Percaya GPS, tapi Ragu Hitungan Hilal
Oleh: Ahmad Ilyas
Jangan Terlalu Lama Terpenjara Ambivalensi terhadap Sains
Setiap tahun, menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, Indonesia selalu memasuki momen yang sama; menunggu kepastian terlihat atau tidaknya hilal. Teleskop diarahkan ke langit, laporan dari berbagai titik dipantau, dan publik menanti keputusan resmi. Padahal, secara ilmiah, posisi bulan telah dapat dihitung jauh hari sebelumnya dengan presisi matematis yang nyaris mutlak.
Di sinilah paradoks itu berdiri dengan terang.
Bangsa yang mempercayai sistem navigasi satelit untuk menentukan posisi hingga hitungan meter yang setiap hari bergantung pada teknologi berbasis perhitungan astronomi justru masih ragu menjadikan perhitungan ilmiah sebagai dasar tunggal penentuan awal bulan Hijriyah.
Kita percaya GPS tanpa verifikasi visual ulang. Kita percaya prediksi gerhana tanpa menunggu konfirmasi manual. Kita percaya jadwal penerbangan internasional yang bergantung sepenuhnya pada hukum fisika dan astronomi. Namun ketika sains menyentuh wilayah religius (ramadhan), kepercayaan itu mendadak seolah ragu-ragu.
Masalahnya bukan pada kemampuan sains. Astronomi modern telah lama keluar dari wilayah dugaan yang memungkinkan manusia mengirim wahana antariksa, memetakan langit dengan akurasi tinggi, dan memprediksi fenomena langit puluhan tahun sebelumnya. Posisi bulan bukan misteri, tapi adalah kepastian matematis.
Masalah sebenarnya terletak pada sikap ambivalen terhadap sains sebagai otoritas pengetahuan.
Ambivalensi ini bukan berarti penolakan total. Justru sains digunakan setiap hari oleh individu, oleh institusi, bahkan oleh otoritas yang dalam konteks tertentu masih ragu memberinya legitimasi penuh. Data astronomi dipakai. Perhitungan matematis digunakan. Teleskop modern dimanfaatkan. Namun pada titik akhir, kepastian ilmiah tetap dianggap belum cukup tanpa legitimasi simbolik otoritas agama.
Di sini sains diterima sebagai alat, tetapi belum sepenuhnya diakui sebagai penentu kebenaran.
Sejarah menunjukkan, peradaban maju ketika otoritas bertransformasi mengikuti pengetahuan, bukan ketika pengetahuan dibatasi demi menjaga otoritas kelompopk agama.
Indonesia telah membangun ribuan sekolah dan universitas. Kita berbicara tentang bonus demografi, ekonomi digital, kecerdasan buatan, dan visi menjadi negara maju. Namun modernisasi tidak berhenti pada infrastruktur fisik dan teknologi. Modernisasi sejati menuntut konsistensi epistemologis; keberanian mempercayai metode ilmiah secara utuh, bukan selektif.
Jika sains dipercaya untuk mengatur lalu lintas udara yang membawa ratusan nyawa, untuk mengelola sistem perbankan digital, untuk menopang jaringan komunikasi nasional, mengapa belum sepenuhnya dipercaya dalam menghitung posisi bulan objek yang secara matematis jauh lebih sederhana dibanding sistem satelit global?
Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan tradisi. Tradisi memiliki nilai historis dan spiritualnya sendiri. Namun tradisi yang sehat adalah tradisi yang mampu berdialog dengan pengetahuan baru. Ketika tradisi berubah menjadi alasan untuk menunda kepastian yang telah terbukti, di situlah potensi stagnasi intelektual terbentuk.
Bahaya terbesar dari ambivalensi ini bukanlah perbedaan satu atau dua hari puasa. Bahaya terbesarnya adalah melemahnya keberanian rasional dalam kehidupan publik.
Jika pola ini menguat, tidak akan berhenti pada urusan hilal saja tapi dapat merembes ke bidang lain, kebijakan publik, pendidikan, hingga pengambilan keputusan strategis negara di mana legitimasi simbolik lebih diutamakan daripada verifikasi rasional.
Bangsa yang ingin melompat ke masa depan tidak bisa selamanya setengah hati terhadap sains. Kita tidak bisa menggunakan sains untuk kenyamanan praktis, tetapi menahannya ketika mulai menggeser struktur otoritas yang telah lama mapan.
Indonesia hari ini berada di persimpangan penting. Kita telah modern dalam teknologi, tetapi belum sepenuhnya modern dalam cara menentukan otoritas kebenaran. Jika kita terlalu lama terkurung dalam ambivalensi ini demi memelihara struktur otoritas yang enggan bertransformasi, maka yang tertunda bukan hanya keseragaman hari raya, melainkan kedewasaan intelektual bangsa itu sendiri.
Karena itu pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sering kita menengadah ke langit, tetapi oleh seberapa berani kita mempercayai akal yang mampu membacanya.
*****
*****
Posting Komentar