Kenapa tertawa manusia di dunia ini ekspresinya hampir sama. Kenapa?
Coba perhatikan. Orang Indonesia tertawa, orang Jepang tertawa, orang Brasil tertawa giginya kelihatan, matanya menyipit, bahunya naik-turun, kadang kepalanya mendongak seolah sedang menerima wahyu receh. Kenapa ekspresinya hampir sama? Apakah ini konspirasi global yang disepakati dalam sidang rahasia di markas besar PBB? Atau sejak bayi kita sudah ikut “kursus internasional tertawa level dasar”?
Jawabannya sederhana. Karena kita ini satu spesies
bernama *Homo sapiens*. Sistem saraf kita mirip,
otot wajah kita hampir sama, dan pusat humor kita walau isinya beda-beda bekerja
dengan pola biologis yang serupa. Saat ada sesuatu yang dianggap lucu, otak
mengirim sinyal, otot “zygomaticus mayor” tertarik, mulut melebar, udara
terdorong keluar, dan keluarlah suara “ha-ha-ha-ha” yang lintas suku, budaya
dan bangsa.
Lucunya, dalam hal tertawa kita begitu kompak. Tapi dalam
hal memahami apa yang layak ditertawakan, kita bisa terbelah seperti grup
WhatsApp keluarga saat membahas politik.
Ada yang tertawa karena komedi cerdas.
Ada yang tertawa karena terpeleset kulit pisang.
Ada yang tertawa karena orang lain terpeleset… lalu pura-pura peduli.
Secara evolusi, para ilmuwan menyebut tawa sebagai sinyal
sosial. Dia berkata, “Tenang, ini aman.” Tertawa adalah bahasa damai. Bayangkan
kalau setiap kali kita salah paham langsung baku hantam, maka peradaban mungkin
tidak sampai pada tahap cicilan 25 tahun seperti sekarang. Tawa adalah rem
tangan peradaban.
Tapi di zaman media sosial, tawa juga berevolusi; ada
tawa tulus, ada tawa emoji, ada tawa yang diketik “wkwkwk” padahal wajahnya
datar seperti papan GRC interior.
Kita hidup di masa ketika orang bisa menulis “HAHAHAHA”
sambil mengernyit. Atau tertawa di komentar, tapi hatinya sedang mengasah
argumen. Tawa menjadi simbol diplomasi digital yang terlihat ramah, tapi sebenarnya
waspada.
Menariknya, meski budaya berbeda, ekspresi dasar tertawa
hampir seragam. Orang di desa, orang di kota, pejabat, buruh, akademisi,
penjual gorengan, semuanya kalau benar-benar tertawa, wajahnya sulit berbohong.
Mata akan berbicara. Tubuh akan ikut bergerak. Tertawa yang tulus sulit
dipalsukan.
Mungkin karena tawa itu lebih tua dari bahasa. Sebelum
manusia menulis konstitusi, sebelum debat kusir, sebelum istilah “netizen +62”
ditemukan, nenek moyang kita sudah tertawa di sekitar api unggun. Mereka belum
punya mikrofon, tapi sudah punya humor.
Ironisnya, dalam banyak hal kita berbeda warna kulit,
bahasa, ideologi, bahkan selera sambal namun ketika tertawa kita kembali
menjadi sama. Seolah-olah alam mengingatkan; Hei, kalian boleh berbeda
pendapat, tapi struktur wajah kalian tetap satu desain.
Maka mungkin saja, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi
“Kenapa tertawa manusia hampir sama?” Melainkan, “Kenapa dalam hal lain kita
sering lupa bahwa kita sama?”
Kalau tertawa saja bisa menyatukan ekspresi, mungkin bisa
juga menyatukan perspektif, asal bukan tertawa mengejek, tapi tertawa yang
mencairkan.
Jadi lain kali, anda melihat seseorang tertawa, entah di
warung kopi atau di ruang rapat ber-AC, ingatlah; bahwa di balik perbedaan yang
rumit, ada satu bahasa universal yang sederhana, itulah tawa.
Dan kabar baiknya, bahasa itu gratis lho. Tidak perlu
subsidi. Tidak perlu izin impor. Tinggal dipakai saja. Wkwkwkwk
*****
.jpg)
Posting Komentar