Semangat Juang Menjadi Lucu

Table of Contents

 
Oleh Ir. Jualiadi Hakim

Suatu pagi saya ngopi di sebuah warung pojok Kota Makassar. Baru saja menyeruput seteguk kopi hangat yang pahitnya pas, aromanya mantap tiba-tiba datang seorang sahabat lama. Penampilannya cukup meyakinkan dengan bersarung, bersongkok haji, lengkap dengan aura kesalehan yang menenangkan. Dari kejauhan saja sudah tampak seperti tokoh perjuangan.

Belum sempat kopi saya dingin, sahabat ini langsung menggebu-gebu bercerita. Topiknya lumayan berat; perjuangan menegakkan keadilan berbasis syariat Islam. Nada suaranya berapi-api, seolah revolusi tinggal hitungan hari. Dia pun mulai memaparkan “infrastruktur perjuangan” yang katanya sudah ia miliki.

Sambil sesekali menyesap teh hangatnya, ia memperlihatkan aset-aset yang, harus saya akui, lumayan. Bukan kaleng-kaleng. Ia juga mengklaim telah menyiapkan basis massa di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua. Hanya satu masalah kecil, katanya; massa itu masih berserakan. Belum terwadahi.

Ia lalu masuk ke bagian paling serius. Menjelaskan visi dan misi perjuangan dengan wajah sungguh-sungguh serius, seakan saya sedang duduk di depan calon pendiri peradaban baru. Setelah monolog panjang itu, ia berhenti sejenak, menatap saya lalu berkata dengan polos.

“Saya mau mendirikan ormas. Tapi saya tidak tahu cara membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga - AD/ART.”

Di titik itulah, semangat juang itu mendadak berubah menjadi lucu.

Saya ingin tertawa. Sangat ingin. Tapi demi menjaga persahabatan dan menghormati niat baiknya, tawa itu saya telan bersama sisa kopi. Saya hanya mengangguk bijak, seolah pernyataan barusan adalah hal yang wajar, padahal rasanya seperti mendengar pilot berkata, “Pesawatnya siap, tapi saya belum bisa mengemudi.”

Saya pun pura-pura memberi semangat. Saya katakan padanya agar terus berjuang, jangan menyerah. Bahkan saya janjikan akan membantu menyusun AD/ART ormas yang ingin ia dirikan. Setidaknya, agar perjuangan besar itu punya "fondasi kertas" yang sah secara hukum.

Fenomena ini sebenarnya tidak asing di kalangan aktivis. Semangat menggebu-gebu, tapi kapasitas kedodoran. Gagasan melangit, tapi keterampilan membumi nyaris tak ada. SDM lemah, manajemen absen, literasi organisasi minim.

Ujung-ujungnya, mereka hanya menjadi massa mengambang. Tak mampu menggerakkan apa pun, kecuali ikut arus. Bukan sebagai pelaku sejarah, melainkan sekedar jadi follower setia dari kelompok kepentingan yang lebih siap, lebih rapi, dan tentu saja, lebih paham AD/ART.

Di situlah ironi perjuangan sering bermuara. Niatnya besar, tapi persiapannya kecil. Dan ketika itu terjadi, semangat juang pun tak lagi heroik melainkan tragis sekaligus lucu.

Salam NKRI
*****

Posting Komentar