Anatomi Konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran di Timur Tengah

Table of Contents


Oleh: Achmad Ilyas, mantan sekjen HMI MPO

Timur Tengah merupakan salah satu kawasan paling strategis dalam geopolitik dunia. Konflik di kawasan ini tidak hanya melibatkan negara-negara regional, tetapi juga kekuatan global seperti United States of America, serta aktor regional seperti Israel dan Iran. 

Persaingan kekuatan ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan membentuk konfigurasi konflik yang kompleks, mulai dari perang langsung hingga perang proksi melalui kelompok-kelompok bersenjata.

Untuk memahami dinamika konflik yang berkembang hingga saat ini, perlu ditelusuri rangkaian peristiwa penting yang membentuk hubungan antara ketiga aktor tersebut.

Revolusi Iran 1979: Awal Permusuhan Geopolitik

Perubahan geopolitik besar di Timur Tengah dimulai dengan Iranian Revolution yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini. Revolusi ini menggulingkan pemerintahan Shah Iran yang selama ini dikenal sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan.

Setelah revolusi, Iran berubah menjadi Republik Islam dengan ideologi politik yang secara terbuka menentang dominasi Barat. Dalam retorika politiknya, Amerika Serikat disebut sebagai “Setan Besar”, sementara Israel disebut sebagai “Setan Kecil”. Sejak saat itu hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memasuki fase permusuhan yang berlangsung hingga hari ini.

Skandal Iran Contra: Realitas Politik Pragmatis

Meskipun Iran secara ideologis menentang Amerika Serikat, hubungan internasional sering kali menunjukkan dinamika yang lebih pragmatis. Hal ini terlihat dalam skandal Iran–Contra affair pada masa Presiden Ronald Reagan.

Dalam skandal tersebut, Amerika Serikat secara diam-diam menjual senjata kepada Iran melalui perantara Israel. Menurut berita dunia, Dana dari transaksi tersebut kemudian digunakan untuk mendukung kelompok kontra di Nikaragua. Salah satu tokoh utama dalam skandal ini adalah Kolonel Laut AS Oliver North.

Kasus ini menunjukkan bahwa dalam geopolitik global, permusuhan ideologis tidak selalu menghalangi transaksi strategis di balik layar.

Perang Iran–Irak dan Politik Keseimbangan Kekuatan

Konflik besar berikutnya adalah Iran–Iraq War antara Iran dan Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein.

Dalam konflik ini:

+ Amerika Serikat secara strategis mendukung Irak untuk menahan ekspansi revolusi Iran.

+ Israel secara diam-diam memasok senjata kepada Iran karena memandang Irak sebagai ancaman militer yang lebih besar pada saat itu.

Perang ini memperlihatkan bagaimana Timur Tengah menjadi arena politik keseimbangan kekuatan (balance of power) antara negara-negara besar dan regional.

Invasi Irak 2003 dan Meningkatnya Pengaruh Iran

Situasi geopolitik berubah drastic, ketika Amerika Serikat melancarkan 2023 invasion of Iraq yang menggulingkan Saddam Hussein.

Akibatnya:

(-) Irak yang sebelumnya menjadi penyeimbang kekuatan Iran, jadi runtuh.

(-) Iran justru memperoleh pengaruh yang lebih besar di Irak melalui jaringan politik dan milisi yang memiliki kedekatan ideologis dengan Teheran.

(-) Perubahan ini juga memperkuat rivalitas antara Iran dan blok Amerika Serikat-Israel.

Pencairan Dana Iran oleh Pemerintahan Joe Biden

Salah satu perkembangan penting dalam dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran terjadi pada tahun 2023. 

Pemerintahan Presiden Joe Biden menyetujui pemindahan sekitar 6 miliar dolar AS dana ke Iran yang sebelumnya dibekukan di bank Korea Selatan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan antara kedua negara. Dana tersebut kemudian dipindahkan ke rekening yang diawasi di Qatar dan secara resmi hanya dapat digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan seperti pangan dan obat-obatan. 

Kebijakan ini memicu perdebatan politik di Amerika Serikat. Sejumlah anggota United States Congress mengkritik keputusan tersebut karena khawatir dana itu secara langsung atau tidak langsung dapat memperkuat posisi Iran di kawasan.

Beberapa analis berpendapat bahwa meskipun dana tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan kemanusiaan, tapi secara ekonomi uang bersifat fungible (dapat saling menggantikan). Artinya, jika kebutuhan domestik Iran terpenuhi melalui dana tersebut, maka anggaran Iran lainnya dapat dialihkan untuk mendukung kelompok bersenjata (sekutu) di kawasan. 

Serangan Hamas ke Israel dan Penyanderaan Warga Israel

Tidak lama setelah isu pencairan dana tersebut menjadi perdebatan di kongres AS, terjadi serangan besar oleh Hamas terhadap Israel, pada 2023 Hamas attack on Israel.

Serangan ini mengejutkan dunia karena skala operasinya yang besar. Dalam serangan tersebut:

(-) Ratusan warga Israel terbunuh.

(-) Ratusan lainnya disandera dan dibawa ke Jalur Gaza.

Serangan ini kemudian memicu operasi militer besar Israel di Gaza dan meningkatkan ketegangan di seluruh kawasan Timur Tengah.

Iran selama bertahun-tahun diketahui memberikan dukungan politik, finansial dan militer kepada Hamas, termasuk bantuan dana puluhan juta dolar untuk pengembangan roket dan kemampuan militer kelompok tersebut. 

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan tidak ada bukti bahwa dana 6 miliar dolar AS yang dipindahkan ke Iran, telah digunakan untuk mendanai serangan tersebut, pada saat serangan HAMAS terjadi dana tersebut belum digunakan. Meski demikian pernyataan Presiden AS Joe Bden, sebagian besar anggota kongres AS tetap menaruh curiga. 

Selat Hormuz dan Risiko Perang Regional

Ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat selalu memiliki potensi berkembang menjadi konflik regional. Salah satu faktor strategis yang membuat konflik ini sangat sensitif adalah posisi Strait of Hormuz, jalur laut yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat ini. Jika Iran menutup Selat Hormuz dalam situasi perang, dampaknya dapat memicu krisis energi global dan mengganggu stabilitas ekonomi dunia.

Kesimpulan

Konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran merupakan hasil dari rangkaian panjang dinamika geopolitik sejak Revolusi Iran 1979. Berbagai peristiwa penting seperti skandal Iran-Contra, perang Iran-Irak, invasi Irak 2003, hingga konflik Gaza 2023 menunjukkan bahwa Timur Tengah merupakan arena persaingan strategis antara kekuatan regional dan global.

Isu pencairan dana Iran oleh pemerintahan Joe Biden serta serangan Hamas ke Israel memperlihatkan betapa sensitifnya keseimbangan politik di kawasan ini. Dalam konteks tersebut, setiap kebijakan ekonomi, diplomasi, maupun militer dapat memiliki implikasi luas terhadap stabilitas Timur Tengah dan bahkan terhadap keamanan global.

*****

Posting Komentar