Menyambut Ramadhan 1447 H / 2026 M: Momentum Kembali kepada Allah
Oleh: Samir Pademmui
Ramadhan selalu datang dengan pesan yang sama, tetapi maknanya bisa berbeda bagi setiap orang. Ramadhan bukan cerita pergantian bulan dalam kalender hijriah, bukan pula hanya perubahan jadwal makan dan tidur. Ramadhan adalah panggilan ilahi panggilan untuk kembali, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah SWT.
Allah swt berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah takwa. Takwa bukan hanya rajin beribadah secara ritual, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah selalu mengawasi dan mengetahui segala sesuatu. Takwa adalah kompas hidup yang membuat seseorang berhati-hati dalam bertindak, lembut dalam berbicara, dan jujur dalam bersikap.
Ramadhan 1447 H / 2026 M seharusnya tidak kita sambut dengan biasa-biasa saja. Bulan penuh berkah ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan terulang. Setiap tahun yang berlalu mengingatkan kita bahwa usia semakin berkurang. Allah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Karena itu, Ramadhan jangan dimaknai sebagai tradisi tahunan, tetapi momentum perbaikan diri yang sangat berharga.
Ramadhan juga disebut sebagai bulan Al-Qur’an. Allah berfirman:
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini mengingatkan bahwa Ramadhan dan Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan. Jika kita ingin Ramadhan bermakna, maka Al-Qur’an harus kembali menjadi pusat kehidupan kita. Bukan hanya dibaca saat tarawih atau menjelang berbuka, tetapi direnungi dan diamalkan dalam keseharian. Satu ayat yang dipahami dan diamalkan lebih berharga daripada banyak ayat yang hanya dilafalkan tanpa penghayatan.
Puasa sendiri bukan sekadar menahan lapar dan dahaga adalah latihan pengendalian diri. Jika dari hal yang halal saja kita diminta menahan diri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, maka dari yang haram seharusnya kita lebih mampu menjauhinya.
Puasa mendidik kita untuk menahan amarah, menjaga lisan dari ghibah, dan menundukkan ego dari kesombongan.
Allah berfirman:
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”
(QS. Al-Hadid: 4)
Kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita inilah inti spiritual Ramadhan. Saat kita berpuasa, tidak ada yang tahu apakah kita benar-benar menahan diri atau diam-diam membatalkan. Namun kita tetap menjaga diri karena keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Di situlah lahir kejujuran dan keikhlasan.
Ramadhan juga bulan ampunan dan harapan. Bagi siapa pun yang merasa penuh dosa, Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya. Firman-Nya:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni jika kita sungguh-sungguh kembali. Ramadhan 2026 bisa menjadi titik balik kehidupan dari lalai menjadi sadar, dari jauh menjadi dekat, dari gelap menuju cahaya.
Menyambut Ramadhan seharusnya dimulai dengan persiapan hati. Membersihkan diri dari dendam, memperbaiki hubungan dengan sesama, memperbanyak doa, serta membiasakan membaca Al-Qur’an sebelum bulan suci tiba. Ramadhan bukan hanya soal menu sahur dan takjil, tetapi tentang kesiapan jiwa menerima cahaya petunjuk.
Akhirnya, Ramadhan adalah undangan Allah kepada hamba-Nya untuk naik derajat. Ramdhan bukan beban, melainkan rahmat. Bukan kewajiban tetapi kesempatan memperbaiki masa depan akhirat.
Semoga Ramadhan 1447 H / 2026 M menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita. Semoga ketika nanti berlalu, yang pergi bukan hanya bulannya, tetapi juga dosa-dosa kita, dan yang tersisa adalah hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, serta kehidupan yang lebih berkah.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
*****
.png)
Posting Komentar