan terhadap godaan. Idealime memang sering dituduh sebagai romantisme masa muda, tetapi tanpa idealisme, organisasi akan kehilangan ruhnya.
Benteng moral memang bisa retak oleh tekanan zaman. Namun selama kesadaran untuk memperbaiki masih hidup, ia belum runtuh. Kritik dari dalam tubuh organisasi adalah tanda bahwa nurani kolektif belum padam. Justru dari kegelisahan itulah pembaruan bisa lahir.
Di usia ke-79 ini, HMI dipanggil untuk kembali menegaskan orientasinya, membela nilai, bukan tokoh; menjaga kebenaran, bukan kenyamanan; dan menempatkan amanah di atas ambisi. Rekonstruksi moral bukan proyek sesaat, melainkan komitmen berkelanjutan untuk memastikan bahwa setiap kader yang melangkah ke ruang publik membawa kompas yang jelas.
Jika HMI mampu menjadikan kritik sebagai energi pembaruan, maka retak itu akan menjadi titik penguatan, bukan awal keruntuhan. Dan dari sanalah benteng moral itu akan berdiri kembali lebih kokoh, lebih matang, dan lebih siap menghadapi ujian zaman.
*****
Posting Komentar