Umrah dan Keindahan yang Bekerja di Dalam Diri

Table of Contents

 

Oleh: Muhrim Rahman

Ada keindahan yang tidak bisa dipotret, tidak pula dapat dibingkai dengan kata-kata berlebihan namun bekerja diam-diam di dalam diri, mengendap, lalu perlahan mengubah cara seseorang memandang hidup. Keindahan itulah yang saya rasakan selama menjalani ibadah umrah bukan sebagai perjalanan fisik semata, melainkan sebagai ziarah batin.

Di Makkah, segala sesuatu terasa menuju satu pusat. Langkah-langkah jamaah yang berputar mengelilingi Ka’bah seolah mengajarkan satu pelajaran paling mendasar dalam hidup manusia bahwa segala kesibukan, ambisi, dan kegelisahan pada akhirnya harus kembali kepada Yang Esa. Di tengah lautan manusia dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit, identitas duniawi kehilangan maknanya. Tidak ada jabatan, tidak ada prestise. Yang tersisa hanyalah manusia dan Tuhannya.

Thawaf menjadi pengalaman yang jauh melampaui gerak ritual, terasa seperti latihan spiritual untuk menata ulang orientasi hidup. Selama ini, banyak hal kita jadikan pusat perhatian misalnya; pekerjaan, kekuasaan, harta, bahkan ego. Di hadapan Ka’bah, semua itu terasa rapuh terkulai. Pusat hidup kembali diletakkan di tempat yang semestinya.

Sa’i, dengan bolak-baliknya antara Safa dan Marwah, menghadirkan dimensi batin yang berbeda, bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menghadirkan kembali kegelisahan manusia yang paling purba yaitu; rasa takut kehilangan, kecemasan akan masa depan, dan harapan yang nyaris putus. Di sanalah, ikhtiar dan tawakal tidak dipertentangkan, melainkan disatukan. Hajar berlari bukan karena ragu kepada Tuhan, tetapi justru karena percaya bahwa usaha adalah bagian dari iman.

Di Makkah, keindahan batin hadir dalam bentuk ketundukan. Doa-doa keluar tanpa disusun, air mata jatuh tanpa direncanakan. Bukan karena kesedihan, melainkan karena hati akhirnya berhenti melawan. Ada rasa lega ketika tidak lagi merasa harus kuat, harus benar, atau harus menang.

Madinah menghadirkan nuansa yang berbeda. Jika Makkah adalah ruang peluruhan ego, Madinah adalah ruang pemulihan jiwa. Kota ini tidak memanggil dengan gemuruh, melainkan menyapa dengan kelembutan. Langkah kaki melambat, suara merendah, dan hati seperti diajak untuk berdiam.

Di Masjid Nabawi, ibadah terasa lebih hening. Tidak ada dorongan untuk tergesa-gesa. Shalat di sana bukan hanya tentang memenuhi rukun, tetapi tentang menghadirkan adab. Salam kepada Rasulullah menjadi momen refleksi, sejauh mana ajaran tentang kasih sayang, kejujuran, dan kesederhanaan benar-benar hidup dalam keseharian kita.

Raudhah, dengan segala keterbatasan waktu dan ruangnya, mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan bukan soal durasi, melainkan kehadiran hati. Di sana, doa-doa terasa lebih pendek, tetapi lebih jujur. Tidak banyak permintaan besar; yang ada justru harapan agar hati tidak kembali mengeras pada ego setelah pulang.

Keindahan batin dalam umrah tidak selalu hadir dalam bentuk pengalaman spiritual yang spektakuler, justru seringkali hadir sebagai kesadaran kecil namun mendalam; bahwa hidup tidak harus selalu tergesa, bahwa kesalahan tidak harus selalu dibela, dan bahwa kebaikan sering kali dimulai dari hal-hal yang sederhana.

Ketika perjalanan usai dan koper ditutup, umrah sejatinya baru dimulai. Pertanyaan terpenting bukanlah berapa kali kita thawaf atau berapa lama kita berdoa, melainkan apakah sepulang dari Tanah Suci kita menjadi manusia yang sedikit lebih sabar, sedikit lebih jujur, dan sedikit lebih rendah hati.

Makkah mengajarkan ketundukan, Madinah mengajarkan keteladanan. Di antara keduanya, umrah bekerja di wilayah yang paling sunyi, itulah di dalam batin manusia. Sebuah keindahan yang tidak ramai dibicarakan, tetapi diam-diam menentukan arah hidup kita setelahnya.

Wallahu alam bissawab'

******

Posting Komentar