Dua Arus Utama Agama: Wahyu Ilahi dan Bisikan Setan
Oleh: Al Gifari Saymsuri Ismail
Tampilan agama di bumi memperlihatkan dua arus utama yang secara lahiriah tampak sama, namun secara esensial berbeda. Manusia bisa pergi ke masjid, gereja, sinagog, atau rumah ibadah lainnya; mereka berdoa, bersujud, membaca kitab suci, dan menyebut nama Tuhan.
Secara kasat mata, semuanya tampak serupa sama-sama
religius. Namun Al-Qur’an mengungkap bahwa di balik tampilan yang sama,
terdapat dua sumber yang berbeda yakni wahyu yang murni dari Allah dan
bisikan yang telah dipengaruhi oleh setan.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa setiap wahyu yang diturunkan
kepada para nabi menghadapi upaya gangguan, manipulasi dari setan. Namun Allah
tidak membiarkan wahyu itu tercemar. Allah sendiri yang menghapus campur tangan
setan dan meneguhkan wahyu-Nya dalam kemurnian.
Allah berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad) seorang rasul pun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, maka Allah menghapus apa yang dimasukkan setan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Ayat ini menunjukkan dua fakta penting:
pertama, setan berusaha mengganggu proses wahyu;
kedua, Allah sendiri yang membersihkan dan
mengokohkan wahyu tersebut sebelum sampai sebagai kebenaran yang pasti kepada
nabi.
Allah juga menegaskan bahwa wahyu Al-Qur’an dijaga secara
mutlak dari campur tangan setan:
لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلْمُطَهَّرُونَ
(QS. Al-Waqi’ah: 79)
“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.”
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami
benar-benar menjaganya.”
Namun, gangguan setan tidak berhenti pada wahyu itu
sendiri. Ketika wahyu telah disucikan dan disampaikan kepada manusia, setanpun
mengalihkan strateginya dengan membisikkan pemahaman, tafsir dan dorongan yang
menyimpang ke dalam hati manusia yang beragama. Setan tidak selalu mengajak
kepada kekafiran terang-terangan, tetapi juga melalui pembenaran religius, ego
spiritual, dan klaim kebenaran eksklusif.
Allah berfirman:
"Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari
jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian yang lain perkataan-perkataan indah yang menipu.”
Ayat ini sangat tegas menggunakan kata “yuhi” (يُوحِي)
Adalah “membisikkan wahyu”. Artinya, setan juga menciptakan “wahyu tandingan”;
bukan wahyu ilahi, tetapi bisikan yang menyerupai wahyu, yang terasa
meyakinkan, indah dan benar, padahal bersifat menipu.
Karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan beragama di
dunia menjadi sangat beragam, terpecah dalam kelompok-kelompok, dan
masing-masing merasa paling benar. Fenomena ini telah diperingatkan dalam
Al-Qur’an:
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka”.
Untuk melindungi diri dari pengaruh “wahyu manipulative
setan” yang dibisikkan setan kepada manusia-manusia beragama, harus menjaga
dengan ketat tiga pintu utama kesadaran manusia antaralain; pikiran, perasaan
dan ucapan. Setan masuk melalui celah ego tersebut; menjadi kesombongan,
kemarahan, fanatisme dan ambisi spiritual.
Allah memperingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.”
Setan tidak selalu datang dengan kebatilan yang jelas,
tetapi sering datang dengan kebenaran yang telah dibelokkan. Setan dapat
menggunakan bahasa agama, ayat suci, hadis bahkan simbol kesalehan. Sebab setan
telah mengetahui wahyu, mendengarnya dan memahami strukturnya, tetapi setan menggunakannya
untuk menyesatkan, bukan untuk ketaatan kepada Allah swt.
Karena itu, perjuangan sejati manusia beragama bukan
hanya melawan kekafiran yang nyata, tetapi juga melawan bisikan halus yang
menyusup ke dalam kesalehan itu sendiri. Di situlah garis pemisah antara agama
sebagai jalan menuju Tuhan versus agama sebagai pantulan ego yang telah
dipengaruhi oleh setan.
Wallahu a’lam bissawab’
*****
Posting Komentar