Bisnis Ketakutan di Balik Rudal Timur Tengah

Table of Contents

Penyunting: Muzayyin Arief

Tidak sampai sepekan setelah saya meninggalkan Doha, rudal-rudal menghujani kota itu. Media internasional melaporkan ratusan rudal menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Doha Qatar, meskipun jauh hari sebelumnya Washington telah menyingkirkan sebagian besar pasukan dan peralatan militernya dari lokasi tersebut.

Dari balik layar kaca, saya menyaksikan pemberitaan tentang Doha yang berubah dari kota kosmopolitan menjadi simbol kecemasan regional. Padahal selama berada di Qatar, saya menikmati suasana kota yang tenang, masyarakatnya yang heterogen dari berbagai bangsa, bahkan sempat berbincang dengan Wakil Menteri Olahraga Qatar dalam peringatan Hari Olahraga Nasional Qatar.

Beberapa hari setelah saya kembali ke Indonesia, Qatar mendadak menjadi lautan kekhawatiran. Serangan rudal bertubi-tubi dari Iran, mengubah persepsi tentang keamanan kawasan. Saya bingung, hingga kemudian menemukan benang merahnya dalam satu konsep lama yang kini terasa semakin nyata: military-industrial complex.

Ketakutan Menjadi Komoditas

Rentetan rudal yang menghantam Timur Tengah bukan semata peristiwa militer. Tapi adalah sinyal geopolitik sekaligus ekonomi. Setiap ledakan memang membawa korban dan kehancuran, tetapi juga memproduksi komoditas paling bernilai dalam tatanan global hari ini yakni; ketakutan.

Dari ketakutan itulah industri persenjataan menuai keuntungan. Di tengah konflik yang terfragmentasi namun terus dipelihara, belanja militer global justru mencetak rekor menembus US$2,4 triliun dalam setahun terakhir. Ironisnya, lonjakan ini bukan dipicu perang dunia, melainkan rasa takut terhadap ancaman yang bahkan belum tentu datang.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran telah memperluas rasa tidak aman jauh melampaui zona tempur. Negara-negara tidak menunggu perang benar-benar pecah. Persepsi ancaman saja sudah cukup untuk mendorong peningkatan anggaran pertahanan, mempercepat pengadaan senjata, dan memperkuat sistem militer. Kecemasan tidak berhenti sebagai wacana diplomatik; namun segera diterjemahkan menjadi belanja negara, belanja senjata.

Dalam situasi eskalasi saat ini, negara-negara berlomba memperkuat pertahanan udara, radar, jet tempur, hingga amunisi presisi. Alasan resminya selalu “pertahanan nasional”. Namun dalam perspektif ekonomi politik, "ketakutan" telah dikonversi menjadi kontrak bernilai miliaran dolar. Proses pengadaan senjata dipercepat, pengawasan publik dilonggarkan, dan anggaran dilebarkan atas nama stabilitas.

Dalam bingkai seperti ini, maka perang tidak harus dimenangkan. Cukup ancamannya terus dipelihara dalam jangka panjang.

Senjata Lebih Menguntungkan daripada Minyak

Narasi lain yang kerap muncul adalah soal energi. Lonjakan harga minyak akibat konflik termasuk ancaman terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz sering dianggap sebagai keuntungan besar bagi Amerika Serikat, karena permintaan minyak ke Amerika melonjak dratis termasuk permintaan dari Indonesia. Namun keuntungan energi bersifat fluktuatif dan jangka pendek. Harga bisa melonjak, tetapi juga cepat turun ketika tensi mereda.

Sebaliknya, keuntungan industri persenjataan jauh lebih stabil dan berjangka panjang. Kontrak senjata bersifat lintas rezim, dijamin negara, dan terus diperbarui seiring munculnya ancaman baru. Dalam konteks ini, industri senjata memperoleh manfaat yang jauh lebih pasti dibandingkan sektor energi.

"Bisnis ketakutan global" ini bukan monopoli Barat. Rusia dan Tiongkok memanfaatkan juga konflik regional dan global ini, sebagai etalase teknologi militer sekaligus sarana memperluas pengaruh geopolitik. Medan konflik berubah menjadi ruang uji coba dan promosi senjata paling efektif meski dengan harga kemanusiaan yang sangat mahal. Perang modern pun berevolusi menjadi arena persaingan industri senjata global, bukan semata konflik ideologis atau pertahanan teritorial.

Peringatan yang Kini Terbukti

Lebih dari enam dekade lalu, Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower telah memperingatkan bahaya "military-industrial complex" - aliansi antara militer, industri senjata, dan kekuasaan politik. Peringatan itu kini terasa semakin relevan.

Ketika ketegangan menghasilkan keuntungan ekonomi dan pengaruh politik, perdamaian justru menjadi kondisi yang tidak insentif. Stabilitas akan menurunkan belanja militer. Sebaliknya, konflik yang “terkendali” akan meningkatkan permintaan senjata tanpa meruntuhkan sistem global. Maka tidak mengherankan jika banyak konflik tampak berlarut-larut, dibumbui dengan diplomasi yang sering datang terlambat atau setengah hati.

Rudal-rudal yang menghajar Timur Tengah hari ini, dengan demikian, bukan hanya instrumen perang, melainkan juga alat memproduksi "ketakutan". Dari ketakutan itulah industri persenjataan global baik Amerika Serikat dan sekutunya, maupun Rusia dan Tiongkok menuai keuntungan.

Selama ketakutan lebih cepat diproduksi daripada perdamaian dirundingkan, dan selama ancaman lebih menguntungkan daripada stabilitas, dunia akan terus terjebak dalam siklus lama: - perang yang tak pernah benar-benar dimenangkan, tetapi selalu berhasil dijual.

Dan dalam bisnis ketakutan global ini, umat manusia hanya menjadi konsumen sekaligus korbannya.

*****


Posting Komentar