Amerika, Israel, Iran Bukan Musuh Abadi

Table of Contents
Analisis: Ryu Midun, wartawan anggota LAPMI

Spekulasi geopolitik kembali menguat ketika beredar kabar bahwa Pemimpin Tertinggi Iran berada di Rusia. Jika benar, maka Moskow berpotensi menjadi titik simpul diplomasi segitiga antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dalam politik global, musuh dan sekutu bukan kategori permanen, melainkan posisi yang terus berubah mengikuti kepentingan strategis.

Rusia memiliki daya tawar yang unik terhadap Iran. Selain hubungan militer dan teknologi nuklir yang panjang, diperkirakan ratusan ahli nuklir Rusia masih berperan dalam proyek-proyek strategis di Iran. Di sisi lain, Rusia juga berkepentingan memperbaiki hubungan dengan Barat, terutama Amerika Serikat, guna memperoleh legitimasi atas wilayah Ukraina yang telah diduduki sejak konflik 2022. Kepentingan ini membuat Rusia berpotensi memainkan peran sebagai mediator.

Faktor historis dan demografis juga memperkuat posisi Rusia. Sebagian besar warga Israel generasi awal berasal dari kawasan bekas Uni Soviet. Ikatan kultural dan diaspora ini menciptakan jalur komunikasi informal yang sering kali lebih efektif dibanding diplomasi formal.

Lebih dari itu, Sejarah menunjukkan bahwa retorika permusuhan tidak selalu sejalan dengan praktik politik. Pada era 1980-an, dunia menyaksikan skandal Iran‑Contra Affair (1979–1986), di mana pejabat Amerika secara diam-diam terlibat dalam transaksi senjata dengan Iran. Dalam periode yang hampir bersamaan, selama Iran–Iraq War (1980–1988), Israel diketahui turut memasok senjata kepada Iran meskipun secara resmi memusuhi Republik Islam tersebut.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara sering kali bergerak di antara dua dunia: dunia narasi publik yang keras dan dunia praktik politik yang pragmatis. Dalam narasi, permusuhan diperlukan untuk menjaga legitimasi domestik dan posisi tawar internasional. Namun dalam praktik, kerja sama terselubung kerap terjadi demi kepentingan keamanan, stabilitas regional, atau keseimbangan kekuatan global.

Karena itu, anggapan bahwa Amerika, Israel, dan Iran adalah musuh abadi tidak sepenuhnya tepat. Ketegangan yang terlihat di permukaan bisa jadi hanyalah bagian dari permainan diplomasi yang lebih kompleks. Dalam konteks ini, Rusia berpotensi menjadi titik temu strategis yang membuka peluang perundingan baru.

Optimisme terhadap meja perundingan bukanlah ilusi jika semua pihak menyadari bahwa konflik berkepanjangan justru merugikan stabilitas global. Sejarah telah membuktikan bahwa musuh hari ini dapat menjadi mitra besok, selama kepentingan geopolitik menemukan titik temu.

Selamat Idul Fitri 1447H / 2026M

Mohon Maaf Lahir Bathin

*****


Posting Komentar