Iran Berubah dari Narasi Rudal ke Investasi

Table of Contents


Oleh: Wawan Setiawan, penulis

Selama puluhan tahun, konflik Iran dan Amerika Serikat selalu dibayangi ancaman konflik militer, rudal, perang dan ketegangan tanpa akhir. Namun kini, Iran mulai ciut atau menggunakan pendekatan yang berbeda. Bukan lagi menunjukkan kekuatan militernya, tetapi kini menawarkan kerja sama ekonomi khususnya di bidang minyak dan gas.

Sekilas langkah ini terlihat sepertinya Iran melemah. Namun ini bisa juga dibaca sebagai strategi baru Iran yang lebih cerdas. Iran tidak berhenti melawan tekanan Amerika, tetapi sekarang mencoba mengubah cara menghadapi tekanan tersebut.

Selama ini, Amerika menekan Iran melalui sanksi ekonomi yang berat. Sanksi ini membuat ekonomi Iran sulit berkembang, membatasi ekspor minyak, dan mengurangi investasi asing. Di sisi lain, Iran berusaha bertahan dengan memperkuat militernya dan membangun pengaruh di kawasan Timur Tengah. Strategi ini membuat Iran tetap bertahan, tetapi tidak cukup untuk memperbaiki kondisi ekonominya secara signifikan.

Iran tampaknya menyadari bahwa bertahan saja tidak cukup. Untuk benar-benar bisa keluar dari tekanan sanksi, Iran perlu mengubah hubungannya dengan Washington. Salah satu caranya adalah membujuk "Donald J. Trump" untuk berinvestasi di Iran khususnya sektor minyak, Gas dan pertambangan.

Iran memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar. Sumber daya ini sangat dibutuhkan dunia. Dengan menawarkan peluang investasi kepada Amerika, Iran berharap menciptakan kepentingan bersama. Jika perusahaan Amerika berinvestasi di Iran, maka stabilitas Iran juga akan menjadi kepentingan Amerika.

Logikanya sederhana. Negara akan lebih berhati-hati terhadap negara lain jika memiliki kepentingan ekonomi di sana. Konflik tidak lagi hanya soal politik, tetapi juga soal kerugian ekonomi. Tidak ada negara yang ingin kehilangan investasi atau keuntungan besar akibat perang.

Strategi ini menunjukkan perubahan penting di Teheran. Jika sebelumnya Iran mencoba mencegah serangan dengan menunjukkan kekuatan militernya, kini Iran mencoba mencegah konflik dengan menciptakan hubungan kepentingan ekonomi bersama Iran dan AS.

Langkah ini juga menunjukkan bahwa Iran memahami perubahan cara dunia bekerja. Saat ini, hubungan antar-negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kepentingan ekonomi. Negara yang saling terhubung secara ekonomi cenderung lebih berhati-hati untuk berkonflik secara terbuka.

Tentu, strategi ini bukan tanpa risiko. Membuka sektor energi kepada pihak luar dapat menimbulkan ketergantungan atau pengaruh asing. Namun bagi Iran, membuka peluang kerja sama mungkin lebih baik daripada terus berada dalam isolasi ekonomi.

Yang sedang terjadi bukanlah akhir dari konflik, tetapi perubahan cara menghadapi konflik. Iran tidak sanggup lagi hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga menggunakan ekonomi sebagai alat untuk melindungi kepentingannya.

Jika strategi ini berhasil, Iran tidak perlu memenangkan perang secara militer. Cukup dengan membuat perang menjadi tidak menguntungkan bagi semua pihak terutama Amerika Serikat.

Inilah wajah baru konflik modern. Bukan lagi tentang siapa yang lebih kuat secara militer, tetapi siapa yang lebih mampu menciptakan kepentingan ekonomi bersama dan sama-sama meraih untung. 

Dan Iran tampaknya sedang bergerak ke arah itu.

Wawan Setiawan, penulis.

Posting Komentar