Gizi Syarat Mutlak untuk Membangun Kualitas SDM

Table of Contents

Disunting oleh: Valentina Nur Handayani, S.I.Kom, alumni UIN Makassar

Menyahuti tulisan Ibu Mubha Kahar Muang di laman Daivonews berjudul “Enam Jalan Keluar dari Kebodohan Struktural”, ada satu simpul penting yang layak ditegaskan lebih jauh bahwa kebodohan struktural tidak semata-mata lahir dari kemiskinan sistem pendidikan, melainkan juga dari pengabaian negara terhadap fondasi biologis manusia itu sendiri.

Indonesia, sejatinya, tidak kekurangan lembaga pendidikan. Dari jalur formal hingga nonformal, dari organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, lembaga Gereja, hingga institusi pemerintah dan swasta, semuanya relatif aktif menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, dan pelatihan. Tenaga pendidik dan pelatih pun tersedia melimpah, dengan kegiatan yang berlangsung rutin maupun insidental.

Secara kuantitatif, Indonesia bahkan bisa disebut “ramai” oleh aktivitas pendidikan. Namun kenyataan menunjukkan, intensitas tersebut belum mampu mengangkat kualitas kecerdasan kolektif bangsa secara signifikan. Daya nalar kritis, kemampuan literasi, serta produktivitas intelektual masyarakat masih tertinggal. Inilah paradoks pendidikan kita - aktivitas melimpah, namun hasil belum sepadan.

Disinilah persoalan gizi sering luput dari analisis besar tentang kebodohan struktural. Sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum yang terus diperbarui, bahkan metode pembelajaran modern, tidak akan bekerja optimal bila kondisi biologis peserta didik tidak mendukung. Otak bukan hanya entitas sosial atau ideologis, melainkan organ biologis yang pertumbuhannya sangat bergantung pada kecukupan gizi.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa kekurangan gizi termasuk stunting dan defisiensi mikronutrien berdampak langsung pada kemampuan kognitif, konsentrasi, daya ingat, dan kecepatan belajar. Anak yang mengalami gangguan gizi sejak dini membawa beban tersebut hingga dewasa. Pendidikan lanjutan dan pelatihan berulang namun kesannya hanya menjadi upaya tambal sulam atas kerusakan yang sudah terjadi lebih awal.

Karena itu, jika kebodohan struktural hendak diurai hingga ke akarnya, maka perbaikan gizi nasional harus ditempatkan sebagai "prasyarat utama" pembangunan sumber daya manusia (SDM). Gizi bukan sekadar isu kesehatan, melainkan fondasi intelektual bangsa. Investasi besar di sektor pendidikan akan kehilangan daya dorongnya bila negara gagal memastikan bahwa peserta didik tumbuh dengan asupan gizi yang memadai.

Dengan gizi yang baik, ditopang oleh fasilitas pendidikan yang layak, proses pengajaran dan pelatihan yang berkualitas, serta anggaran riset yang serius dan berkelanjutan, peningkatan kualitas kolektif SDM Indonesia bukanlah utopia. Dan harus selalu di ingat, Tanpa itu semua, pembangunan manusia hanya akan menjadi proyek besar yang tampak megah di atas kertas, tetapi rapuh dalam kenyataan.

*****

Posting Komentar