Board of Peace (BoP) dan Harapan yang Tersisa di Gaza

Table of Contents

 

Oleh: Abdul Rahman Sappara 

Di tengah suara dentuman bom yang seolah menjadi bahasa sehari-hari di Gaza, harapan masa depan tampak sebagai sesuatu yang sangat mahal. Dunia telah menyaksikan berulang kali bagaimana konflik bersenjata antara Israel dan Hamas tidak hanya menghancurkan sasaran militer, tetapi juga meruntuhkan fondasi kehidupan masyarakat sipil. Gedung-gedung tinggi runtuh, rumah sakit lumpuh, dan kawasan permukiman berubah menjadi puing-puing. Dalam fakta kehancuran seperti ini, kehadiran Board of Peace (BoP) menjadi salah satu dari sedikit inisiatif yang memberi harapan bahwa eskalasi kekerasan masih dapat diredam.

Selama ini, konflik Gaza bukan hanya pertempuran dua kekuatan yang saling berhadapan tapi telah menjadi tragedi kemanusiaan yang menempatkan masyarakat sipil sebagai korban utama. Anak-anak kehilangan orang tua, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan generasi masa depan kehilangan rasa aman. Setiap serangan bukan hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga meruntuhkan struktur sosial dan psikologis masyarakat.

Tanpa upaya intervensi yang serius dari komunitas internasional, kehancuran ini berpotensi terus berlanjut tanpa batas yang jelas, kapan akhirnya. Bahkan, dalam banyak kasus, bangunan yang rusak bukan sekedar korban serangan, tetapi juga diruntuhkan secara terencana melalui demolition planning. Kondisi ini memperpanjang penderitaan masyarakat. Gaza tidak hanya tapi juga sedang dilucuti secara sistematis.

Dalam konteks inilah, kehadiran "Board of Peace (BoP)" menjadi penting. BoP memang tidak serta-merta bisa menghentikan seluruh konflik, tetapi bisa berfungsi sebagai penahan laju kehancuran di Gaza. 

Peran BoP membuka ruang bagi de-eskalasi, mengurangi intensitas kekerasan, dan yang paling penting adalah memberikan sinyal bahwa perdamaian masih menjadi tujuan yang mungkin dicapai. Dalam situasi di mana diplomasi formal selalu tersandera oleh kepentingan politik global, maka inisiatif seperti BoP menjadi alternatif yang relevan dan mendesak.

Keberadaan BoP juga memiliki makna moral yang dapat membangkitkan kesadaran manusia bahwa kita tidak boleh kehilangan harapan. Setiap upaya untuk meredam konflik, sekecil apa pun, adalah bentuk perlawanan terhadap normalisasi kekerasan.

Kita harus jujur mengakui bahwa tanpa upaya-upaya seperti ini, Gaza akan terus menghadapi kehancuran demi kehancuran yang lebih total. Eskalasi tanpa kendali tidak hanya memperpanjang perang, tetapi perdamaian akan semakin sulit dicapai jika kehancuran terus menjadi realitas sehari-hari.

Sejarah telah menunjukkan bahwa perang selalu meninggalkan jejak yang lebih panjang daripada masa berlangsungnya. Yang hancur bukan hanya kota, tetapi juga kepercayaan, stabilitas dan harapan. Karena itu, setiap inisiatif perdamaian harus dipandang bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai kekuatan moral dan politik yang bertujuan menyelamatkan masa depan.

Board of Peace, mungkin bukan solusi akhir. Namun dalam situasi di mana kehancuran tampak tak bisa terhindarkan maka kehadiran BoP menjadi lampu kuning bahwa harapan belum padam. Dan dalam setiap konflik, harapan adalah hal terakhir yang tak boleh dibiarkan mati.

Salam ARS

*****


Posting Komentar