Kekurangan Gizi Kecerdasan

Table of Contents

Oleh: Ryu Midun, wartawa alumni UIN Makassar

Indonesia hari ini mungkin tidak lagi identik dengan kelaparan massal. Namun kita belum sepenuhnya bebas dari kekurangan gizi. Bukan hanya gizi fisik yang masih tercermin dalam angka stunting sekitar 21 persen, tetapi juga gizi intelektual. Jika gizi menentukan tumbuh kembang tubuh, maka literasi dan tradisi berpikir menentukan tumbuh kembang peradaban.

Data berbicara cukup jelas. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menempatkan skor membaca siswa Indonesia di kisaran 359, jauh di bawah rata-rata OECD yang berada di atas 470. Hanya sebagian kecil siswa yang mencapai tingkat literasi minimum.

Dalam Global Innovation Index (GII) 2023, Indonesia berada di peringkat 60-an dari lebih 130 negara. Belanja riset nasional masih berkisar 0,2–0,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) jauh di bawah negara yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemajuan.

Masalahnya bukan sekadar angka. Angka-angka itu menggambarkan sesuatu yang lebih dalam seputar lemahnya budaya berpikir kritis dan rendahnya ekosistem produksi pengetahuan di Indonesia, tentu termasuk kader HMI.

Namun ada gejala sosial lain yang lebih menarik. Di tengah data tersebut, kita justru sering menyaksikan ledakan klaim kecerdasan. Media sosial dipenuhi pernyataan paling benar, paling tahu, paling ahli. Seseorang dengan percaya diri menyimpulkan persoalan geopolitik global dalam satu paragraf. Yang lain menghakimi sains, ekonomi, bahkan konstitusi hanya dengan membaca judul berita.

Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai Dunning Kruger Effect (efek Dunning Kruger) adalah individu dengan kompetensi rendah cenderung melebih-lebihkan kemampuannya, karena tidak memiliki kapasitas untuk menyadari keterbatasannya. Sebaliknya, mereka yang benar-benar menguasai bidang tertentu justru lebih berhati-hati dalam berbicara. Mereka tahu betapa kompleksnya persoalan.

Pepatah lama mengatakan, “padi makin berisi makin merunduk.” Ungkapan itu bukan romantisme agraris, melainkan refleksi sosiologis tentang karakter orang berilmu. Dalam sejarah modern, hampir tak pernah kita menemukan peraih Nobel yang memperkenalkan diri sebagai “ilmuwan paling hebat”.

Albert Einstein kerap menggambarkan dirinya sebagai orang yang hanya sekedar penasaran seperti anak kecil. Marie Curie bekerja dalam diam tanpa membangun kultus pribadi. Abdus Salam, fisikawan peraih Nobel dari Pakistan, tetap rendah hati meski menjadi simbol kebanggaan dunia Islam.

Keheningan mereka bukan kelemahan. Itu tanda kedalaman.

Bandingkan dengan kultur diskursus kita hari ini. Perdebatan sering berubah menjadi ajang pembuktian ego. Kebenaran tidak lagi dicari, tetapi katanya dimiliki. Argumentasi bukan dibangun, melainkan diteriakkan. Orang yang paling keras bukan yang paling benar tetapi sering dianggap paling ingin meyakinkan orang lain.

Di sinilah metafora “kekurangan gizi kecerdasan” menemukan relevansinya. Kekurangan gizi fisik membuat tubuh kurang tumbuh dan rentan. Kekurangan gizi intelektual membuat nalar dangkal dan mudah emosi dan terprovokasi. Keduanya sama-sama berbahaya bagi masa depan bangsa.

Kita tentu tidak boleh terjebak pada pesimisme. Ada kemajuan signifikan dalam akses pendidikan, penetrasi internet, dan jumlah perguruan tinggi. Namun akses informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman berpikir. Justru di era banjir informasi, kemampuan menyaring, memverifikasi, dan menganalisis menjadi lebih penting daripada sekadar membaca.

Masalah mendasarnya mungkin bukan pada kecerdasan individual, tetapi pada ekosistem. Budaya membaca belum menjadi tradisi keluarga di Indonesia. Diskusi publik lebih sering bersifat reaktif daripada reflektif. Riset belum menjadi prioritas anggaran. Sains belum sepenuhnya menjadi fondasi kebijakan.

Akibatnya, kita menghasilkan generasi yang percaya diri ego, tetapi tidak selalu kompeten. Percaya diri memang penting. Namun tanpa fondasi literasi keilmuan dan latihan berpikir kritis, percaya diri mudah berubah menjadi ilusi kompetensi.

Bangsa besar tidak dibangun oleh orang-orang yang merasa paling pintar, tapi dibangun oleh orang-orang yang sadar bahwa dirinya belum cukup tahu. Kerendahan hati intelektual adalah bahan bakar kemajuan. Dari kesadaran akan keterbatasan itulah lahir penelitian, eksperimen, dan inovasi.

Kekurangan gizi bisa diatasi dengan protein, zat besi, dan intervensi kesehatan. Kekurangan gizi kecerdasan hanya bisa diatasi dengan literasi, disiplin berpikir, dan kerendahan hati.

Dan mungkin, tanda paling jelas dari kecerdasan sejati bukanlah seberapa keras seseorang mengumumkan dirinya hebat, melainkan seberapa tenang ia menyadari bahwa dirinya masih harus terus belajar.

Salam

*****

Posting Komentar