Bani Israil, LAFIFAN dan Ilusi Kemenangan Sejarah

Table of Contents
Penyunting: Ridwan Kara dan Sophian Kasim

Dalam Al-Qur’an, sejarah tidak pernah netral, sejarah adalah ruang ujian, tempat kekuasaan diuji oleh etika, dan kejayaan diukur oleh keadilan. Salah satu ayat yang kerap dibaca secara parsial bahkan ideologis adalah firman Allah tentang Bani Israil yang akan dikumpulkan lafÄ«fan pada “janji akhir”.

Ayat itu berbunyi: “Maka apabila janji akhir itu datang, Kami akan mendatangkan kamu lafÄ«fan.” (QS. Al-Isra: 104).

Kata lafÄ«fan diterjemahkan sebagai “bercampur-baur” atau “berombongan”. Namun dalam khazanah tafsir klasik Islam, istilah ini jauh dari makna kemenangan atau kemuliaan. Justru sebaliknya, ia mengandung peringatan keras tentang bagaimana suatu bangsa dikumpulkan bukan untuk dirayakan, melainkan untuk diuji bahkan diadili oleh sejarah.

Para mufasir seperti Ibn Katsir dan Al-Tabari menjelaskan bahwa lafÄ«fan berarti dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia, tanpa sekat, tanpa hierarki moral; yang saleh dan zalim, elite dan awam, semuanya hadir. Ini bukan pengumpulan terhormat, melainkan pengumpulan total. Dalam bahasa eskatologis Al-Qur’an, ia menyerupai hasyr penghimpunan sebelum keputusan besar.

Artinya, Al-Qur’an tidak sedang memberi legitimasi teologis atas konsolidasi politik bagi Bani Israil. Ayat ini bersifat deskriptif, bukan normatif. Ia menjelaskan apa yang akan terjadi, bukan membenarkan apa yang dilakukan.

Sayyid Qutb dalam Fi Zhilal al-Qur’an bahkan menyebut momen ini sebagai fase “konfrontasi sejarah”, ketika seluruh akumulasi tindakan moral suatu bangsa dipertontonkan sebelum datang intervensi Ilahi. Dengan kata lain, pengumpulan lafÄ«fan justru menandai titik rawan, bukan puncak kejayaan.

Dalam konteks geopolitik modern, ayat ini sering dibaca secara a-historis; seolah-olah setiap pengumpulan diaspora Yahudi adalah bukti janji Tuhan yang sahih dan final. Tafsir semacam ini berbahaya, karena mengubah teks suci menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, dua tokoh tafsir modern secara tegas menolak pembacaan seperti itu. Mereka menekankan bahwa Al-Qur’an tidak pernah membenarkan kezaliman dengan alasan sejarah atau takdir. Fakta terjadinya sesuatu tidak sama dengan pembenaran atasnya.

Di sinilah Al-Qur’an bersikap radikal; secara tegas memisahkan antara keterwujudan sejarah dan penilaian moral. Sebuah bangsa bisa saja “dikumpulkan”, kuat secara politik, bahkan unggul secara militer namun tetap berada di jalur kehancuran etik.

Fakhruddin al-Razi memberi sudut pandang yang relevan bagi dunia modern; ketika suatu bangsa mencapai konsolidasi total, wilayah, kekuasaan, identitas, maka saat itulah risiko kejatuhan justru membesar. Kesombongan kolektif, normalisasi kekerasan, dan klaim moral eksklusif menjadi tanda-tanda awal kehancuran.

Dalam kerangka ini, lafÄ«fan bukanlah klimaks kejayaan, melainkan permulaan pengadilan. Sejarah, dalam pandangan Al-Qur’an, bukan panggung selebrasi pemenang, melainkan ruang evaluasi peradaban.

Pesan ini bersifat universal yang tidak hanya ditujukan kepada Bani Israil, tetapi kepada setiap bangsa yang mengira kekuatan politik dapat menggantikan keadilan, dan kemenangan militer dapat menutupi luka kemanusiaan.

Umat mesti membaca Al-Qur’an secara bertanggung jawab, harus menolak tafsir yang menipu nurani. Ayat tentang lafÄ«fan tidak memberi tiket sakral bagi siapa pun untuk menguasai tanah, mengusir manusia lain, atau memonopoli kebenaran moral.

Sebaliknya, ayat ini mengingatkan manusia, ketika suatu bangsa telah dikumpulkan sepenuhnya secara fisik dan simbolik maka saat itulah pertanyaan sejarah akan bertanya; apakah kekuasaan itu dibangun di atas keadilan, atau di atas darah dan pengingkaran?.

Al-Qur’an tidak pernah berpihak pada pemenang. Hanya semata berpihak pada keadilan.

wallahu a'lam bissawab.

*****

Posting Komentar