Belajar Membaca Propaganda Politik Secara Kritis

Table of Contents
Oleh: Mubha Kaharmuang

Di tengah derasnya arus informasi global, masyarakat semakin sering dihadapkan pada narasi politik yang tegas, emosional, bahkan provokatif. Tidak jarang, narasi tersebut tampil dalam bentuk slogan yang mudah diingat, tetapi sulit dipahami secara utuh. Di sinilah pentingnya kemampuan membaca propaganda politik secara kritis.

Salah satu contoh yang kerap mencuat adalah slogan “matilah Amerika” atau “matilah Israel” yang dikaitkan dengan Republik Islam Iran. Sekilas, ungkapan ini tampak sebagai ekspresi kebencian ekstrem. Namun, jika ditelaah lebih dalam, maknanya tidak sesederhana itu.

Slogan tersebut berakar dari Revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Rohullah Khomeini. Revolusi ini menggulingkan rezim Shah yang didukung oleh Amerika Serikat dan menjadi titik balik pembentukan identitas politik negara Iran modern. Sejak saat itu, Iran membangun narasi sebagai negara yang menolak dominasi asing dan mengusung perlawanan terhadap kekuatan global yang dianggap menindas.

Dalam kerangka tersebut, Amerika diposisikan sebagai simbol hegemoni global (setan besar), sementara Israel dipandang sebagai perpanjangan kepentingan Barat di Timur Tengah (setan kecil). Dengan demikian, slogan keras yang sering terdengar bukan semata seruan literal, melainkan simbol ideologis yang merepresentasikan sikap politik negara.

Namun, memahami Iran hanya melalui slogan tersebut adalah bentuk penyederhanaan. Di balik retorika keras, Iran tetap berinteraksi dengan dunia internasional, termasuk melalui kesepakatan seperti Joint Comprehensive Plan of Action. Di dalam negeri pun, tidak semua masyarakat Iran sepakat dengan narasi anti-Barat. Sebagian generasi mudanya justru terbuka terhadap budaya global dan menginginkan perubahan.

Pada titik ini, terlihat bahwa slogan tersebut juga berfungsi sebagai alat politik domestik. Di bawah kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei, narasi tentang musuh eksternal membantu memperkuat kohesi internal dan menjaga legitimasi kekuasaan, terutama di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial.

Penting untuk disadari bahwa propaganda bukanlah monopoli Iran. Negara-negara demokrasi pun menggunakan pendekatan serupa, meski dengan cara yang lebih halus. Di Amerika Serikat misalnya, narasi nasional sering dibangun melalui film, media dan pendidikan yang menempatkan Amerika sebagai pembawa nilai kebaikan, kemanusiaan dan kebebasan. Sementara itu, lawan-lawan politiknya sering digambarkan sebagai ancaman terhadap stabilitas global, teroris dan sebagainya.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal berbagai slogan yang membangkitkan rasa kebangsaan, seperti “NKRI harga mati” atau seruan emosional seperti “ini dadaku, mana dadamu”. Slogan-slogan tersebut tidak selalu negatif, bahkan sering kali diperlukan untuk memperkuat solidaritas nasional, namun tetap merupakan bagian dari proses pembentukan cara pandang bersama.

Melalui pendidikan, media dan simbol nasional, identitas kolektif terus dibentuk. Narasi tentang persatuan, nasionalisme, dan ancaman terhadap negara menjadi bagian dari konstruksi tersebut. Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa, bahkan narasi yang kita anggap positif pun tetap mengandung unsur pembentukan persepsi.

Dengan demikian, propaganda hadir di hampir semua sistem politik. Perbedaannya terletak pada cara penyampaiannya; ada yang eksplisit dan konfrontatif, ada pula yang halus dan nyaris tidak disadari.

Di sinilah literasi kritis menjadi kunci. Masyarakat perlu belajar membedakan antara fakta, interpretasi, dan emosi dalam setiap informasi yang diterima. Salah satu pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah; siapa yang diuntungkan jika kita mempercayai narasi ini?

Ketika kita dihadapkan pada klaim bahwa suatu pihak sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah, maka kewaspadaan menjadi penting. Tidak ada narasi politik yang benar-benar netral; setiap narasi membawa kepentingan tertentu.

Singkatnya, penting dipahami bahwa dunia tidak terbagi secara hitam-putih. Yang ada adalah berbagai aktor dengan kepentingan dan perspektif masing-masing. Kemampuan membaca narasi secara kritis menjadi benteng agar masyarakat tidak mudah terjebak dalam arus propaganda, baik yang disampaikan secara keras maupun yang dibungkus secara halus.

Dalam era informasi saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan untuk memahami dan menyaringnya. Karena itu, membangun kesadaran kritis bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.

*****


Posting Komentar