Kenapa tertawa manusia di dunia ini ekspresinya hampir sama. Kenapa?

Table of Contents

Oleh: Ir. Juliadi Hakim

Coba perhatikan. Orang Indonesia tertawa, orang Jepang tertawa, orang Brasil tertawa giginya kelihatan, matanya menyipit, bahunya naik-turun, kadang kepalanya mendongak seolah sedang menerima wahyu receh. Kenapa ekspresinya hampir sama? Apakah ini konspirasi global yang disepakati dalam sidang rahasia di markas besar PBB? Atau sejak bayi kita sudah ikut “kursus internasional tertawa level dasar”?

 

Jawabannya sederhana. Karena kita ini satu spesies bernama *Homo sapiens*. Sistem saraf kita mirip, otot wajah kita hampir sama, dan pusat humor kita walau isinya beda-beda bekerja dengan pola biologis yang serupa. Saat ada sesuatu yang dianggap lucu, otak mengirim sinyal, otot “zygomaticus mayor” tertarik, mulut melebar, udara terdorong keluar, dan keluarlah suara “ha-ha-ha-ha” yang lintas suku, budaya dan bangsa.

 

Lucunya, dalam hal tertawa kita begitu kompak. Tapi dalam hal memahami apa yang layak ditertawakan, kita bisa terbelah seperti grup WhatsApp keluarga saat membahas politik.

 

Ada yang tertawa karena komedi cerdas.
Ada yang tertawa karena terpeleset kulit pisang.
Ada yang tertawa karena orang lain terpeleset… lalu pura-pura peduli.

 

Secara evolusi, para ilmuwan menyebut tawa sebagai sinyal sosial. Dia berkata, “Tenang, ini aman.” Tertawa adalah bahasa damai. Bayangkan kalau setiap kali kita salah paham langsung baku hantam, maka peradaban mungkin tidak sampai pada tahap cicilan 25 tahun seperti sekarang. Tawa adalah rem tangan peradaban.

 

Tapi di zaman media sosial, tawa juga berevolusi; ada tawa tulus, ada tawa emoji, ada tawa yang diketik “wkwkwk” padahal wajahnya datar seperti papan GRC interior.

 

Kita hidup di masa ketika orang bisa menulis “HAHAHAHA” sambil mengernyit. Atau tertawa di komentar, tapi hatinya sedang mengasah argumen. Tawa menjadi simbol diplomasi digital yang terlihat ramah, tapi sebenarnya waspada.

 

Menariknya, meski budaya berbeda, ekspresi dasar tertawa hampir seragam. Orang di desa, orang di kota, pejabat, buruh, akademisi, penjual gorengan, semuanya kalau benar-benar tertawa, wajahnya sulit berbohong. Mata akan berbicara. Tubuh akan ikut bergerak. Tertawa yang tulus sulit dipalsukan.

 

Mungkin karena tawa itu lebih tua dari bahasa. Sebelum manusia menulis konstitusi, sebelum debat kusir, sebelum istilah “netizen +62” ditemukan, nenek moyang kita sudah tertawa di sekitar api unggun. Mereka belum punya mikrofon, tapi sudah punya humor.

 

Ironisnya, dalam banyak hal kita berbeda warna kulit, bahasa, ideologi, bahkan selera sambal namun ketika tertawa kita kembali menjadi sama. Seolah-olah alam mengingatkan; Hei, kalian boleh berbeda pendapat, tapi struktur wajah kalian tetap satu desain.

 

Maka mungkin saja, pertanyaan sesungguhnya bukan lagi “Kenapa tertawa manusia hampir sama?” Melainkan, “Kenapa dalam hal lain kita sering lupa bahwa kita sama?”

 

Kalau tertawa saja bisa menyatukan ekspresi, mungkin bisa juga menyatukan perspektif, asal bukan tertawa mengejek, tapi tertawa yang mencairkan.

 

Jadi lain kali, anda melihat seseorang tertawa, entah di warung kopi atau di ruang rapat ber-AC, ingatlah; bahwa di balik perbedaan yang rumit, ada satu bahasa universal yang sederhana, itulah tawa.

 

Dan kabar baiknya, bahasa itu gratis lho. Tidak perlu subsidi. Tidak perlu izin impor. Tinggal dipakai saja. Wkwkwkwk


*****

 


Posting Komentar