Firman Tuhan: Teks yang Selesai atau Realitas yang Terus Hidup?

Table of Contents

Oleh: Samir Pademmui, Pimp Ponpes An Nazier

Sejak dahulu kala, manusia bertanya tentang hakikat firman Tuhan. Ketika firman itu tertulis dalam kitab suci seperti Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an, muncul pertanyaan mendasar: Apakah firman Tuhan telah selesai sebagai teks yang statis, ataukah merupakan realitas ilahi yang terus hidup dan mengalir tanpa henti di alam semesta?

Pertanyaan ini bukan hanya masalah dalam ranah agama, tetapi juga termasuk dalam wilayah filsafat dan cara manusia memahami hubungan antara Tuhan, alam dan keberadaan (materi).

Firman sebagai Wahyu yang Menjadi Teks

Dalam pengertian yang paling nyata, firman Tuhan diturunkan kepada para nabi melalui proses *wahyu*, kemudian disampaikan kepada manusia dalam bentuk bahasa, suara, dan akhirnya tulisan. Proses ini terjadi dalam ruang dan waktu tertentu. Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Daud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam bentuk ini, firman Tuhan menjadi teks yang dapat dibaca, dihafal dan dipelajari. Teks wahyu memiliki struktur kalimat, huruf dan susunan, urutan yang tetap. Secara fisik, kitab suci tampak seperti dokumen yang telah selesai diturunkan. Tidak ada ayat baru yang ditambahkan setelah wahyu berakhir. Dalam pengertian ini, firman Tuhan sebagai teks memang memiliki bentuk yang telah selesai.

Namun, memahami firman Tuhan hanya sebagai teks fisik adalah melihat dengan hanya satu sisi kecil dari realitas yang lebih dalam dan kompleks.

Firman sebagai Realitas Ilahi yang Melampaui Tulisan

Dalam banyak tradisi teologi, firman Tuhan tidak dipahami sekadar sebagai tinta di atas kertas atau suara yang diucapkan. Tulisan dan suara adalah bentuk lahiriah, sedangkan firman itu sendiri bersumber dari Tuhan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Teks adalah representasi, bukan hakikat itu sendiri. Sebagaimana sebuah makna dapat tetap hidup meskipun ditulis berulang kali di berbagai media. Firman Tuhan dipahami sebagai sesuatu yang melampaui bentuk fisiknya. Firman bukan semata huruf, tetapi makna ilahi yang dinyatakan melalui huruf-huruf.

Dalam pandangan ini, firman Tuhan tidak “berakhir” hanya karena wahyu telah selesai diturunkan. Yang selesai adalah proses penyampaian wahyu dalam bentuk tertentu, tetapi sumbernya tetap abadi.

Firman dan Kehidupan Alam Semesta

Dalam pendekatan spiritual yang lebih dalam, firman Tuhan bisa dipahami sebagai prinsip yang terus hadir dalam keberadaan. Alam semesta sendiri dipandang sebagai manifestasi kehendak dan firman Tuhan. Segala sesuatu yang ada tunduk pada hukum-hukum yang mencerminkan keteraturan, keseimbangan dan makna.

Dengan cara pandang ini, firman Tuhan tidak hanya terdapat dalam kitab, tetapi juga tercermin dalam realitas. Kitab suci menjadi petunjuk yang membantu manusia memahami makna yang lebih luas, bukan membatasi firman hanya pada teks."Firman Tuhan dalam kitab adalah Pintu, bukan Batas.

Batas Ilmu Pengetahuan dan Realitas Metafisik

Ilmu pengetahuan modern bekerja dengan mengamati dan mengukur hal-hal yang dapat ditangkap oleh indra atau alat. Ilmu mempelajari materi, energi, dan hukum-hukum fisik. 

Namun, firman Tuhan dalam pengertian metafisik bukanlah objek material. Firman tidak memiliki massa, panjang gelombang atau bentuk fisik yang dapat diukur.

Karena itu, ketidakmampuan sains untuk mendeteksi firman Tuhan bukanlah bukti bahwa firman itu tidak ada, melainkan menunjukkan bahwa firman berada di luar wilayah metode ilmiah.

Sains menjelaskan bagaimana alam bekerja, sedangkan wahyu berbicara tentang makna dan tujuan keberadaan.

Teks yang Tetap, Makna yang Terus Hidup

Pada akhirnya, firman Tuhan dapat dipahami memiliki dua dimensi yang saling melengkapi. Dalam dimensi lahiriah, firman hadir sebagai teks yang tetap dan tidak berubah. Teks menjadi pedoman yang dapat dipelajari oleh manusia sepanjang zaman.

Namun dalam dimensi batiniah, firman Tuhan dipahami sebagai realitas ilahi yang tidak terbatas (unlimited). Firman tidak berhenti pada huruf, tetapi terus hidup dalam makna, kesadaran dan keberadaan itu sendiri.

Dengan demikian, firman Tuhan bukanlah teks mati yang berhenti pada masa lalu, tetapi juga bukan sesuatu yang terpisah dari kitab. Kitab adalah bentuk yang memungkinkan manusia mendekati firman, sedangkan firman itu sendiri melampaui segala bentuk apa pun.

Firman Tuhan adalah wahyu yang telah diturunkan, namun maknanya tetap hidup. Firman telah tertulis, namun tidak pernah berhenti berbicara kepada mereka yang mencari ilmu dan pemahaman.

wallahu a'lam bissawab'

*****

Posting Komentar