Oleh: Hasan Basri
Jika diminta dan ada jalannya, kami siap berdiri bersama Palestina. Pernyataan ini bukan lahir dari hasrat akan perang, melainkan dari panggilan nurani yang menolak diam ketika ketidakadilan berlangsung terlalu lama. Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan tragedi kemanusiaan yang memukul rasa keadilan siapa pun yang masih mau peduli.
Muslim itu bersaudara. Kalimat sederhana ini memuat tanggung jawab moral yang tidak ringan. Ketika satu saudara hidup dalam kepungan, ketakutan, dan kehilangan rumah, keluarga, bahkan harapan maka yang lain tidak pantas berpaling. Solidaritas tidak selalu harus berwujud senjata; namun bisa hadir sebagai keberpihakan yang jelas, konsisten, dan bermartabat.
Sayangnya, dunia kini seolah terjebak pada retorika. Banyak negara berbicara tentang perdamaian, namun ragu menekan pihak yang terus melakukan kekerasan. Di tengah kebimbangan itu, agresi Israel terhadap warga sipil terus berlangsung, sementara penderitaan rakyat Palestina seperti kehilangan urgensinya di meja diplomasi. Ketika negara-negara kuat berhitung kepentingan, suara rakyat justru sering diharapkan menjadi bisu.
Namun, diam bukan pilihan. Kepedulian publik, doa, bantuan kemanusiaan, tekanan moral, dan advokasi damai adalah cara untuk memastikan tragedi ini tidak dinormalisasi. Sejarah menunjukkan, perubahan seringkali didorong oleh keberanian warga biasa yang menolak menganggap ketidakadilan sebagai hal lumrah.
Berdiri bersama Palestina berarti menjaga kemanusiaan tetap hidup. Ini adalah sikap menolak lupa, menolak apatis, dan menolak membiarkan penderitaan manusia direduksi menjadi statistik. Kita mungkin tidak memegang kuasa negara, tetapi kita memegang nurani. Dan dari sanalah keberpihakan bermula.
Pada akhirnya, solidaritas bukan tentang memilih konflik, melainkan memilih kemanusiaan. Selama penderitaan itu nyata dan keadilan belum ditegakkan, keberpihakan moral kita tidak boleh padam.
wallahu a'lam
*****
Posting Komentar