Jika Bangsa Ini Kurang Gizi, Apa Risikonya bagi Indonesia?
Kurang gizi bukan hanya persoalan tubuh yang lemah, bisa juga menjadi metafora tentang lemahnya daya pikir, daya juang, daya integritas, dan daya saing sebuah bangsa. Jika generasi tumbuh tanpa kekuatan fisik dan ketajaman nalar, yang rapuh bukan hanya individu melainkan masa depan negara.
Ketika kita berbicara tentang “bangsa yang kurang gizi”, persoalannya tidak berhenti pada stunting atau angka statistik kesehatan. Yang dipertaruhkan adalah ketahanan ideologi, kekuatan ekonomi, kapasitas negara, dan kualitas karakter warganya. Bangsa yang rapuh akan mengalami kekalahan demi kekalahan dalam berbagai bidang strategis.
1. Pancasila akan terus tersisih oleh ideologi dan teori asing, bukan karena ia lemah, tetapi karena generasi yang rapuh lebih mudah terpesona daripada mengkritisi.
2. Konstitusi akan selalu berubah mengikuti tekanan pemilik modal atau kepentingan eksternal (asing), jika daya kritis publik dan integritas elite tidak cukup kokoh menjaganya.
3. Investor dalam negeri akan selalu dikalahkan oleh bandar asing di bursa, ketika ketahanan modal dan kecerdasan membaca pasar tidak dibangun secara serius.
4. Aparat penegak hukum akan tertinggal dari kecepatan dan kecanggihan bandar narkoba dan Judi, jika jaringan kejahatan bergerak lebih lincah daripada kapasitas negara.
5. Bisnis ritel lokal akan terus tergerus oleh waralaba asing, karena inovasi, manajemen, dan keberanian ekspansi tidak tumbuh dari fondasi yang kokoh.
6. Industri manufaktur akan kalah bersaing dengan barang impor, sebab produktivitas dan kualitas sumber daya manusia belum cukup kuat menopang kemandirian produksi.
7. Penjaga pintu masuk negara akan selalu kecolongan oleh penyelundup, ketika integritas dan profesionalisme tidak diperkuat secara sistemik.
8. Pejabat negara akan mudah goyah oleh bujuk rayu mafia dan kepentingan sempit, jika karakter dan ketahanan moral tidak ditanamkan sejak dini.
9. Ilmuwan dan teknokrat akan tertinggal oleh inovasi asing, karena riset, penguasaan teknologi, dan investasi pengetahuan tidak menjadi prioritas utama.
10. Aktivisme akan berubah menjadi panggung pencitraan; foto lebih sering dipamerkan daripada gagasan diperjuangkan.
11. Masyarakat akan mudah termakan doktrin, propaganda, dan provokasi. Emosi lebih cepat menyala daripada akal sehat bekerja. Lebih banyak berbicara daripada berpikir, lebih cepat bereaksi daripada menganalisis, lebih gemar berdebat daripada mencari kebenaran. Lebih nyaman menjadi pengikut (follower) daripada pembelajar yang mendalam dan objektif.
Pada akhirnya, kurang gizi bukan hanya soal kesehatan, melainkan persoalan strategis bangsa. Gizi yang cukup melahirkan tubuh yang kuat. Pendidikan yang baik melahirkan pikiran yang tajam. Karakter yang kokoh melahirkan integritas yang tahan uji.
Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kenyang, tetapi bangsa yang cerdas, berani, berdaulat, dan berintegritas.
Jika fondasi manusianya rapuh, maka kedaulatan negara pun akan mudah runtuh.
*****
Posting Komentar