Makan Enak Belum Tentu bergizi, tapi makan Bergizi bisa dibuat enak
Meski telah pensiun dari profesi guru, saya masih kerap mengunjungi sekolah-sekolah tempat saya pernah mengabdi, termasuk sekolah-sekolah lain di mana rekan-rekan serta adik tingkat masih aktif mengajar. Salah satu hal yang menarik perhatian saya dalam kunjungan-kunjungan tersebut adalah pelaksanaan program MBG (Makan Bergizi Gratis).
Keluhan yang paling sering saya dengar dari para peserta didik berkaitan dengan rasa makanan MBG yang mereka nilai “tidak enak”. Penilaian ini disampaikan secara polos dan jujur. Meski terdengar sederhana, keluhan ini sejatinya mengandung persoalan serius yang dapat mempengaruhi keberhasilan program.
Pada dasarnya, menu makanan bergizi secara teori memang tidak selalu identik dengan masakan enak seperti makanan warung atau restoran yang mengandalkan bumbu penyedap rasa. Namun demikian, makanan bergizi sejatinya tetap bisa dibuat enak apabila dimasak oleh juru masak atau chef yang memiliki pengalaman serta kepekaan terhadap selera rasa masyarakat.
Secara prinsip, konsep gizi seimbang mengharuskan pemenuhan kebutuhan energi anak sekolah melalui komposisi makanan yang proporsional, yaitu sekitar 45-65 persen energi berasal dari karbohidrat, 10-20 persen dari protein, dan 20-30 persen dari lemak, serta dilengkapi vitamin, mineral, dan serat dari sayur serta buah. Asupan protein, khususnya protein hewani, berperan penting dalam pertumbuhan fisik, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh anak.
Ahli gizi di SPPG umumnya berfokus pada pemenuhan standar angka kecukupan gizi tersebut melalui perhitungan keseimbangan zat gizi makro dan mikro. Namun, dalam praktiknya, terpenuhinya angka kecukupan gizi belum tentu berbanding lurus dengan tingkat penerimaan makanan oleh anak. Di sinilah peran juru masak menjadi sangat penting, yakni mengolah bahan pangan bergizi dengan teknik memasak dan bumbu yang tepat agar makanan tetap sehat sekaligus memiliki cita rasa yang dapat diterima.
Berbagai hasil kajian menunjukkan bahwa status gizi anak berhubungan langsung dengan konsentrasi belajar, daya ingat, dan prestasi akademik. Anak dengan asupan gizi seimbang cenderung lebih fokus mengikuti pelajaran dan memiliki tingkat kehadiran sekolah yang lebih baik. Sebaliknya, kekurangan energi dan protein dapat menurunkan fungsi kognitif, membuat anak mudah lelah, dan mengantuk saat belajar.
Kekurangan zat gizi mikro seperti zat besi, yodium, dan zinc juga terbukti berdampak pada kemampuan berpikir dan pemecahan masalah. Anak yang mengalami anemia, misalnya, memiliki risiko penurunan prestasi belajar hingga 10-15 persen dibandingkan anak dengan status gizi normal. Artinya, keberhasilan program MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kualitas pembelajaran dan pembangunan sumber daya manusia jangka panjang.
Di lapangan, dapur MBG yang dikenal sebagai SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) diawasi oleh tenaga ahli gizi. Namun sayangnya, masih banyak ahli gizi yang minim pengalaman memasak, sehingga kerap terjadi perbedaan pandangan dengan juru masak yang lebih memahami selera rasa lokal. Kondisi ini menyebabkan menu yang secara perhitungan sudah memenuhi standar gizi, tetapi kurang diminati oleh anak-anak alias banyak makanan sisa.
Jika kolaborasi antara ahli gizi dan juru masak tidak terbangun secara seimbang, maka tujuan besar program MBG akan sulit tercapai. Makanan bergizi yang tidak dikonsumsi secara optimal akan mengurangi dampak positif program terhadap peningkatan konsentrasi belajar, prestasi akademik, dan kualitas sumber daya manusia.
Oleh karena itu, keberhasilan program MBG semestinya tidak hanya diukur dari terpenuhinya angka kecukupan gizi di atas kertas, tetapi juga dari sejauh mana makanan tersebut diterima, dinikmati dan benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak. Makan enak memang belum tentu bergizi, tetapi makan bergizi sesungguhnya bisa dan harus dibuat enak.
.jpg)
Posting Komentar