Press Release: Penetapan 1 Ramadhan 1447 H / 2026 M - Jamaah An-Nadzir

Table of Contents

Bismillahir Rahmanir Rahiim

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Setelah melakukan koordinasi dengan jamaah An Nadzir yang bertugas khusus sebagai Tim Pemantau Bulan dari beberapa daerah di Indonesia, dan juga koordinasi dengan orang tua kita Bapak Baidaba Gustaman, maka melalui Press Release ini, disampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M sebagai berikut :

1. Pada umumnya ummat Muslim di Indonesia, mengetahui bahwa salah satu komunitas Muslim yang seringkali "berbeda waktunya" dalam menetapkan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah dengan ummat Muslim lainnya di Indonesia adalah An Nadzir. Perbedaan itu, sebenarnya lebih disebabkan oleh  adanya perbedaan tata cara, metodologi dan ilmu yang dipahami dan dipakai dalam pengamatan, perhitungan dan menetapkan awal dan akhir bulan. 

2. Secara umum ---baik An Nadzir maupun ummat muslim lainnya--- sama-sama memahami tentang ilmu "hisab" dan "rukyat". Yang berbeda  adalah penerapan ilmu, tata cara, dan metodologinya. Dan dalam banyak hal yang berkaitan dengan fiqih dan khilafiah, sudah lama terjadi perbedaan di kalangan ummat Muslim. Sehingga dibutuhkan kedewasaan, arif bijaksana, sabar dan  membuka wawasan. Lalu disertai dengan adanya motivasi untuk terus belajar dan mengkaji ilmu pengetahuan. Sebab ilmu Allah itu memang sangat luas dan tak terbatas. 

3. An Nadzir dalam memantau dan menghitung, kemudian menetapkan awal dan akhir bulan, selain mengacu pada dalil naqli (Al Qur'an dan Hadits misalnya "Berpuasalah kamu dengan melihat bulan" ), juga dalil aqli (ilmu, tata cara dan metodologi) yang sumbernya diajarkan oleh Guru dan Imam An Nadzir K.H. Syamsuri Abdul Madjid. 

4. Ilmu tata cara dan metodologi pengamatan dan perhitungan bulan yang dipahami oleh An Nadzir, dalam perkembangan selanjutnya, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa serta astronomi, yang kemudian terkoneksi dengan beberapa aplikasi dalam Handphone Android, maka An Nadzir melalui Tim Pemantau Bulan, mencoba melakukan penelitian dari beberapa aplikasi dimaksud. 

5. Dari hasil penelitian yang dilakukan beberapa tahun terakhir, ilmu tata cara dan metodologi pengamatan, dan perhitungan bulan yang dipahami dan dipakai oleh An Nadzir selama ini, hasilnya menunjukkan bahwa tidak ada pertentangan hasil perhitungan awal dan akhir bulan dari beberapa aplikasi yang ada di Handphone Android itu. Bahkan sebaliknya ada kolerasi, persamaan, dan bisa lebih memudahkan kita dalam hal melihat waktu terjadinya perpisahan bulan (konjungsi/ijtima/new moon), tanpa harus meraba-raba. 

6. Berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan dari Tim Pemantau bulan  An Nadzir di beberapa tempat/daerah Indonesia, hasilnya menunjukkan sebagai berikut :

6.1. Satu Syaban 1447 H bertepatan dengan Senin 19 Januari 2027 M. Dimana pergantian bulan (konjungsi/ijtima/new moon) terjadi pada dini hari jam 02.51 WIB dan 03.53 WITA. 

6.2. Hasil pengamatan Tim Pemantau untuk tiga bulan purnama 14, 15, dan 16, bertepatan dengan hari Ahad, Senin, Selasa, Tanggal 01, 02, dan 03 Februari 2026 M. 

6.3. Pada Tanggal 28 Syaban 1447 H bertepatan dengan Ahad 15 Februari 2026, bulan terbit di ufuk Timur Jam  04.02 WITA dan  tenggelam di ufuk Barat Jam 16.45 WITA. Kemudian Tim Pemantau melihat  bulan sabit di Timur dengan kain tipis hitam, nampak bulan sabit bersusun 3 (tiga) yang berarti aslinya 1 (satu) bayangannya 2 (dua),  artinya bulan sabit tua masih terbit 2 (dua) kali lagi di ufuk Timur, yakni  29, dan 30 Syaban 1447 H, yang bertepatan dengan hari  Senin, dan Selasa Tanggal 16, dan 17 Februari 2026.

6.4. Bulan Syaban genap terhitung 30 hari, dan pada akhir Syaban 1447 H / 2026 M, bulan terbit di ufuk Timur Jam 05.44 WITA dan masih sampai tenggelam di ufuk Barat jam 18.18 WITA. 

6.5. Pada hari Selasa 17 Februari 2026, terjadi perpisahan bulan (kongjungsi/ijtima/new moon) pada malam hari jam 20.03 WITA dan jam 19.01 WIB dari bulan Syaban ke Ramadhan 1447 H / 2026 M. Hal ini juga diperkuat dengan terjadinya peristiwa Gerhana Matahari Cincin (Annular Solar Eclipse) di Benua Eropa, khususnya di Antartika dan Amerika Selatan. Meskipun di Indonesia tidak nampak karena waktunya bertepatan malam hari. 

6.6. Mengingat Guru dan Imam An Nadzir K.H. Syamsuri Abdul Majid yang pernah mengajarkan : 

1. Fenomena Gerhana Matahari dan Bulan dapat dijadikan patokan dalam perhitungan bulan, 

2. Mengamati dan menghitung fase-fase pergerakan bulan, 

3. Berpuasalah kamu bila terjadi pergantian bulan untuk kehati-hatian, agar ketika masuk awal Ramadhan kamu sedang berpuasa."

6.7. Berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan Tim Pemantau Bulan di  beberapa tempat/daerah tersebut, dengan mengharapkan Rahmat dan Ridho Allah Subhanahu Wata'ala, maka diputuskan dan ditetapkan bahwa :

1. An Nadzir  Mulai puasa 1 Ramadhan 1447 H pada hari Rabu 18 Februari 2026 M

2. Bagi yang ingin melaksanakan shalat tarwih berjamaah, dipersilahkan mulai Selasa malam 17 Februari 2026 hingga 3 (tiga) malam ke depan di daerahnya masing-masing, dan sesudahnya dilaksanakan secara infirodi (sendiri).

Demikian disampaikan untuk diketahui dan dijadikan pedoman bagi Jamaah An Nadzir di seluruh Indonesia. 

Intansurullaha  yansurkum

Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Pimpinan An-Nadzir

M. Samiruddin Pademmui

*****

Posting Komentar