Mengenang Ummul Mukminin, Khadijah binti Khuwailid Al-Kubra

Table of Contents

Disunting oleh: M. Samuruddin Pademmui

peringatan hari wafatnya, 11 Ramadhan tahun ke-10 setelah kenabian,

hati kaum beriman kembali tergetar mengenang seorang wanita agung - wanita yang dengan seluruh jiwa, raga, dan hartanya mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya.

Khadijah Al-Kubra tidak hanya sebagai istri pertama Muhammad saw namun adalah penopang risalah di masa-masa paling sunyi. Khadijah adalah wanita mulia, bangsawan Quraisy, saudagar terpandang, hingga dikisahkan bahwa dua pertiga kekayaan Makkah berada dalam genggamannya. 

Namun ketika ajal menjemput, ia pergi tanpa membawa apa pun - bahkan sehelai kain kafan pun tak ia miliki. Pakaian terakhir yang dikenakannya adalah baju sederhana dengan delapan puluh tiga tambalan.

Dengan suara lirih dan hati yang penuh tawakal, ia berbisik kepada putrinya tercinta, Fatimah:

“Wahai putriku, aku merasa ajalku telah dekat. Yang kutakutkan hanyalah siksa kubur. Mintalah kepada ayahmu sorban yang biasa beliau gunakan saat menerima wahyu, agar kelak menjadi kain kafanku. Aku malu memintanya sendiri.”

Belum lagi permintaan itu tersampaikan, Rasulullah saw berkata dengan mata berkaca-kaca,
“Wahai Khadijah, Allah mengirimkan salam untukmu, dan telah Dia siapkan bagimu tempat yang mulia di surga.”

Maka pergilah Khadijah Al-Kubra, Ummul Mukminin, menghembuskan napas terakhir di pangkuan suami tercinta. Rasulullah saw mendekap jasad istrinya dengan duka yang amat dalam. Air mata mulia beliau pun jatuh, mengiringi kepergian wanita yang paling setia dalam hidupnya.

Dalam suasana haru itu, Jibril ‘alaihis salam turun membawa lima kain kafan. Ketika Rasulullah bertanya, Jibril menjawab bahwa kain-kain itu diperuntukkan bagi Khadijah, Rasulullah saw, Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, dan kemudian Jibril terdiam, air matanya mengalir. Ia menyebut satu nama lagi Husain bin Ali yang kelak gugur tanpa kafan di padang Karbala.

Di sisi jasad Khadijah, Rasulullah saw berbisik penuh cinta:

“Demi Allah, aku tidak pernah mendapatkan istri sepertimu, wahai Khadijah. Engkau beriman ketika orang lain mendustakanku. Engkau mengorbankan seluruh hartamu untuk Islam. Mengapa permintaan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorbanku?”

Air mata beliau kian deras, mengenang hari-hari berat yang mereka lalui bersama.

Suatu ketika, sepulang dari dakwah yang penuh caci dan luka, Rasulullah saw mendapati Khadijah tengah menyusui Fatimah kecil. Kala itu, seluruh harta telah habis. Bahkan makanan pun nyaris tak ada, hingga dikisahkan darah keluar bersama air susu, mengalir ke mulut Fatimah Az-Zahra. Rasulullah saw mengambil putrinya, membaringkannya, lalu beristirahat di pangkuan Khadijah.

Dengan lembut, Khadijah membelai kepala suaminya. Air matanya jatuh ke pipi Rasulullah saw hingga beliau terbangun.

“Wahai Khadijah, apakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan suara penuh kasih.
“Dahulu engkau dimuliakan, kini engkau dihina. Hartamu habis, dan manusia menjauh darimu.”

Khadijah menjawab dengan keyakinan yang tak tergoyahkan:

“Bukan itu yang kutangiskan, wahai Rasulullah. Semua kemuliaan, kebangsawanan, dan hartaku telah kuserahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Kini aku tak memiliki apa-apa lagi, kecuali iman.”

Bahkan dengan ketulusan yang melampaui batas dunia, ia berkata:

“Jika kelak engkau harus menyeberangi sungai demi dakwahmu dan tak kau temukan jembatan, maka galilah kuburku, jadikan tulang-belulangku sebagai titian, agar engkau dapat melanjutkan perjuanganmu.”

Mendengar itu, Rasulullah saw diliputi kesedihan mendalam.
“Siapa lagi yang akan membantuku setelah engkau, wahai Khadijah?”

Dengan penuh keyakinan, Ali bin Abi Thalib menjawab,
“Aku, wahai Rasulullah.”

Di samping jasad Khadijah, Rasulullah saw berdoa:

“Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu kepada Khadijah. Dialah yang pertama beriman ketika manusia mendustakanku. Dialah yang menenangkan hatiku saat manusia menyakitiku. Dialah penopang perjuanganku dalam menegakkan kebenaran.”

Semoga kisah ini menumbuhkan cinta, keikhlasan, dan keteguhan iman dalam hati kita.

Barakallahu fiikum. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Posting Komentar