Retorika Keras Iran yang Penuh Pertanyaan
Oleh: Ir. Juliadi Hakim
Setiap kali ketegangan meningkat di Timur Tengah, satu pola yang selalu berulang, Iran tampil dengan retorika keras, dunia pun menegang, publik terpancing semangat, lalu situasi lambat laun mereda. Ancaman dilontarkan, balasan dijanjikan, tetapi perang total yang digembar-gemborkan tak pernah sungguh-sungguh terjadi.
Sejak Revolusi 1979, Iran konsisten membangun citra sebagai poros perlawanan terhadap Israel dan Amerika Serikat. Narasi anti-Barat menjadi fondasi ideologis negara itu. Namun ketika dihadapkan pada pilihan nyata antara perang terbuka atau mempertahankan kelangsungan rezim, Teheran hampir selalu memilih langkah yang terukur. Bukan karena tiba-tiba melunak, melainkan karena perang langsung adalah risiko besar yang dalam kalkulasi mereka "mungkin bisa" meruntuhkan rezim berkuasa.
Konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat, jangan membayangkan semata adu tembakan rudal, melainkan benturan dengan kekuatan militer global yang superior. Demikian pula perang melawan Israel bukan hanya soal batas wilayah, tetapi tentang menghadapi keunggulan teknologi, intelijen, dan kemampuan serangan presisi yang telah teruji berkali-kali. Dalam skenario perang total, Iran akan menghadapi situasi yang mungkin saja tidak menguntungkan dalam arti bisa kehilangan fasilitas vital, infrastruktur strategis, bahkan stabilitas politik dalam negeri akan goyah.
Karena itu, Iran lebih mengandalkan strategi perang tidak langsung dengan jaringan proksinya, dukungannya kepada kelompok bersenjata regional; Hisbullah Libabon, Houti Yaman dan milisi lainnya, serta kekuatan rudal sebagai alat penangkal (deterrence). Strategi ini memberi keuntungan ganda. Secara politik, Iran tetap tampak agresif dan konsisten dengan narasi perlawanannya. Namun secara strategis, sebetulnya menghindari biaya kehancuran jika perang terbuka terjadi. Ketegangan dijaga tetap panas, tetapi juga dijaga jangan sampai meledak.
Retorika keras juga memiliki fungsi domestik. Dalam situasi ekonomi yang tertekan yang ditandai inflasi tinggi dan meningkatnya ketidakpuasan publik, ancaman terhadap musuh eksternal dapat menjadi alat konsolidasi internal. Menggaungkan adanya musuh di luar sana, secara teori psikologi massa memang bisa menyatukan barisan di dalam negeri, sembari mengalihkan perhatian masyarakat dari kesulitan ekonomi dan keretakan sosial, sekaligus untuk memperkuat legitimasi ideologis rezim berkuasa.
Ini yang jarang dibicarakan secara terbuka, bahwa retorika perang sering kali lebih berguna untuk menjaga stabilitas kekuasaan daripada kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Dalam konteks ini, bisa dibedakan antara bahasa politik dan keputusan strategis. Ancaman yang diulang-ulang tidak selalu berarti kesiapan untuk bertempur. Bahkan, semakin keras retorika dilontarkan, bisa jadi semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga citra kekuasaan dan bukan untuk benar-benar berperang.
Hal ini bukan berarti Iran tidak memiliki kapasitas militer. Namun kapasitas berbeda dengan kemauan mengambil risiko kehancuran total. Hingga kini, pilihan Teheran menunjukkan pola yang konsisten khas Iran adalah menjaga ketegangan dan tidak akan mengakhirinya dengan perang terbuka.
Karena itu, Retorika Iran yang dramatis ini, seolah-olah dunia selalu berada di ambang perang besar, namun di balik slogan dan ancaman itu, terdapat kalkulasi dingin tentang biaya, risiko, dan kelangsungan kekuasaan.
Retorika keras Iran selalu memang menggema. Namun justru dalam gema itulah tersembunyi pertanyaan yang lebih besar; apakah itu suara keberanian, atau ketidaksiapan yang disamarkan?
Masyarakat yang kritis tidak cukup hanya mendengar apa yang diucapkan. Mereka juga membaca apa yang tidak dilakukan.
Dan hingga hari ini, apa yang tidak dilakukan Iran jauh lebih menentukan arah kebijakannya, daripada apa yang selalu diucapkan.
*****
Posting Komentar