Enam Jalan Keluar dari Kebodohan Struktural
Oleh Mubha Kahar Muang
Terinspirasi dari tulisan WA Yunan Lampasio
Kecerdasan sering kali direduksi menjadi angka Intelligence Quotient (IQ), seolah hal itu sesuatu yang statis dan ditentukan sejak lahir. Cara pandang ini bukan hanya menyederhanakan kompleksitas manusia, tetapi juga berpotensi menormalisasi kebodohan sebagai takdir. Padahal, dalam kehidupan sosial, kecerdasan lebih tepat dipahami sebagai proses yang dibentuk secara sistemik, bukan semata-mata skor psikometrik.
Tulisan ini terinspirasi dari refleksi WA Yunan Lampasio yang secara implisit, menggugat anggapan bahwa kebodohan adalah bawaan alamiah. Sebaliknya, kebodohan itu lahir dari ketiadaan ekosistem yang memungkinkan kecerdasan tumbuh. Setidaknya terdapat enam syarat yang saling berkaitan, tidak berdiri sendiri, agar seseorang dapat keluar dari perangkap kebodohan struktural.
Pertama, membaca. Tidak ada pengetahuan tanpa membaca. Membaca membuka akses pada gagasan, pengalaman, dan cara pandang baru. Namun membaca saja tidak cukup. Tanpa proses lanjutan, membaca akan berhenti sebagai konsumsi informasi yang pasif. Agar hasil membaca menjadi pengetahuan yang mengendap dan bermakna, membaca harus dilanjutkan dengan dengan menulis.
Kedua, menulis. Menulis memaksa seseorang menyusun dan menguji pikirannya sendiri. Aktifitas merangkai kata dalam menulis menjadi alat untuk membedakan antara benar-benar memahami dan sekadar merasa paham. Namun menulis tanpa "penelitian" akan rawan melahirkan klaim subjektif yang tidak teruji. Opini dapat tampak meyakinkan, tetapi rapuh secara faktual. Karena itu, menulis perlu ditopang oleh penelitian.
Ketiga, meneliti. Penelitian memberi dasar validitas bagi pengetahuan. Penelitian menautkan gagasan dengan data dan pengalaman empiris yang dapat dipertanggung-jawabkan. Tanpa penelitian, pengetahuan akan mudah terjebak pada keyakinan subjektif. Meski demikian, penelitian pun tidak kebal dari bias dan keterbatasan. Penelitian bisa tertutup dan terisolasi. Oleh sebab itu, hasil penelitian perlu diuji melalui diskusi.
Keempat, berdiskusi. Diskusi membuka ruang koreksi dan memperkaya perspektif. Dalam dialog, diskusi, pengetahuan diuji secara sosial. Asumsi dapat dipertanyakan, kesalahan dikenali, dan pemahaman diperdalam. Akan tetapi, seluruh proses intelektual membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi tidak akan berjalan optimal jika kondisi biologis manusia diabaikan. Kurang gizi, sakit-sakitan dan sebagainya.
Kelima, terpenuhi gizi. Otak adalah organ biologis yang memerlukan nutrisi. Gizi yang buruk terbukti menurunkan kemampuan kognitif, daya konsentrasi, dan memori. Karena itu, pemenuhan gizi merupakan syarat dasar bagi kerja intelektual. Namun gizi yang cukup pada dasarnya hanya menjamin fungsi kognitif minimum agar manusia dapat bertahan hidup secara layak.
Untuk melampaui batas tersebut, terdapat satu faktor lain yang kerap dipandang paradoksal yaitu kemiskinan.
Keenam, “miskin”. Kemiskinan yang dimaksud bukanlah romantisasi penderitaan, melainkan ketiadaan kenyamanan berlebih dan privilese struktural. Dalam batas tertentu, keterbatasan justru memaksa manusia berpikir lebih keras, lebih kreatif, dan lebih disiplin. Sejarah menunjukkan bahwa banyak lompatan intelektual lahir dari kondisi serba terbatas. Sebaliknya, kemapanan yang terlalu nyaman sering melahirkan stagnasi berpikir, rasa cukup yang mematikan dorongan untuk bertanya dan menggugat.
Tekanan hidup, pada titik tertentu, berfungsi sebagai pendorong ketajaman akal.
Pada akhirnya, kecerdasan bukanlah takdir genetik semata, melainkan hasil interaksi antara kebiasaan intelektual, kondisi biologis, dan tekanan sosial-ekonomi. Ketika salah satu unsur absen, kecerdasan mudah berubah menjadi kesemuan.
Jika kebodohan masih meluas, persoalannya barangkali bukan terletak pada individu semata, melainkan pada "sistem yang gagal menyediakan ekosistem kecerdasan secara utuh".
Di titik inilah refleksi WA Yunan Lampasio menemukan relevansinya bahwa kebodohan bukan sekadar soal kurang pintar, melainkan soal lingkungan yang tidak pernah menuntut manusia untuk benar-benar berpikir.
*****
Posting Komentar