Disunting oleh: Muzayyin AriefTidak semua kebijakan ekonomi diuji oleh pidato atau dokumen perencanaan. Sebagian justru diuji oleh keputusan sunyi; ke mana negara menaruh modalnya, dan untuk tujuan apa. Tahun 2026 akan menjadi momen bagi Indonesia, ketika Danantara mulai beroperasi penuh sebagai investor negara dengan dana sekitar US$12 miliar atau setara Rp202 triliun. Pada tahap ini, ukuran keberhasilan Danantara bukan terletak pada besarnya dana yang dikelola, melainkan pada "ketepatan arah investasi" yang diambil.
Sejak awal, Danantara diposisikan bukan sebagai perpanjangan APBN, melainkan sebagai instrumen investasi jangka panjang yang mampu mengunci arah pembangunan. Artinya, proyek yang dibiayai harus bankable, berdampak struktural, dan tahan terhadap siklus politik. Dalam kerangka tersebut, sektor pertambangan dan energi khususnya smelter nikel dan alumina menjadi kandidat paling rasional. Kendaraan utamanya adalah MIND ID, holding tambang negara yang memegang kendali dari hulu hingga hilir.
Smelter nikel menempati posisi strategis karena Indonesia telah menjadi pemain kunci dalam rantai pasok global. Nilai tambah terbesar tidak lagi berada pada bijih mentah, melainkan pada produk intermediate seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nickel matte yang menjadi bahan baku industri baterai dan baja nirkarat. Melalui Antam, pengembangan smelter nikel berorientasi hilir membuka peluang masuknya investasi asing dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri kendaraan listrik global. Di sini, peran Danantara sebagai anchor investor penting untuk menurunkan risiko awal proyek dan memastikan kesinambungan pendanaan jangka panjang.
Di sisi lain, smelter alumina menawarkan karakter yang berbeda. Permintaannya lebih stabil dan terutama bersumber dari kebutuhan domestik antara lain; konstruksi, kelistrikan, otomotif, hingga infrastruktur energi. Di bawah Inalum, pengembangan alumina menjadi fondasi industrialisasi nasional sekaligus alat untuk mengurangi ketergantungan impor aluminium. Meski tidak seatraktif nikel dari sisi margin, alumina memberikan kepastian pasar dan manfaat luas bagi perekonomian.
Kombinasi nikel dan alumina mencerminkan logika investasi negara yang seimbang. Nikel berfungsi sebagai mesin pertumbuhan dengan orientasi global, sementara alumina menjadi jangkar stabilitas industri dalam negeri. Keduanya berbasis pada keunggulan komparatif Indonesia dan didukung kebijakan hilirisasi yang relatif konsisten. Bagi Danantara yang mulai beroperasi pada 2026, portofolio semacam ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan ketahanan.
Pada akhirnya, keputusan investasi awal Danantara akan menjadi "ujian rasionalitas kebijakan ekonomi nasional". Jika dana publik sebesar itu ditempatkan pada aset industri berumur panjang seperti smelter nikel dan alumina, negara tidak hanya mengejar imbal hasil finansial, tetapi juga mengunci nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
Smelter, dalam konteks ini, bukan sekadar pabrik, tapi adalah pernyataan arah pembangunan; apakah Indonesia sungguh-sungguh membangun fondasi industrialisasi?.
Tahun 2026 akan memberi jawabannya.
wallahu a'alam bissawab
*****
Posting Komentar