Dogma, Doktrin, Dongeng (D3): Saat Dakwah Minim Literasi

Table of Contents
Oleh: Usman Mahmud

Dalam praktik kehidupan beragama, terdapat fenomena yang mungkin luput dari perhatian, namun diam-diam mengganggu kejernihan berpikir masyarakat. Agama sebagai ajaran yang bersumber dari wahyu ilahi mengandung nilai-nilai yang bersifat abstrak dan transenden. Karena itu, agama memerlukan proses penjabaran agar dapat dipahami secara lebih konkret oleh umat.

Dalam proses tersebut, terdapat dua lapisan utama yang selama ini menjadi fondasi penyampaian ajaran: *dogma* dan *doktrin*. Dogma merupakan kebenaran yang diterima melalui iman, sementara doktrin adalah upaya sistematis untuk menjelaskan ajaran agama agar lebih mudah dipahami dan diamalkan.

Pada tahap ini, kehidupan beragama berjalan secara proporsional. Umat menerima, memahami, lalu menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Relasi antara penceramah dan jamaah pun berlangsung dalam ruang yang edukatif.

Namun persoalan muncul ketika dakwah bergerak ke wilayah lain yang problematik yang dapat disebut sebagai D3 (dogma, doktrin, dan dongeng).

Fenomena ini tidak lahir dari konsep akademik yang mapan, tetapi nyata dalam praktik. Tidak sedikit ceramah keagamaan yang dipenuhi kisah-kisah tanpa landasan yang jelas, bahkan cenderung fantastis. Cerita tentang pengalaman supranatural, kejadian gaib, hingga narasi hiperbolik tentang pahala dan siksa, sering kali disampaikan seolah memiliki otoritas yang sama dengan ajaran pokok agama.

Yang mengkhawatirkan, justru bagian inilah yang paling mudah diingat oleh jamaah.

Sebagian penceramah mungkin melihat pendekatan ini sebagai strategi komunikasi. Cerita dianggap mampu menjaga perhatian audiens, menghidupkan suasana, dan membuat pesan lebih mudah dicerna. Dalam batas tertentu, hal ini bisa dipahami.

Namun, persoalan menjadi serius ketika dongeng menggantikan literasi, dan imajinasi mengambil alih nalar.

Dakwah yang miskin literasi cenderung bergeser dari proses pencerahan menjadi sekadar pertunjukan. Agama tidak lagi dipahami sebagai sistem nilai yang mengajak manusia berpikir dan bertindak bijaksana, melainkan direduksi menjadi kumpulan kisah yang memancing emosi, takjub, takut, atau sekadar terhibur.

Dominasi narasi mistis dan klenik dapat melemahkan tradisi berpikir kritis dalam masyarakat. Umat menjadi mudah percaya tanpa verifikasi, menerima tanpa telaah, dan mengikuti tanpa pemahaman. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi melahirkan keberagamaan yang dangkal; tampak kuat secara simbolik, tetapi rapuh secara intelektual.

Di sinilah akar persoalannya yakni lemahnya literasi keagamaan.

Padahal dalam Al-qur'an cukup tegas dalam (QS. Al-Isra’/17:36); 

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Kesadaran beragama tidak cukup dibangun melalui ceramah yang retoris, tetapi harus ditopang oleh kemampuan umat dalam memahami sumber ajaran itu sendiri. Literasi kitab suci menjadi kunci. Tanpa itu, umat akan terus bergantung pada interpretasi pihak lain yang belum tentu selalu akurat atau bertanggung jawab.

Penguatan literasi kitab suci akan membuka akses yang lebih luas bagi umat untuk memahami agama secara langsung, kritis, dan kontekstual. Dengan demikian, nilai-nilai agama tidak hanya beredar di ruang-ruang terbatas milik elite keagamaan, tetapi menyebar secara merata dalam kehidupan sosial.

Agama tidak lagi terpenjara dalam “menara gading” otoritas, melainkan hadir sebagai kesadaran kolektif yang hidup dan membumi.

Karena itu, perlu ada reorientasi dalam praktik dakwah. Dogma tetap menjadi fondasi iman, doktrin tetap berfungsi sebagai sarana penjelasan. Namun keduanya harus disampaikan dengan tanggung jawab intelektual, bukan dicampur dengan dongeng yang menyesatkan (D3).

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengembangkan sikap kritis. Tidak semua yang disampaikan dari mimbar memiliki validitas yang setara. Umat perlu belajar memilah, menguji, dan memahami bukan sekadar menerima (Taqkid Buta)

Pada akhirnya, dakwah yang berkualitas bukanlah yang paling menghibur, tetapi yang paling mencerahkan. Bukan yang paling memukau, tetapi yang paling membangun kesadaran.

Dan kesadaran itu hanya mungkin tumbuh jika agama dikembalikan pada tradisi literasi bukan sekedar narasi.

*****

Posting Komentar